Mengenal Filu, Kue Adat Etnis Lio di NTT

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Etnis Lio merupakan salah satu dari lima etnis besar di kabupaten Sikka, selain Sikka Krowe, Palue, Tana Ai dan Tidung Bajo. Masyarakat etnis Lio menetap di wilayah barat kabupaten Sikka yang meliputi kecamatan Magepanda, Paga, Mego dan Tanawawo.

Dalam budaya etnis Lio, dalam setiap perhelatan pesta, kue tradisional merupakan makanan wajib yang disuguhkan kepada tamu. Kue tersebut harus dibuat dari makanan lokal hasil kebun sendiri.

“Salah satu kue yang wajib dihidangkan, yakni Filu. Kue ini dibuat dari beras lokal hasil dari ladang,” kata Inasensia Dua Kuben, warga desa Gera kecamatan Mego, kabupaten Sikka, provinsi Nusa Tenggara Timur, Sabtu (18/1/2020).

Inosensia Dua Kuben, warga desa Gera, kecamatan Mego, kabupaten Sikka, provinsi Nusa Tenggara Timur, ditemui saat pesta, Sabtu (18/1/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Cara membuatnya, kata Inasensia, tepung beras direndam terlebih dahulu di dalam air selama sejam, lalu diangkat dan ditiriskan airnya. Setelah itu dimasukkan ke dalam lesung, lalu ditumbuk.

Setelah halus, tepung diangkat dan diayak menggunakan penyaring dan tepung yang masih belum halus ditumbuk lagi dan disaring hingga diperoleh tepung beras dengan jumlah sesuai kebutuhan.

“Sebelum dipergunakan, tepungnya dijemur dulu di sinar matahari terlebih dahulu. Gula merah dari pohon Aren ditumbuk hingga halus lalu dicampurkan dengan air,” terangnya.

Kemudian, masukkan tepung beras ke dalam cairan gula merah atau gula aren tersebut dengan dicampur sedikit gula pasir dan aduk adonan hingga merata dengan tangan, hingga merata dan sedikit kenyal.

Masukkan minyak goreng ke dalam wajan sedikit saja dan tunggu hingga panas, baru adonan dimasukkan ke dalam wajan sambil dibentuk menggunakan lidi atau kayu kecil.

“Gorengnya satu per satu, sehingga proses pembuatan lama. Besar kecilnya kue Filu disesuaikan dengan keinginan termasuk bentuknya, sehingga adonan yang dimasukkan ke wajan biasanya ditakar menggunakan sendok makan,” jelasnya.

Lukas Lura, warga desa Gera mengatakan, Filu selain dihidangkan saat pesta, juga dihidangkan saat ada kunjungan tamu atau acara-acara yang melibatkan tamu dari luar desa sebagai suguhan untuk menghormati tamu yang datang.

Lukas mengatakan, hampir di semua masyarakat etnis Lio di kabupaten Sikka, bahkan di kabupaten Ende, khusunya di perbatasan, makanan tradisional ini sampai sekarang masih dihidangkan kepada para tamu dan saat pesta termasuk pesta adat.

“Bagi kami, etnis Lio, kue ini wajib dihidangkan saat pesta untuk menyambut tamu yang datang. Filu dihidangkan dengan teh atau kopi untuk disantap bersama,” tuturnya.

Lihat juga...