Petani di Lamsel Olah Jamur Barat Jadi Bahan Kuliner

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Saat hujan turun petani di sejumlah wilayah Lampung Selatan (Lamsel) panen jamur barat. Ramidi, warga Dusun Buring, Desa Sukabaru menyebut sejak awal penghujan ia sudah memanen sekitar 5 kuintal jamur barat atau Clitocybe nebularis. Jamur yang memiliki ciri khas seperti payung, berwarna putih itu dimanfaatkan sebagai bahan pangan.

Ramidi menyebut sejak puluhan tahun warga memanfaatkan jamur barat untuk bahan kuliner. Kerap muncul pada musim penghujan ia mengaku mendapatkan jamur barat di perkebunan yang ada di desanya. Sebagian lokasi tumbuh jamur merupakan tempat yang banyak menyimpan kayu yang ditimbun. Terlebih pada beberapa tempat usai pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) timbunan kayu menjadi lokasi tumbuh jamur barat.

Ramidi, warga Dusun Buring Desa Sukabaru Kecamatan Penengahan Lampung Selatan mengembangkan jamur barat yang banyak tumbuh saat penghujan, (20/1/2020). -Foto: Henk Widi

Jamur barat yang dipanen dari lahan perkebunan menurutnya semula hanya diolah untuk konsumsi keluarganya. Namun salah satu kerabat yang berjualan gorengan menggunakan jamur barat untuk membuat bakwan. Saat diolah menjadi bakwan goreng sebagian pelanggan memesan jamur itu untuk diolah menjadi makanan bergizi. Sebab berbagai olahan berbahan jamur menjadi alternatif sayuran.

“Awalnya hanya dikonsumsi sendiri namun banyak yang berminat untuk membeli jamur barat untuk digoreng,dioseng dengan berbagai jenis bumbu,saya menjualnya dengan sistem ombyokan dengan plastik sesuai kebutuhan,” ungkap Ramidi saat ditemui Cendana News, Senin (20/1/2020)

Bermula dari banyaknya pesanan ia mulai menjual jamur barat yang diperoleh dari alam. Meski tidak dibudidayakan ia menyebut bisa mendapatkan hasil sekitar 5 kuintal. Dijual dengan harga Rp5.000 hingga Rp10.000 ia menyebut bisa mendapatkan hasil menjanjikan. Prospek hasil panen jamur barat membuat ia berniat mulai membudidayakan jamur barat.

Meski jamur sebagian kerap beracun jika diolah tidak benar, namun ia memastikan dengan mengolah yang benar jamur justru bergizi. Ia menganjurkan mengolah jamur barat menggunakan campuran daun melinjo sebagai penawar. Ia memastikan pelanggan yang membeli jamur sudah terbiasa memasak sehingga bisa menghindari dari keracunan.

“Tidak semua jamur bisa dimakan, namun jamur barat dipastikan enak menyerupai jamur tiram,” papar Ramidi.

Jamur barat yang sudah tua disiapkan untuk mendapatkan spora untuk dikembangkan oleh Ramidi warga Dusun Buring Desa Sukabaru Kecamatan Penengahan Lampung Selatan, Senin (20/1/2020). -Foto: Henk Widi

Meski diperoleh dari alam, Ramidi menyebut jamur barat banyak dipesan oleh pembeli dari daerah lain. Bermula dari pembeli di sekitar desanya jamur barat yang sudah dikenal mulai banyak dipesan untuk campuran olahan kuliner. Beberapa olahan kuliner yang memakai jamur barat diantaranya bakwan, sayur oseng hingga dijadikan jamur crispy yang digoreng.

Dibantu sang anak, Dadang Iwan Setianto menyebut jamur barat memiliki pertumbuhan cukup cepat. Ia berencana mengembangkan jamur barat dengan teknik budidaya seperti jamur tiram. Namun penanaman dalam pot dan polybag dilakukan sebagai cara untuk mendapatkan indukan. Prospek jamur barat sebagai komoditas pertanian menurutnya bisa menjadi sumber tambahan ekonomi bagi petani.

“Jamur merupakan bahan pangan alternatif yang bisa dikembangkan karena mudah dibudidayakan, namun jenis jamur barat masih belum banyak dikembangkan,” beber Dadang Iwan Setianto.

Meski merupakan jamur liar di kebun ia menyebut upaya budidaya akan dilakukan agar jamur tersebut masih bisa dipanen. “Cara budidaya yang dilakukan oleh Dadang dan sang ayah dengan menggunakan media tanam pot dan baglog,” ujarnya.

Budidaya jamur barat menurutnya bisa dilakukan dengan memindahkan bibit dari spora yang tumbuh di kebun dan memindahkannya di pot. Dengan harga jual Rp5.000 prospek budidaya jamur cukup menguntungkan.

Lihat juga...