Nelayan di Sikka Terpaksa Daratkan Perahu

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Angin kencang dan gelombang tinggi yang melanda kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur sejak akhir Desember lalu, menyebabkan perahu nelayan mengalami kerusakan akibat dihantam gelombang. Para nelayan di kelurahan Waioti, kecamatan Alok Timur, kota Maumere, kabupaten Sikka, pun mengaku kesulitan mencari lokasi menambatkan perahu motor mereka.

“Malam tahun baru sudah mulai angin kencang, sehingga perahu kami tarik ke darat di pantai Lokaria, desa Habi, kecamatan Kangae,” kata Fredinandus Nong, nelayan di kelurahan Waioti, kota Maumere, kabupaten Sikka, Senin (13/1/2020).

Fredinandus Nong, nelayan asal kelurahan Waioti kabupaten Sikka provinsi Nusa Tenggara Timur, saat ditemui di pantai Lokaria, Senin (13/1/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Dikatakan Fredinandus, sejak gelombang tinggi ada sekitar 3 perahu pecah, bahkan tadi malam, Minggu (12/1/2020), saat air laut pasang ada sebuah perahu nelayan berbahan fiber yang terbawa ke laut, namun untung cepat dilihat dan ditarik ke darat.

Dirinya mengaku terpaksa menarik perahu ke daratan di pantai Lokaria sejauh sekitar 5 meter dari pesisir pantai, dan setiap malam selalu mengontrol saat terjadi gelombang tinggi dan angin kencang.

“Kami terpaksa libur dahulu melaut, dan biasanya akhir Januari cuaca sudah mulai bersahabat. Biasanya Januari sampai Februari cuaca ekstrem, tapi sekarang akhir Desember sudah angin kencang dan gelombang tinggi,” ujarnya.

Fredinandus mengaku memanfaatkan waktu libur untuk memperbaiki perahu dan jaring, sambil bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga saat laut tidak bersahabat.

Ia mengaku, melaut dalam sehari minimal bisa mengantongi uang Rp300 ribu, bahkan Rp1 juta bila bernasib mujur, dan uangnya dipergunakan untuk membiayai kebutuhan rumah tangga.

“Kalau sedang musim barat, para nelayan sudah biasa libur melaut karena cuaca tidak memungkinkan. Terpaksa kami harus mencari kerjaan lain, karena tidak memiliki tabungan, karena terkadang melaut tidak mendapatkan hasil sama sekali, apalagi saat gelombang tinggi kami bisa libur hingga tiga bulan,” ungkapnya.

Nelayan Nangahaledoi, desa Waibleler, kecamatan Waigete, kabupaten Sikka, Masrulan, pun mengakui saat gelombang tinggi menjelang Januari hingga Februari semua perahu nelayan berukuran di bawah 5 Gross Ton (GT) terpaksa ditarik ke darat.

Dikatakan Masrulan, terkadang kalau tidak cepat ditarik ke daratan, perahu akan rusak terkena hempasan gelombang dan terseret.

“Kalau terlambat ditarik ke darat, saat gelombang tinggi perahu sering rusak terkena hantaman gelombang. Sering ada satu – dua perahu yang rusak setiap musim barat saat gelombang tinggi dan angin kencang,” ujarnya.

Masrulan mengaku hampir setiap musim gelombang tinggi dan angin kencang, rata-rata ada sekitar belasan perahu nelayan berukuran di bawah 5 GT yang mengalami kerusakan akibat dihempas gelombang dan terendam air  laut.

Lihat juga...