Paris Batalkan Pawai Tahun Baru Imlek

Pasar Huanan, Wuhan, tempat pertama kali ditemukannya virus corona jenis baru yang menyebabkan 617 orang terkena pneumonia berat dan 17 di antaranya tewas. Pasar seluas tujuh kali lapangan bola itu menjual hasil laut, unggas, ular, kelelawar, binatang ternak, dan binatang liar – Foto Ant

PARIS – Perhimpunan masyarakat China yang berbasis di Paris, Prancis, membatalkan acara pawai Tahun Baru Imlek. Hal itu dilakukan, menyusul adanya penyebaran virus corona yang mendapatkan perhatian dunia.

“Saya telah bertemu komunitas China di Paris. Mereka merasa sangat emosional dan risau, juga memutuskan untuk membatalkan pawai yang dijadwalkan berlangsung di Place de la Republique,” kata kata wali kota Paris, Anne Hidalgo, Minggu (26/1/2020).

Dengan situasi yang ada, komunitas tersebut merasa tidak pas untuk menggelar pesta. Sebelumnya, pada Sabtu (25/1/2020), kota Bordeaux di bagian barat daya Prancis, juga membatalkan pesta meriah perayaan Tahun Baru Imlek yang sudah direncanakan.

Hal itu dilakukan untuk membatasi risiko infeksi virus corona, serta menunjukkan dukungan moril untuk para korban wabah di China. Hingga hari ini, pemerintah China menyebut korban meninggal dunia akibat terinfeksi virus corona mencapai 56 orang, dengan total 1.975 orang terinfeksi.

Di Prancis tercatat, ada tiga orang terinfeksi virus corona. Semuanya merupakan warga negara China. Dua di antaranya dirawat di rumah sakit di kota Paris, sedangkan satu lainnya di Bordeaux.

Sementara itu, Paus Fransiskus memuji komitmen China untuk menanggulangi wabah virus corona. “Saya juga berdoa untuk orang-orang yang sakit karena virus yang telah menyebar ke seluruh China,” ujar Paus Fransiskus, di hadapan puluhan ribu orang di Lapangan Santo Petrus, Minggu (26/1/2020).

Paus Fransiskus berharap, Tuhan menerima mereka yang meninggal akibat virus corona ke dalam kedamaiannya. Menghibur keluarga dan memberikan kekuatan kepada China yang memerangi virus tersebut.

Hubungan antara Vatikan dan Beijing telah meningkat sejak September 2018, ketika kedua belah pihak menandatangani pakta bersejarah tentang penamaan para uskup. Umat Katolik konservatif keberatan dengan pakta itu, menuduh Vatikan menjual diri ke pemerintah komunis. (Ant)

Lihat juga...