Puskesmas Penengahan Gencar Sosialisasi Deteksi Dini PTM

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Puskesmas rawat inap Penengahan, Lampung Selatan, menggencarkan upaya pencegahan penyakit tidak menular (PTM). Melibatkan semua unsur yang ada, upaya itu dilakukan rutin melalui berbagai kegiatan, seperti senam dan pemeriksaan kesehatan.

Bidan Emalia, S.Km., Pelaksana Program Promosi Kesehatan (Promkes) setempat, menyebut deteksi dini faktor risiko PTM dilakukan dengan berbagai langkah. Di antaranya dengan mengaktifkan pos binaan terpadu (Posbindu) PTM, yang dilakukan melibatkan unsur bidan desa, sekolah, pemuda, kelompok lanjut usia dan pemerintah desa.

Emalia menyebut, Posbindu PTM menjadi upaya peran serta masyarakat dalam kegiatan deteksi dini, pemantauan faktor risiko PTM secara terpadu, periodik dan rutin.

Bidan Emalia,S.Km., Pelaksana Program Promosi Kesehatan UPT Dinas Kesehatan Puskesmas Rawat Inap Penengahan, saat ditemui Cendana News, Jumat (10/1/2020). -Foto: Henk Widi

“Kegiatan tersebut menjadi bagian Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) yang menjadi sasaran Puskesmas rawat inap Penengahan. Kesadaran masyarakat untuk menghindari risiko PTM, mulai meningkat dengan adanya Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas),” kata Emalia, saat ditemui Jumat (10/1/2020).

Menurutnya, sejumlah PTM yang saat ini muncul dan menjadi masalah kesehatan cukup kompleks. Sejumlah penyakit tidak menular yang dikenal masyarakat, di antaranya darah tinggi (hipertensi), gula darah tinggi (Diabetes Melitus), asam urat, jantung, kanker dan sejumlah penyakit lain. Sejumlah penyakit tersebut tidak ditularkan, namun muncul akibat pola hidup tidak sehat, termasuk asupan makanan yang kurang terjaga menyesuaikan usia.

“Sosialisasi telah dilakukan melalui Posyandu, kegiatan Germas dan melibatkan instruktur senam, sekolah dan desa, agar informasi potensi risiko PTM bisa disampaikan, dicegah dengan berbagai kegiatan untuk meningkatkan kesehatan fisik,” ungkap Emalia.

Kegiatan Posbindu PTM, menurut Emalia melibatkan peran serta masyarakat untuk pencegahan dan penemuan dini faktor risiko yang ada. Posbindu bisa dilakukan dalam sejumlah kegiatan. Tidak hanya Posyandu, melainkan pada kegiatan arisan ibu-ibu, pengajian dan sejumlah kegiatan kemasyarakatan. Dengan sosialisasi yang lebih mudah diterima masyarakat, akan menjadikan Posbindu efektif mencegah PTM.

Ia mengatakan, sasaran Posbindu deteksi dini risiko PTM adalah masyarakat di segala usia. Terbagi dalam 22 desa di kecamatan Penengahan, Emalia memastikan koordinasi telah dilakukan dengan para kepala desa dan bidan desa. Sejumlah organisasi kepemudaan, sekolah yang dilibatkan dalam pencegahan PTM didukung melalui sejumlah kegiatan olah raga.

“Dukungan positif dari aparatur desa terlihat dengan banyaknya fasilitas lapangan olah raga, untuk peningkatan aktivitas fisik masyarakat,” tuturnya.

Sejumlah sekolah disebutnya juga rutin melakukan kegiatan senam bersama klub jantung sehat (KJS). Senam menjadi salah satu alternatif untuk kegiatan olah fisik yang bisa berfungsi meningkatkan kesehatan.

Posbindu, menurutnya bisa terintegasi dengan posyandu lansia, posyandu anak dan sejumlah kegiatan germas. Sejumlah desa, sekolah yang menggelar acara senam bersama bisa berkoordinasi dengan Puskesmas, agar bisa disiapkan tenaga kesehatan dalam pemeriksaan fisik, seperti tensi, kadar gula dalam darah dan pemeriksaan lain.

“Setelah kegiatan di sekolah dan desa, yang kerap dilakukan pada Jumat, pemeriksaan kesehatan dan sosialisasi PTM bisa dilakukan,” beber Emalia.

Keberadaan Posbindu PTM, disinergikan dengan kegiatan sosial kemasyarakatan. Sebab, dinamika kegiatan masyarakat yang sebagian jauh dari Puskesmas masih kurang kesadaran dalam pencegahan PTM. Peran aktif masyarakat dan sejumlah kader Posyandu dan kesehatan, menurutnya sangat dibutuhkan.

Sumardi, warga Desa Kelaten, menyebut Posbindu PTM diintegrasikan dengan kegiatan Posyandu lansia. Sebanyak 40 lansia di wilayah Kelaten dan Pasuruan yang aktif melakukan senam lansia mendapat pendampingan dari Puskesmas Penengahan. Setiap pekan, ia dan lansia lain mengikuti kegiatan senam di sekolah dan Puskesmas.

“Selama ini, kami ikut kegiatan senam di sekolah rutin setiap Jumat bersama anak-anak, karena sebagian merupakan wali murid siswa sekolah,” bebernya.

Sumardi menyebut, selain kegiatan olah fisik, para lansia kerap mendapat asupan makanan sehat, yang disediakan Puskesmas. Tambahan buah segar yang telah disiapkan sekaligus menjadi contoh dalam penyiapan makanan dalam keluarga. Sebab, pola makan dan pola hidup sehat selalu ditekankan dalam Posbindu PTM.

Topan Hariyono, kepala SDN 1 Pasuruan, menyebut Promkes dengan kegiatan di sejumlah sekolah, sangat positif. Petugas Puskesmas memiliki jadwal kunjungan ke sekolah untuk pemeriksaan kepada siswa. Pada Jumat, secara rutin ia memastikan kegiatan senam bersama orang tua, wali murid dan guru menjadi program Posbindu PTM.

Germas melalui senam bersama klub jantung sehat (KJS), juga menjadi upaya meningkatkan hidup sehat. Kerja sama dengan KJS dan Puskesmas dilakukan dengan pemeriksaan kesehatan dan sosialisasi pencegahan PTM.

“Selain itu, datangnya musim penghujan sekaligus menjadi sarana sosialisasi menjaga kesehatan fisik, agar tidak rentan penyakit. Pencegahan risiko dini PTM juga didukung sekolah dengan menciptakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR),” pungkasnya.

Lihat juga...