Permintaan Domestik Selamatkan Pertumbuhan Ekonomi

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani, menilai 2019 merupakan tahun yang berat bagi perekonomian global maupun nasional. Perlambatan ekonomi yang dipengaruhi oleh dinamika perang dagang dan geopolitik, penurunan harga komoditi, serta perlambatan ekonomi di banyak negara menjadi penyebabnya.

Meski demikian, Menkeu bersyukur karena Indonesia tetap berhasil menjaga pertumbuhan ekonomi hingga Desember 2019 di atas 5 persen.

“Walaupun Indonesia menghadapi situasi eksternal tersebut, perekonomian pada 2019 diperkirakan tetap dapat tumbuh di atas 5 persen,” ujarnya di Kantor Kemenkeu Jakarta, Selasa (7/1/2020).

Sri Mulyani mengungkapkan, faktor paling menentukan pertumbuhan ekonomi nasional adalah karena terjaganya permintaan domestik, konsumsi pemerintah, serta investasi.

“Kalau kita lihat dari komponen memang karena domestik, terutama untuk konsumsi, tetap bisa bertahan 3 kuartal berturut-turut tumbuh di atas 5 persen. Inflasi yang rendah juga menyebabkan daya beli masyarakat tetap terjaga. Kalau kita lihat, konsumsi pemerintah juga memberikan support untuk penurunan ekonomi ini,” kata Menkeu.

Selain itu, kinerja perekonomian yang terjaga serta pelaksanaan program pembangunan, juga telah memberi sumbangsih atas menurunnya tingkat pengangguran, mengurangi ketimpangan dan mempertahankan kesejahteraan masyarakat.

Ada pun dari sisi realisasi defisit anggaran, tahun ini ditutup Rp353 triliun atau setara dengan 2,2 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Angka tersebut tumbuh 31 persen atau Rp 119,3 triliun, dari target defisit APBN 2019, yaitu Rp 296 triliun atau 1,84 persen.

Realisasi defisit 2019 juga melebar cukup jauh jika dibandingkan realisasi defisit tahun lalu di periode yang sama, sebesar Rp269,4 triliun atau 1,82 persen dari PDB.

“Pelebaran defisit tersebut dilakukan secara terukur dengan memperhitungkan risiko dan manfaatnya, serta kredibilitas fiskal,” tukas Menkeu.

Lihat juga...