Petani di Sibalaya Utara Butuh Pengairan

SIGI – Petani di Desa Sibalaya Utara, Kecamatan Tanambulava, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, mengharapkan irigasi segera berfungsi dan mengairi lahan-lahan pertanian mereka, setelah setahun lebih bencana gempa dan likuefaksi.

“Kami sempat gagal panen karena kesulitan air untuk menunjang kegiatan bercocok tanam,” ucap Anggota Kelompok Tani Sibalaya Utara, Ahmad M, yang juga Kepala Dusun I Desa Sibalaya Utara, Sabtu (25/1/2020).

Di lapangan irigasi yang saat ini sudah berfungsi, perlahan-lahan baru mengairi lahan pertanian di Kecamatan Gumbasa, dan sebagian di Tanambulava, namun air irigasi belum masuk ke Sibalaya Utara.

Karena itu, Kelompok Tani Sibalaya Utara yang beranggotakan 10 petani dengan luas lahan pertanian 10 hektare, mengharapkan irigasi segera berfungsi untuk mengairi lahan pertanian di desa itu.

“Faktor panas juga membuat petani makin sulit dapat air. Ada alkon, namun sangat tinggi biaya operasionalnya, karena satu alkon butuh lima liter bahan bakar (pertalite) per hari dengan biaya Rp10 ribu (harga eceran),” ujar Ahmad M.

Petani tidak memiliki modal operasional yang besar untuk menggunakan alkon menarik air dari sumur yang kedalamannya mencapai 10 meter untuk Desa Sibalaya Utara.

Hal itu yang menjadi kendala bagi petani menggarap lahan pertanian. Olehnya, kata dia, operasional pertanian dengan menggunakan alkon agar bisa mendapat air, perlu diperhatikan oleh pemerintah.

Ia mengakui, bahwa karena tidak memiliki biaya operasional, kemudian ditambah dengan faktor cuaca sangat panas, serta belum berfungsinya irigasi, membuat dirinya dua kali berturut-turut gagal panen jagung pada Agustus 2019. Kemudian, ia kembali menanam jagung, namun hingga saat ini juga tidak bisa dipanen dengan maksimal.

“Saya sudah mengeluarkan biaya operasional kurang lebih Rp2.950.000, namun tidak membuah hasil yang maksimal,” ungkapnya.

Dia menambahkan, petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Sibalaya Utara, masih membutuhkan bantuan dari pemerintah, utamanya bantu menyediakan air di sektor pertanian.

Sebelumnya, Bupati Sigi, Mohammad Irwan Lapatta, mengemukakan sekitar 1.500 sampai 2.000 lahan pertanian sudah diairi dari irgasi.

Bupati menjelaskan, sesuai target dari Pemerintah Pusat lewat Kementerian PUPR, bahwa air irigasi akan berfungsi optimal dan mengairi lahan pertanian secara maksimal pada 2022, meliputi Sigi dan Kota Palu.

“Pekerjaan irigasi oleh Pemerintah Pusat ditargetkan rampung total sekitar 2021, dan akan berfungsi maksimal pada 2022,” urainya. (Ant)

Lihat juga...