Sanggar Geumala Nanggroe Gelorakan Tarian Aceh di TMII

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Gerakan menghentak para penari begitu kompak dengan iringan syair-syair keagamaan yang diiringi alat musik rapa’i.

Gerakan tangan  bergerak ke atas dan ke bawah, serta sesekali kepala juga bergerak ke kanan dan ke kiri. Gerakan tubuh penari belia ini begitu semarak dan memukau.

Mereka adalah peserta tari Sanggar Geumala Nanggroe Diklat Seni Anjungan Aceh Taman Mini Indonesia (TMII), yang sedang berlatih tari Ratoh Jaroe.

Pelatih Sanggar Geumala Nanggroe, M. Fauzan mengatakan, Ratoh Jaroe merupakan tari tradisional khas Aceh. Tarian ini juga sering disebut dengan tari Saman.

Pelatih tari Sanggar Geumala Nanggroe, M. Fauzan saat ditemui di panggung Anjungan Aceh TMII, Jakarta, Minggu (12/1/2020). Foto: Sri Sugiarti

Meskipun ada kemiripan, tapi kedua tarian ini sebenarnya sangat berbeda. Memang baik gerakan badan dan tangannya mirip, tapi jika diperhatikan akan tampak jelas perbedaannya.

Pada tari saman, gerakan badannya lebih menonjol. Sedangkan tari Ratoh Jaroe dominan dengan gerakan tangan yang digabung dengan gerakan badan.

Tari Saman dibawakan oleh penari laki-laki dengan jumlah ganjil. Tari Saman, gerakan badan lebih menonjol. Sedangkan tari Ratoh Jaroe  dibawakan perempuan dengan jumlah genap.

Dalam gerak tarinya lebih dominan dengan gerakan tangan yang digabungkan gerakan tubuh seirama iringan musik tradisional Aceh yaitu Rapa’i.

“Tari Ratoh Jaroe diciptakan dari gerakan tari tradisional lainnya yang sudah ada di Aceh. Nah, ditata satu per satu dengan iringan musik Rapa’i,” kata Fauzan kepada Cendana News ditemui usai melatih di Anjungan Aceh TMII, Jakarta, Minggu (12/1/2020).

Lebih lanjut dijelaskan, tarian Ratoh Jaroe ini membawakan gerakan dalam posisi duduk, dari tempo pelan hingga cepat.

Tarian ini sudah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya Internasional, sejak 2011, ditarikan dengan kompak oleh para penari.

Para penari biasanya menari sambil mendendangkan lagu dan menepuk-nepuk dada, menjentikkan jari sambil menggeleng-gelengkan kepala, dengan posisi duduk, sesekali berdiri di atas lutut mereka, kemudian sesekali juga membungkukkan badan.

Setiap penari akan menarikan gerakan yang sama. Sehingga membutuhkan waktu agar dapat terlihat kompak. “Tarian ini disajikan dengan hentakan gerakan tangan dan tubuh dalam iringan Rapa’i. Mereka harus kompak dalam setiap gerakannya,” ujar pria kelahiran 45 tahun ini.

Musik rapa’i dan syair lagu yang dinyanyikan pelantun dalam bahasa Aceh menghiasi setiap gerakan tari. Biasanya, semua penari juga ikut menyanyikan syair itu seirima gerakan tangan dan tubuhnya.

Dia menjelaskan, tari Ratoh Jaoe ini sangat populer dan telah menghiasi perhelatan Asian Games 2018. Tarian ini dikembangkan oleh Yusri Saleh atau lebih dikenal Dek Gam, pada tahun 2000.

Tari Ratoh Jaroe merupakan tarian “pendatang baru” di Aceh dan belum menjadi tari tradisional.

Dengan membawa alat musik rapa’i, Dek Gam memilih hijrah ke Jakarta dengan tujuan mencari nafkah, lalu mengembangkan tarian ini.

“Gerakan Ratoh Jaroe diangkat dari berbagai tarian yang ada di Aceh. Seperti Ratep Meuseukat, Likok Pulo, Rapai Geleng, dan tari asal Aceh lainnya. Hingga tarian ini terkenal di Jakarta tahun 2004, dan tenar di tahun 2010,” jelas Fauzan.

Dalam syair dan gerakan, tarian ini bermakna kehidupan. Dimana Ratoh berasal dari Bahasa Arab, yang artinya melakukan pujian kepada Allah SWT melalui doa yang dinyanyikan.

Sedangkan Jaroe, yakni berarti tangan. Sehingga Ratoh Jaroe memiliki arti memuji Allah SWT sambil bernyanyi, dengan memainkan tangan.

Dalam syair dilantunkan seperti misalnya Lale lale getano lale, hana jantate umuka tua, putih ngajanggot kuningan mise, hatomta combo tikamu sala, putih ngajanggot kuningan mise, hatomta combe tikamu sala.

Syair ini jelas Fauzan, mengandung filosofi keagamaan yang hakiki untuk mengingatkan kita sebagai makhluk ciptaan Allah SWT, mesti ingat akan hari akherat.

