Produksi Jagung Dipastikan Turun Imbas Hama Ulat Grayak

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Sejumlah petani jagung di wilayah Lampung Selatan (Lamsel) dipastikan mengalami kerugian akibat hama ulat grayak (Spodoptera exigua).

Gilang, petani penanam jagung di Dusun Gunung Goci, Desa Sumur, Kecamatan Ketapang menyebut hama ulat pemangsa daun dan batang tersebut mengakibatkan pertumbuhan tanaman terhambat.

Gilang, petani jagung varietas pioner di perbukitan Dusun Gunung Goci Desa Sumur Kecamatan Ketapang Lampung Selatan, Selasa (14/1/2020). -Foto: Henk Widi

Dia menyebut, pada lahan satu hektare dengan varietas pioner menanam sekitar tiga kampil atau sekitar 15 kilogram. Memasuki usia satu bulan  tanaman jagung miliknya mengalami serangan hama ulat grayak. Serangan ulat grayak mulai terjadi sejak tanaman usia dua pekan. Hama ulat grayak mencapai 80 persen sehingga potensi gagal panen cukup besar.

Gilang mengatakan, pada kondisi normal ia bisa mendapat hasil sekitar 400 karung. Namun akibat hama ulat grayak hasil panen sekitar 100 karung sudah cukup menguntungkan. Sebab ulat grayak menyerang bagian daun dan batang yang berpengaruh pada produktivitas tanaman.

Upaya pengurangan hama ulat grayak dilakukan dengan bahan aktif emamektin benzoat.

“Racun kontak dari pestisida jenis murtieur digunakan untuk meminimalisir serangan hama ulat grayak masih kami usahakan agar sebagian tanaman yang masih normal masih bisa berproduksi,” ungkap Gilang saat ditemui Cendana News saat ditemui tengah menyemprot tanaman jagung miliknya, Selasa (14/1/2020).

Harapan pada tanaman yang masih tersisa diakuinya menghindari kerugian lebih banyak. Sebab sebagian petani yang memiliki tanaman jagung memilih menjualnya ke pemilik ternak sapi. Akses jalan yang sulit untuk pendistribusian hasil tanaman membuat ia tidak menjual tanaman jagung. Sebagian tanaman yang masih bertahan menurutnya merupakan bibit sulaman yang telah diberi pestisida khusus.

Ulat grayak atau Spodoptera exigua yang menyerang tanaman jagung milik petani di wilayah Lampung Selatan, Selasa (14/1/2020). -Foto: Henk Widi

Safrudin, petani lain yang menanam jagung mengaku membasmi hama ulat grayak dengan pestisida kontak. Upaya meminimalisir hama ulat grayak dilakukan dengan cara kimia. Penanggulangan hama ulat grayak dilakukan melalui penyemprotan rutin pada pagi dan sore hari. Penyemprotan secara berbarengan dengan petani lain bertujuan agar bisa meminimalisir serangan.

“Serangan sudah sangat parah sejak satu bulan terakhir sangat merugikan petani dan berimbas kerugian pada petani,” ungkap Safrudin.

Safrudin menyebut serangan hama ulat grayak mengakibatkan biaya operasional membengkak. Sebab selain mengeluarkan biaya untuk pupuk, obat pestisida dan herbisida untuk mengurangi gulma rumput. Biaya operasional tersebut menurutnya akan membengkak saat musim hujan karena pertumbuhan gulma rumput semakin cepat.

Dewo, petani di Dusun Setia Darma Desa Sumur menyebut masa tanam awal tahun jadi masa tersulit petani jagung. Sebab saat ini hama ulat grayak menyerang tanaman berimbas pertumbuhan mengalami hambatan. Berbagai upaya telah dilakukan dengan penyemprotan serempak bersama petani lain. Namun hama ulat grayak yang berasal dari kupu-kupu bisa menyebar dengan cepat.

Kerugian akibat hama ulat grayak menurut Dewo dipastikan mencapai jutaan rupiah. Kerugian tersebut berasal dari biaya operasional, pembelian bibit, pupuk dan obat pembasmi hama dan gulma. Serangan hama ulat grayak menurutnya berimbas merugikan petani jagung. Sebab pada lahan seluas satu hektare ia memprediksi hanya seperempat hektare tanaman jagung yang bisa bertahan hingga masa pembungaan.

Lihat juga...