Nelayan Lamsel tak Melaut karena Cuaca Buruk

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Cuaca di perairan timur Lampung Selatan yang kurang bersahabat, membuat sejumlah nelayan tangkap memilih beristirahat.

Hasanudin, nelayan tangkap di Dusun Pegantungan, Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni, menyebut angin kencang dan gelombang tinggi menyebabkan para nelayan tidak berani melaut. Ia sendiri memilih memperbaiki bagian perahu katir dan alat tangkap pancing rawe dasar.

Hasanudin mengaku memantau kondisi cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) maritim Lampung. Sesuai kondisi perairan Selat Sunda bagian Selatan, ketinggian gelombang laut mencapai 1,25-2,5 meter, diiringi dengan kecepatan angin 4-15 knots yang berisiko tinggi terhadap perahu nelayan dan kapal tongkang.

Memperhitungkan faktor keselamatan selama di perairan, kata Hasanudin, nelayan tradisional tidak melaut sejak dua pekan ini.

Sebagian nelayan tangkap beralih mencari ikan di kanal penghubung pantai timur dan area pertambakan di Kecamatan Sragi, Lampung Selatan, selama kondisi cuaca buruk, Senin (13/1/2020). -Foto: Henk Widi

Selama ini, Hasanudin kerap mencari ikan dengan pancing rawe dasar di sekitar perairan pulau Rimau Balak, Kandang Balak dan Prajurit, untuk menghindari angin kencang.

“Selain didominasi gelombang tinggi dan angin kencang, perairan Selat Sunda kerap hujan, menyulitkan nelayan tangkap tradisional seperti saya,” ungkap Hasanudin, saat ditemui tengah memperbaiki perahu katir miliknya, Senin (13/1/2020).

Menurutnya, sejumlah nelayan yang melaut di wilayah perairan timur di dekat pulau pulau kecil kerap berburu ikan karang, seperti baronang, lape, simba dan kerapu. Selain menggunakan alat tangkap rawe dasar, ia juga memanfaatkan jaring khusus berpelampung untuk menangkap ikan pelagis jenis tongkol, selar dan tengkurungan. Semua jenis ikan hasil tangkapan dijual ke pengepul dan pemilik usaha kuliner.

Selama masa istirahat melaut, Hasanudin memperbaiki jaring dan katir perahu. Sejumlah kerusakan pada lambung kapal diperbaiki memakai dempul dan cat. Sebagai tambahan penghasilan, ia memasang perangkap bubu pada muara sungai. Hasilnya ia mendapatkan sejumlah kepiting bakau dan ikan kecil yang bisa dibuat menjadi ikan asin. Ia akan kembali melaut saat kondisi cuaca membaik.

Nelayan yang tidak melaut berimbas bahan baku ikan asin dan teri rebus berkurang.

Aminah, salah satu pekerja pembuatan ikan asin dan teri rebus mengungkapkan, pada kondisi normal bahan baku bisa mencapai 1 ton. Namun saat kondisi cuaca kurang bersahabat, pasokan bahan baku menurun hingga hanya mencapai 500 kilogram. Para para bambu yang bisa dipakai menjemur ikan asin dan teri rebus, bahkan diistirahatkan.

“Kendala produsen ikan asin dan teri rebus adalah bahan baku dan musim hujan berimbas pengeringan lebih lambat,” bebernya.

Bahan baku teri rebus dibeli dari nelayan bagan apung dan bagan congkel di perairan timur. Imbas cuaca kurang bersahabat, produksi yang menurun berlangsung hingga pekan ke dua Januari. Meski bahan baku menurun, harga ikan asin dan teri kering tidak mengalami penurunan. Harga ikan asin kering masih berkisar Rp35.000 per kilogram dan teri Rp50.000.

Di wilayah Desa Bandar Agung, istirahat melaut nelayan tradisional dimanfaatkan untuk mencari ikan di kanal. Kanal penghubung antara pantai timur yang meluap menjadi lokasi mencari ikan. Santoso, nelayan tangkap memilih mencari ikan mujair, udang galah dan udang vaname, menggunakan jala.

“Saya tidak melaut karena cuaca kurang bersahabat, namun masih bisa mencari ikan dari kanal,” beber Santoso.

Selama penghujan, ia memastikan pencarian ikan di wilayah kanal tersebut menjadi pilihan. Sebab, selama tidak melaut ia harus tetap memiliki penghasilan.

Mendapat tangkapan ikan jenis gabus, mujahir, sembilang sebagian dijual ke pengepul. Hasil penjualan ikan dari proses menjala ikan memberinya sumber pendapatan selama tidak melaut.

Lihat juga...