Sejak 2019, Tiap Bulan Selalu Ada Kasus DBD di Sikka

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Curah hujan yang tinggi menyebabkan air tergenang dan menjadi tempat  berkembangbiaknya nyamuk penular virus demam berdarah Aedes aegypti, sehingga saat musim hujan kasus demam berdarah mengalami peningkatan drastis.

Nyamuk Aedes aegypti selaku penyebar virus demam berdarah ini, senang berada di air yang jernih dan saat nyamuk tersebut bertelur dan menetas, nyamuk yang baru lahir tersebut sudah membawa virus demam berdarah.

“Kalau dulu nyamuk Aedes aegypti menggigit orang yang sakit demam berdarah, lalu menggigit orang yang sehat dan orang tersebut tertular,” kata dr. Mario B.Nara, SpA., dokter spesialis anak RS TC Hillers Maumere, kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Jumat (17/1/2020).

Dokter spesialis anak, RS TC Hillers Maumere, kabupaten Sikka, dr. Mario B. Nara, SpA., saat ditemui pada Jumat (17/1/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Dikatakan Mario, sekarang ini terjadi perubahan, ketika nyamuk Aedes aegypti lahir, otomatis nyamuk tersebut sudah membawa virus demam berdarah di dalam tubuhnya.

Virus dengue saat ini, kata dia, terdiri dari empat tipe, yakni DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4 yang berada di kelenjar saliva atau kelenjar ludah nyamuk yang akan ditularkan kepada manusia melalui gigitan.

“Maka selama 2019, dalam setiap bulan selalu ada dua sampai tiga kasus demam berdarah, sebelumnya tidak ada. Kalau dulu Desember sampai Maret selalu ada peningkatan, dan setelahnya tidak ada, tapi sejak 2019 setiap bulan selalu ada kasus,” ungkapnya.

Anak-anak, kata Mario, lebih rentan terkena DBD sebab daya tahan tubuhnya belum terlalu kuat dibandingkan orang dewasa, dan bila diserang nymauk demam berdarah tipe DEN-1, mungkin manusia kebal, tapi ketika diserang nyamuk tipe DEN-2, maka langsung tertular.

Virus dengue, sebut dokter spesialis anak ini, selalu ada sehingga bila mengalami panas tinggi selama 3 hari, segera periksa darah di fasilitas kesehatan.

“Termasuk juga mengalami gejala kelelahan, sakit kepala, nyeri di bagian belakang mata, sendi, otot, dan tulang. Selain itu, mengalami mual dan muntah serta munculnya bintik-bintik merah di kulit setelah 2 sampai 5 hari,” pintanya.

Dr. Asep Purnama yang biasa memerangi penyakit malaria mengatakan, proses pengigitan nyamuk Aedes aegypti, biasanya berlangsung pada siang dan sore har,i dan setelah terkena gigitan maka kelenjar saliva yang telah terinfeksi virus dengue tersebut akan masuk ke dalam tubuh manusia dan mulai menginfeksi.

Virus dengue ini, jelas Asep, akan mengalami masa inkubasi selama kurun waktu 4 sampai 7 hari, dan mulai menyerang sistem peredaran darah yang menyebabkan terjadinya kebocoran pembuluh darah dan penurunan trombosit dalam jumlah yang besar.

“Penting untuk memberikan penyadaran kepada masyarakat, agar selalu rutin melakukan pembersihan jentik nyamuk dan pemberantasan sarang nyamuk. Harus ada gerakan besar dan komitmen untuk memberantasnya,” ungkapnya.

Lihat juga...