PHRI Lebih Suka Sebut ‘Halal Tourism’ sebagai ‘Moslem Friendly’

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia atau PHRI, sangat mendukung pemerintah dalam mengembangkan destinasi pariwisata halal (halal tourism). Meski demikian, PHRI menekankan konsep wisata halal perlu dikomunikasikan dengan baik dan benar, sehingga tidak menimbulkan kesan ekslusif.

“Teman-teman di luar negeri banyak yang bertanya ke kami, di Lombok (wisata halal) itu hanya untuk muslim saja. Apakah masih boleh berenang di pantai? Tentu, kan nggak begitu maksudnya,” ujar Wakil Ketua Umum Bidang Promosi dan Pemasaran PHRI, Budi Tirtawisata, di Jakarta, Jumat (17/1/2020).

PHRI sendiri lebih suka menyebut destinasi wisata halal sebagai moslem friendly. Sebab bagi PHRI, yang halal bukan destinasinya, melainkan proses penyediaan destinasi.

“Jadi, intinya di sana diakomodasi dan dihormati kebutuhan wisatawan muslim, maka disebut moslem friendly. Tapi destinyasinya bukan untuk masyarakat muslim saja, tapi terbuka bagi siapa saja,” terang Budi.

Sementara itu di tempat yang sama, Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagio, mengungkapkan industri pariwisata merupakan sumber pendapatan negara yang termudah dan terbesar.

Meski demikian, Agus menilai industri pariwisata belum mudah dan belum besar bagi Indonesia. Pasalnya, sinergitas di antara pemangku kepentingan di sektor tersebut tidak terjalin dengan baik.

“Kita ini masih sporadis. Ini bagus bikin, itu bagus bikin. Akhirnya malah jadi kumuh. Harusnya semua direncanakan dan dikoordinasikan dengan baik, mulai dari infrastrukturnya, masyarakatnya, destinasinya, atraksinya. Ini perlu sinergi pusat, daerah dan swasta,” papar Agus.

Lihat juga...