Pemupukan Pertama Petani Lamsel Gunakan Pupuk Nonsubsidi

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Sebagian petani padi dan jagung di wilayah Lampung Selatan (Lamsel) memilih membeli pupuk nonsusbsidi untuk pemupukan tahap pertama.

Endo Kurnia, petani padi di Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan menyebut ia membeli pupuk nonsubsidi jenis Urea, NPK, Phonska dan SP-36. Pembelian dengan uang tunai menurutnya lebih cepat dibanding harus menunggu penebusan pupuk subsidi.

Ia menyebut pupuk dengan ukuran masing-masing 50 kilogram kerap dibeli dengan sistem utang. Penjualan pupuk bersubsidi dengan sistem online menurutnya membutuhkan waktu yang lebih lama. Sebab ia harus menunggu distributor menyalurkan pupuk setelah pembayaran dengan sistem online dilakukan. Untuk mempercepat pemupukan ia memilih membeli dengan sistem tunai meski harga lebih mahal.

Agus Irawan dan sang istri melakukan pemupukan tanaman jagung di Desa Bakauheni Kecamatan Bakauheni Lampung Selatan, Senin (27/1/2020). -Henk Widi

Sebelumnya Endo Kurnia membeli pupuk dari toko pupuk dengan sistem utang. Pembayaran akan dilakukan dengan sistem tempo waktu panen. Toko pupuk yang sekaligus sebagai pembeli gabah saat panen membantu dalam proses penyediaan pupuk. Namun pada masa tanam pertama (MT1) ia memiliki modal cukup untuk membeli secara tunai.

“Sistem pembelian tunai membuat saya bisa mempercepat proses pemupukan dengan campuran pupuk organik yang bagus untuk pertumbuhan tanaman padi tidak hanya mengandalkan pupuk subsidi,” terang Endo Kurnia saat ditemui di lahan sawahnya, Senin (27/1/2020).

Endo Kurnia mengaku tidak ikut dalam kelompok tani sebab hanya sebagai penggarap. Meski tidak memiliki lahan sawah ia masih tetap menggarap sawah dengan sistem bagi hasil. Diberikan garapan dengan sistem bagi hasil menurutnya tanpa harus dibebani oleh biaya sewa lahan. Ia hanya perlu mengeluarkan biaya ekstra untuk pembelian pupuk tanpa melalui kelompok sebab lahan yang digarap kurang dari satu hektare.

Menanam padi varietas IR 64 dipilih untuk mempercepat panen. Jenis padi tersebut bisa dipanen pada usia 120 hari. Penanaman padi dengan varietas yang cepat panen dipilih olehnya karena MT1 tahun lebih lambat. Pada kondisi normal MT1 seharusnya sudah bisa dimulai pada bulan Oktober namun mundur pada bulan Desember sehingga pemupukan pertama dimulai Januari ini.

“Ketersediaan pupuk sudah ada sejak Desember namun tanaman belum ditanam sehingga lebih lambat,” beber Endo Kurnia.

Suardi Biyung, petani padi di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan melakukan pencampuran pupuk untuk proses pemupukan tahap pertama dengan pupuk nonsubsidi, Senin (27/1/2020). -Henk Widi

Petani lain di Desa Pasuruan, Suardi Biyung menyebut memilih membeli pupuk nonsubsidi. Jenis pupuk yang dibeli meliputi Urea seharga Rp120.000 persak, NPK Phonska Rp140.000 persak, ZA dibeli seharga Rp120.000 persak, SP-36 dijual Rp130.000 persak. Sejumlah pupuk tersebut yang dijual dengan subsidi memiliki selisih Rp20.000 hingga Rp30.000. Harga bahkan bisa lebih mahal saat dibeli dengan sistem utang.

“Kalau ada uang tunai biasanya langsung beli pupuk subsidi namun karena modal terbatas biasanya harus utang,” beber Suardi Biyung.

Ia menyebut masih membeli pupuk nonsubsidi karena kebutuhan hanya sekitar 5 kuintal pupuk. Dalam dua kali pemupukan ia memastikan membutuhkan sebanyak 10 kuintal. Sebagai tambahan untuk pertumbuhan tanaman padi varietas Ciherang ia juga mempergunakan pupuk kandang kotoran kambing. Penambahan pupuk organik disebutnya merangsang pertumbuhan tanaman.

Petani jagung di Bakauheni, Agus Irawan menyebut memilih membeli pupuk nonsubsidi untuk tanaman jagung miliknya. Sebab proses pemupukan jagung yang dilakukan pada usia 25 hari tidak bisa ditunda. Memasuki masa tanam tahun ini ia menyebut biaya operasional cukup tinggi. Sebab selain membeli pupuk nonsubdisi dengan selisih Rp20.000 hingga Rp30.000 ia harus membeli insektisida pembasmi hama ulat grayak.

“Pembelian pupuk nonsubsidi bisa dilakukan kapan saja asal punya uang dari toko pertanian,” cetusnya.

Agus Irawan menyebut tidak ikut dalam kelompok tani karena ia menggarap lahan dengan sistem kontrak. Sebelum ditanami jagung lahan tersebut ditanami dengan sayuran gambas dan terong. Usai menanam jagung ia menyebut akan kembali menanam sayuran agar tidak sulit mencari pupuk. Sebab kebutuhan pupuk untuk sayuran dominan memakai pupuk kompos organik.

Lihat juga...