Polda Sumbar Amankan 157 Botol Merkuri

Editor: Makmun Hidayat

PADANG — Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Kepolisian Daerah Sumatera Barat berhasil menangkap dua pelaku penjual bahan berbahaya jenis merkuri.  Barang bukti 157 botol merkuri dengan berat masing-masing  1 kilogram turut diamankan.

Kasubdit 4 Tipidter Ditreskrimsus Polda Sumatera Barat, AKBP Iwan Ariyadi, mengatakan, barang bukti yang diamankan dari kedua palaku merupakan bahah berbahaya yang ilegal, karena kegiatan jual beli merkuri tersebut tidak memiliki Surat Izin Usaha Perdagangan Bahan Berbahaya (SIUP-B2).

Ia menjelaskan kedua pelaku ditangkap Ditreskrimsus ditempat yang berbeda. Untuk pelaku pertama ZR (inisial) ditangkap di Jorong Tanjung Salilok Kenagarian Sikabau, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya. Di tangan ZR Ditreskrimsus mendapatkan 75 botol berisikan bahan berbahaya jenis air raksa atau merkuri dengan merk Mercury/HG Special For Gold 99.999 persen dengan masing-masing botol 1 kilogram.

“ZR kita tangkap pada Kamis 9 Januari lalu di Tanjung Salilok. Pelaku merupakan warga Sumatera Barat. Tertangkap tangannya ZR setelah Ditreskrimsus menerima laporan dari masyarakat tentang adanya kegiatan memperjualbelikan bahan berbahaya merkuri tanpa memiliki SIUP-B2,” katanya, dalam jumpa pers di Mapolda Sumatera Barat, Kamis (16/1/2020).

ZR ditangkap di rumahnya yang berada di Jorong Tanjung Salilok Kenagarian Sikabau, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya. Di rumahnya itu lah Ditreskrimsus mendapatkan 75 botol merkuri yang siap dijual.

Selain di Kabupaten Dharmasraya, Ditreskrimsus juga melakukan penangkapan kepada RM (inisial) yang masih merupakan pelaku penjual merkuri tanpa SIUP-B2, tepatnya di Jalan Raya Adinegoro Simpang Kalumpang, Kecamatan Koto Tangah, Padang, pukul 17.15 Wib pada Rabu 15 Januari 2020 kemarin, yang ketika itu pelaku tengah mengendarai mobil Daihatsu Feroza warna hijau.

Ia menjelaskan adanya penangkapap pelaku saat melintasi jalan raya di Kota Padang, ada informasi dari masyarakat terkait ciri-ciri kendaraan yang digunakan pelaku yang membawa merkuri. Setelah memastikan ciri-ciri kendaraan, Ditreskrimsus melakukan pencegatan di jalan sembari menanyakan surat-sura kendaraan. Alhasilnya di bagian belakang mobil itu, ditemukan merkuri yang disimpan di dalam kardus.

“Jadi tim kita menemukan ada sebuah kardus di mobil itu. Nah setelah dibuka kardus yang dibaluti lakban warna kuning, yang diletakan dibagian bangku belakang mobilnya. Kita buka, ternyata ada 82 botol merkuri,” ujarnya.

Untuk pelaku RM, bukan merupakan warga Kota Padang, melainkan warga yang tinggal di Korong Pasar Pauh Kembar, Kenagarian Pauh Kambar, Kecamatan Nan Sabaris, Kabupaten Padang Pariaman. Kini kedua pelaku ditahan di Polda Sumatera Barat, gunakan melakukan proses hukum lebih lanjut.

“Dari kedua pelaku itu kita berhasil mengamankan 157 botol merkuri dengan berat masing-masing botol 1 kilogram. Harga untuk 1 botolnya itu mencapai Rp1,5 juta,” ungkapnya.

Iwan menduga merkuri yang diedarkan secara ilegal di wilayah Sumatera Barat ini diperuntukan bagi penambang emas ilegal. Cara menggunakan merkuri memang sudah lama diketahui di kawasan tambang ilegal. Dengan adanya penangkapan pelaku penjual merkuri itu, Polda Sumatera Barat turut menyelematkan lingkungan Sumatera Barat, dari kerusakan alam akibat aktifitas tambang ilegal yang menggunakan bahan berbahaya merkuri.

Di kesempatan itu, Kepala Bidang Humas Polda Sumatera Barat, Kombes Pol Stefanus Satake Bayu Setianto, mengatakan, ratusan botol merkuri yang siap edar itu jika tidak diamankan oleh Polda Sumatera Barat, dapat membahayakan dan merugikan banyak pihak. Untuk itu, penindakan terhadap penjual merkuri yang secara ilega ini, turut meminimalisir aktiftias penambang ilegal di Sumatera Barat.

“Sesuai arahan Kapolda Sumatera Barat, segala bentuk kegiatan ilegal mining harus ditindak,” tegasnya.

Apalagi dari hasil pengakuan tersangka, bahwa merkuri yang diamankan itu diperjualbelikan kepada penambang. Karena dengan cara menggunakan merkuri, akan dapat melihat potensi sebuah tanah, ada atau tidaknya emas yang bisa diambil secara aktiitas ilegal.

Akibat perbuatan kedua palaku ini, pasal yang disangkakan Pasal 104 dan atau pasal 106 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Perdagangan dan atau pasal 62 ayat (1) juncto pasal 8 ayat (1) huruf a, huruf 1 dan huruf j Undang-Undang Nomor 8 tahu 1999 tentang Perlindungan Konsumen juncto Peranturan Menteri Perdagangan Nomor: 75/M-DAG/PER-10/2014 sebagai perubahan kedua atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor: 44/M-DAG/PER/9/2009 tentang pengadaan, distribusi, dan pengawasan bahan berbahaya.

Lihat juga...