Presiden Soeharto (3): Melucuti Jepang dan Menghadang Belanda

Presiden Soeharto (3) : Melucuti Tentara Jepang dan Menghadang Masuk Sekutu

Berita proklamasi 17 Agustus 1945 yang didapat Soeharto muda melalui koran Matahari terbitan Yogya pada tanggal 19 Agustus 1945, merupakan panggilan jiwa untuk mendedikasikan dirinya dalam pengabdian kebangsaan.

Presiden Soeharto (1): Masa Kecil

Berita itu menjadi tonggak awal bagi Soeharto muda untuk secara formal terlibat dalam menentukan jatuh bangunnya Republik Indonesia pada waktu-waktu berikutnya.

Koran itu memberitakan telah diproklamasikannya Negara Republik Indonesia, penetapan Undang-Undang Dasar 1945 dan terpilihnya Bung Karno dan Bung Hatta sebagai Presiden dan wakil Presiden.

Presiden Soeharto (2): Memasuki Pendidikan Militer

Koran itu juga memberitakan seruan Sultan Hamengku Buwono IX agar rakyat Indonesia, tanpa terkecuali harus bersedia dan sanggup mengorbankan kepentingan masing-masing, untuk mendedikasikan dirinya dalam menjaga, memelihara dan membela kemerdekaan nusa dan bangsa.

Atas perkembangan situasi itu, Soeharto muda kemudian berinisiatif mengumpulkan teman-temannya bekas tentara PETA. Pertama-tama ia menemui Oni Sastroatmojo, seorang Komandan Kompi Polisi Istimewa, untuk bersama-sama mengumpulkan bekas-bekas Chudancho dan Shodancho.

Ia kemudian membentuk BKR atau Badan Keamanan Rakyat di daerah Sentul dan terpilih sebagai wakil ketua. Umar Slamet, seorang teman dekatnya menjadi ketua.

Inisiatif Soeharto muda ini seiring seruan Presiden Soekarno, agar bekas PETA, Heiho, Keigun, KNIL dan para pemuda, untuk mendirikan BKR-BKR di daerahnya masing-masing.

Posisi sebagai wakil ketua BKR merupakan “tangga pertama pada zaman baru” yang akan menaikkan Soeharto muda pada “tangga-tangga perjuangan pada tahap selanjutnya”.

Pada tanggal 7 Oktober 1945, tepatnya jam 10.30, Soeharto muda berhasil memimpin pasukannya turut serta menaklukkan markas tentara Jepang di Kotabaru. Pada saat itu usia Pak Harto masih 24 tahun dan harus mengambil beban tanggung jawab kepemimpinan pasukannya karena komandan sedang menjalani tugas dalam perjalanan dari Yogyakarta ke Madiun.

Selanjutnya Soeharto muda memimpin pasukannya dalam “Pertempuran Lima Hari” di front Pandeanlamper Semarang. Prestasi kemiliterannya terus berlanjut dengan turut serta menaklukkan tentara Jepang di lapangan terbang Maguwo.

Pertempuran-pertempuran itu selain merupakan pengambilalihan kendali Militer Jepang yang sudah kalah dalam Perang Dunia II atas wilayah Republik Indonesia, juga merupakan konsolidasi kekuatan persenjataan BKR.

Pasukan Soeharto muda dalam pertempuran di Maguwo itu dapat merebut beberapa buah pesawat yang kelak menjadi modal dalam pembentukan Angkatan Udara Republik Indonesia.

Selain perlucutan senjata tentara Jepang, Soeharto muda juga turut serta memukul mundur majunya pasukan sekutu dari Magelang menuju Ambarawa. Ia memimpin Batalyon X (sepuluh) dari sektor Yogyakarta dengan kekuatan empat kompi. Pasukannya menusuk Ambarawa melalui Banyubiru dalam satu rangkaian pertempuran “Palagan Ambarawa” yang bersejarah.

Pertempuran Palagan Ambarawa itu sendiri dipimpin langsung Kolonel Sudirman yang kala itu hendak dilantik sebagai Panglima Besar TKR atau Tentara Keamanan Rakyat, dengan strategi “supit udang”.

Pasukan Soeharto muda diberi tugas menduduki Banyubiru untuk pengamanan lambung pasukan induk pejuang yang memasuki Ambarawa.

Setelah Maghrib Soeharto muda masuk Banyubiru dan memukul mundur kekuatan Sekutu menuju Ambarawa. Soeharto muda kemudian menempatkan pasukan yang baru menang itu jauh di garis depan pertempuran.

Penempatan pasukan itu menunjukkan kejeniusan strategi perang komandan muda, Soeharto Muda, untuk mengelabuhi serangan balik pasukan sekutu yang lebih lengkap dalam teknologi persenjataan modern.

Malam harinya, semalam suntuk Banyubiru dihujani keganasan meriam sekutu. Banyak pihak menyangka pasukan Soeharto muda sudah hancur tercerai berai dengan bombardir sekutu itu.

Namun pasukan Soeharto muda terlindung dan aman-aman saja, karena berada dalam zona yang jauh di depan garis pertempuran.

Sementara itu Banyubiru tetap tertutup bagi sekutu dalam menusuk lambung pasukan induk pejuang RI. Pasukan Soeharto muda yang selamat dari bombardir sekutu, menghalanginya.

Keberhasilan Soeharto muda di berbagai front pertempuran ini mengundang apresiasi para petinggi TKR, seperti Kolonel Gatot Soebroto dan Kolonel Soedirman. Prestasi ini kelak mengantarkan Soeharto muda diangkat sebagai Komandan Brigade X Ibukota Yogyakarta, dengan pangkat Letkol, dalam struktur TNI, yang baru direorganisasi, oleh Jenderal Soedirman.

(Bersambung)

Lihat juga...