Penderita DBD di Sikka Capai 165 Orang, Dua Meninggal

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

MAUMERE — Jumlah penderita penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di kabupaten Sikka provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai angka 158 orang dimana sebagian besarnya merupakan anak-anak.

“Setiap hari pasien masuk ke ruang perawatan rumah sakit TC Hillers Maumere banyak sekali. Kami kemarin saja sempat kesulitan dapat kamar untuk anak saya,” ujar Herlina orang tua salah satu pasien DBD di RS TC Hillers Maumere, kabupaten Sikka provinsi NTT, Rabu (22/1/2020).

Herlina mengatakan, dirinya pun kaget ketika pemeriksaan darah anaknya divonis menderita demam berdarah sehingga terpaksa harus menjalani rawat inap di rumah sakit milik pemerintah kabupaten Sikka ini.

Direktur RS TC Hillers Maumere dr. Clara Y. Francis membenarkan adanya satu lagi pasien anak-anak yang meninggal di rumah sakit pemerintah daerah kabupaten Sikka ini akibat terserang penyakit demam berdarah.

Clara mengatakan, sebelumnya seorang anak bersuia 1,7 tahun asal kecamatan Talibura meninggal dunia tanggal 7 Januari sementara kemarin Selasa (21/1/2020) seorang anak berusia 2,7 tahun asal kelurahan Kota Uneng kecamatan Alok juga meningal dunia.

“Memang benar sudah dua anak meninggal dunia akibat terserang demam berdarah. Anak pertama, perempuan dan yang kedua, laki-laki. Keduanya masih Balita,” ujarnya.

Jumlah penderita DBD yang dirawat di RS TC Hillers Maumere selama bulan Januari 2020 kata Clara sebanyak 165 orang dimana dari jumlah tersebut anak-anak sebanyak 106 orang.

Sementara pasien demam berdarah dewasa sebutnya, sebanyak 59 orang yang dirawat di ruangan Flamboyan, Mawar dan Paviliun sementara anak-anak 98 dirawat di ruang Melati, ruangan khusus anak serta Paviliun 5 dan 3 masih dirawat di Intensive Care Unit (ICU).

“Total pasien yang masih dirawat hingga hari ini sebanyak 26 pasien. Kasus baru dan kasus lama masing-masing sebanyak 13 orang dimana 18 orang yang masih dirawat merupakan anak-anak,” jelasnya.

Dokter Spesialis Anak RS TC Hillers Maumere dr. Mario B. Nara, SpA, mengatakan, korban terakhir seorang anak yang berusia 2,7 tahun tersebut kematiannya disebabkan karena mengalami shock akibat pembuluh darahnya bocor.

Korban tambah Mario, juga mengalami pendarahan di dalam pencernaannya dimana saat buang air besar dan muntah terdapat darah dan dirinya tidak bisa memastikan apakah korban meninggal karena terlambat dibawa ke rumah sakit.

“Kita tidak bisa pastikan juga sebab respon setiap anak berbeda terhadap virus demam berdarah. Semua itu kembali kepada daya tahan tubuh si anak tersebut terhadap serangan penyakit,” ungkapnya.

Lihat juga...