“Syair lagu Lale yang mengiringi tari Ratoh Jaroe ini, mengingatkan manusia dalam sisi duniawi. Begitu lalai mereka tidak sadar usia berjalan sampai saat kumis sudah kuning dan putih. Tapi di usia itu tidak tahu bagaimana harumnya sajadah. Ini berkisah lalainya orang yang tidak mengingat akherat,” jelasnya.

Selain melatih menari, Fauzan juga selalu menjelaskan makna atau filosofi yang terkandung dalam tarian khas Aceh kepada peserta sanggar.

“Makna lagu Lale, saya jelaskan kepada mereka. Tujuannya agar mereka paham nilai-nilai agama,” imbuhnya.

Kembali dia menjelaskan, tari Ratoh Jaroe membangkitkan semangat para perempuan Aceh. Ini digambarkan dalam setiap gerakan seirama dengan teriakam yang meledak-ledak merupakan ekspresi semangat mereka.

Selain tari Ratoh Jaroe, Fauzan juga melatih tari Ratoh Pukat, tari persembahan dan lainnya. Dalam setiap gerakan, juga dijelaskan nilai-nilai budaya Aceh yang terkandung dalam tarian itu.

Peserta sanggar Geumala Nanggroe sedang latihan tari Ratoh Pukat dengan iringan alat musik rapa’i di panggung Anjungan Aceh TMII, Jakarta, Minggu (12/1/2020). Foto: Sri Sugiarti

Menurutnya, tarian tradisional Aceh bersifat edukatif dan menghibur. Apalagi tarian ini juga sarat dengan syair-syair Islami yang didendangkan menggambarkan hubungan manusia dengan sang pencipta alam semesta.

Fauzan merasa bangga bisa melatih tari khas Aceh di TMII. Dia juga bangga melihat antusias anak-anak berlatih menari di Sanggar Geumala Nanggroe.

“Alhamdulillah mereka sangat menjiwai setiap gerakan tari yang diajarkan. Semoga mereka lebih mencintai budaya daerah, salah satunya tarian Aceh ini,” ujarnya.

Latihan tari Aceh ini terdiri dari berbagai tingkatan. Untuk tingkat dasar diajarkan tari Ratoh Jaroe, kemudian berlanjut tingkat berikutnya tari Persembahan. Berlanjut lagi tari Ratoh Pukat dan tarian khas Aceh lainnya.

Setiap tiga bulan sekali, mereka akan mengikuti ujian sebagai penilaian layak tidaknya mereka naik tingkat dalam berlatih tarian khas Aceh ini.

Dalam berbagai gelar seni mereka juga sering tampil tidak hanya di TMII, tapi juga di luar. Seperti pernah memeriahkan acara di Gelora Bung Karno, dan sebagainya juga lomba tari.

Fauzan bangga bisa melestarikan tarian khas Aceh di TMII. Menurutnya, TMII sebagai wahana pengembangan dan pelestarian budaya bangsa, dimana di setiap anjungan daerah terdapat diklat seni. Ini dalam upaya mempromosikan budaya daerah masing-masing di TMII.

Dia berharap generasi milenial akan banyak yang tertarik untuk belajar tari daerah di TMII. “Biasanya pengunjung jalan-jalan ke TMII, dan lihat kami latihan tertarik. Kami sangat senang mereka gabung, khususnya generasi milenial,” ujarnya.

Fauzan juga mengaku sangat bangga dengan sosok pendiri TMII, yaitu Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah atau Ibu Tien Soeharto.

“Pemikiran Ibu Tien Soeharto membangun TMII ini sangat luar biasa jauh ke depan dipikirkan dengan matang. Beliau sangat bertanggung jawab terhadap budaya Indonesia untuk dilestarikan. Sehingga orang tidak perlu datang ke Aceh atau Bali, bisa ke TMII melihat ragam budaya daerah tersebut,” ujar ayah tiga anak ini.

Fauzan berharap TMII ke depan terus berkembang dan jaya dalam inovasi gelaran seni budaya. Dia juga berkomitmen untuk terus melestarikan budaya Aceh di TMII, dengan melatih tari.

“Sebagai seorang seniman, saya bangga dan puas bisa mengajar nari di TMII. Saya berharap semoga tarian khas Aceh tumbuh berkembang di Jakarta. Oleh karena itu, saya akan memperkenalkan ragam tarian tradisi Aceh agar bisa dikenal seperti tarian daerah lain,” pungkas pria lulusan Seni Tari dari STSI Padang Panjang.

Untuk berlatih menari di sanggar ini diadakan setiap Minggu pukul 10.00-13.00 WIB. Adapun pendaftaran peserta dikenakan Rp 260.000, dengan rincian telah mendapatkan kaus seragam dan kartu masuk TMII bagi peserta dan orang tua.

“Kalau iuran bulanan dikenakan Rp 25 ribu per bulan,” ujarnya.

Rasendriya Sabella, salah satu peserta mengaku telah satu tahun setengah berlatih tari di sanggar Geumala Nanggroe ini.

Meskipun bukan orang Aceh, tapi dia mengaku sangat tertarik dengan tarian khas Aceh. “Saya ini orang Jawa, tapi tertarik belajar tari Aceh di sanggar ini. Dan sudah pernah beberapa kali tampil, seperti di Gelora Bung Karno,” kata Bella demikian panggilan Rasendriya Sabella kepada Cendana News, ditemui usai latihan.

Lihat juga...