Pengelolaan Hutan Produksi Harus Perhatikan Kelestarian Lingkungan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Pengelolaan kawasan hutan di wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) harus memperhatikan kelestarian lingkungan.

Wahyudi Kurniawan, Kepala UPT KPH XIII Rajabasa-Way Pisang-Batu Serampok menyebut wilayah di bawah KPH Lampung Selatan (Lamsel) mencapai 23.000 hektare.

Sebanyak 10.000 hektare kawasan merupakan hutan produksi yang dikelola masyarakat. Sisanya 13.000 hektare berupa hutan lindung.

Berdasarkan pemetaan di wilayah Register 1 Way Pisang yang semula hutan alami menjadi hutan produksi. Lahan seluas 7.800 hektare tersebut sebagian menjadi permukiman, lahan garapan pertanian dan kawasan pertambakan udang.

Pihak KPH menurutnya telah melakukan upaya sosialisasi kepada masyarakat agar pengelolaan hutan produksi berbasis lingkungan.

Penanaman pohon kayu, multi purpose tree species (MPTS) di kawasan hutan produksi harus terintegrasi dengan mata pencaharian masyarakat. Sebab sebagian besar hutan produksi yang dikelola masyarakat diubah menjadi lahan pertanian jagung.

Di wilayah Desa Karangsari, Gandri, Kemukus diolah warga menjadi lahan jagung. Di wilayah Desa Pematang Pasir Kecamatan Ketapang dan Bandar Agung Kecamatan Sragi menjadi lahan tambak.

“Sebagian lahan produksi yang telah dijadikan lahan pertanian, pertambakan tetap dalam pengawasan kami namun langkah persuasif kami lakukan agar masyarakat tetap bisa menghijaukan kawasan tersebut dengan penanaman pohon untuk reboisasi,” terang Wahyudi Kurniawan saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (29/1/2020).

Penanaman pohon kayu menurutnya difasilitasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Sebab melalui KLHK disediakan Persemaian Permanen (PP) di Desa Karang Sari, Kecamatan Ketapang yang dikelola oleh Balai Pengelola Daerah Aliran Sungai Way Seputih Way Sekampung (BPDAS-WSS).

Sebanyak 2 juta bibit berupa puluhan pohon kayu dan puluhan jenis pohon buah bisa diperoleh gratis.

“Masyarakat bisa datang ke persemaian meminta jenis pohon apa saja, gratis dengan mengisi formulir dan disetujui kepala desa,” papar Wahyudi Kurniawan.

Musim penghujan menurutnya menjadi kesempatan bagi warga untuk memulai menanam. Sebab tanaman produktif jenis jagung, pisang dan kelapa bisa diintegrasikan dengan pohon kayu.

Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan di kawasan hutan produksi. Di wilayah hutan produksi yang ada di pesisir timur Lamsel penanaman didominasi pohon mangrove jenis rhizopora dan api api.

Pemanfaatan kawasan pesisir yang ditanami bakau menurutnya memiliki fungsi strategis. Sebab selain digunakan sebagai penahan abrasi, lahan tambak warga bisa terhindar dari terjangan gelombang.

Sebagian hutan mangrove yang dikelola oleh warga menurutnya bisa dimanfaatkan sebagai destinasi wisata. Destinasi wisata berbasis mangrove sekaligus menjadi cara mengedukasi masyarakat pentingnya melestarikan lingkungan.

“Hutan produksi tidak hanya dikelola untuk dimanfaatkan namun bisa menjadi tempat konservasi,” tutur Wahyudi Kurniawan.

Yanto, kepala unit polisi kehutanan di Register 1 Way Pisang menyebut pelestarian hutan mangrove di hutan produksi sangat penting. Meski kawasan pesisir timur Lamsel sebagian telah diubah menjadi tambak, konservasi mutlak dilakukan.

Yanto, salah satu petugas polisi kehutanan dari KPH XIII Rajabasa-Way Pisang-Batu Serampok di hutan mangrove pesisir Kecamatan Sragi, Lampung Selatan, Rabu (29/1/2020) – Foto: Henk Widi

Kesadaran masyarakat melakukan penghijauan mangrove terus didukung dengan pembentukan kelompok tani hutan.

Kelompok tani hutan menurutnya mengembangkan bibit mangrove untuk ditanam. Sebab mangrove yang ditanam akan menjadi penahan abrasi pantai. Keberadaan mangrove di kawasan hutan produksi akan meningkatkan kualitas hasil tambak udang yang dihasilkan.

Sebab mangrove bisa digunakan untuk penyaring alami air laut sebelum dialirkan ke tambak sehingga kualitas air akan bertambah baik.

Sementara itu Kodrat Sumardi, warga yang tinggal di sekitar Register Gunung Taman dan gunung Goci menyebut sebagian lahan merupakan tanah adat. Lahan tersebut merupakan hutan produksi yang ditanami jagung dan tanaman produktif lain.

Kodrat Sumardi, kepala dusun Gunung Goci Desa Ruguk Kecamatan Ketapang Lampung Selatan memperlihatkan bambu duri yang dilestarikan oleh masyarakat sebagai penahan longsor dan menjaga kelestarian lingkungan, Rabu (29/1/2020) – Foto: Henk Widi

Berbagai jenis tanaman kayu keras menurutnya masih dipertahankan sebagai penahan longsor. Pada daerah aliran sungai Gajah Mati jenis pohon bambu duri masih dilestarikan.

“Kami melarang penebangan pohon karena berpotensi merusak resapan air meski di hutan produksi,” bebernya.

Kerusakan lingkungan akibat penebangan pohon menurutnya bisa berimbas kerusakan infrastruktur. Saat hujan lebat sejumlah ranting, batang pohon yang ditebang terseret arus air. Akibat batang pohon terseret air gorong gorong jalan di Desa Sukabaru jebol.

Penebangan pohon menurutnya selain berimbas banjir berpotensi mengakibatkan kerusakan akses jalan yang merugikan sehingga kelestarian alam di hutan produksi masih harus dijaga.

Lihat juga...