Sistem Pengembangan Desa Model Damandiri, Bisa Dicontoh

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (Damandiri) sangat terbuka bagi siapa pun, baik pemerintah maupun pihak swasta yang ingin meniru sistem pengembangan desa menjadi Desa Cerdas Mandiri Lestari (DCML).

Hal itu disampaikan Ketua Yayasan Damandiri, Subiakto Tjakrawerdaja saat ditemui Cendana News di ruang kerjanya, di Gedung Grandadi, seusai peringatan 24 tahun Hari Jadi Damandiri, baru-baru ini.

“Yang mau mencontoh silakan. Kita siap serahkan semua sistem maupun aplikasinya. Kita tidak akan minta bayaran. Anggap saja itu amal ibadahnya yayasan, karena sejak awal Pak Harto mendirikan (Damandiri) untuk itu,” ujar Subiakto.

Hingga saat ini Damandiri tengah mengembangkan 15 DCML di berbagai desa di Pulau Jawa. Sekitar Rp50 miliar dana bantuan permodalan telah dialirkan Damandiri melalui koperasi di desa-desa tersebut.

“Jadi kita alirkan bantuan ke koperasi desa, agar memandirikan anggota. Ketika sudah anggotanya mandiri, koperasinya juga mandiri, maka tugas kita selesai sampai di sana. Kemandirian yang kita maksud adalah sejahtera dengan usahanya sendiri, bukan sejahtera tangan di bawah,” papar Subiakto.

Lebih lanjut, Mantan Menteri Koperasi (1993-1998) pada era Presiden Soeharto itu menyadari, dengan sumberdaya yang terbatas, Damandiri sulit menjangkau lebih banyak desa di Indonesia. Ia berharap inisiasi Damandiri membangun bangsa melalui desa dapat dilakukan oleh lebih banyak pihak, terutama sektor perbankan.

“Sebetulnya kita hanya inisiator. Kita membuat model-model desa seperti ini agar ketika berhasil, yang lain bisa melakukan hal yang sama. Buktinya cukup berhasil, dari 40.000 anggota koperasi yang menerima bantuan permodalan, 98 persennya bisa mengembalikan pinjaman. Artinya ada kemajuan, ada usaha dan bisnis yang telah mereka kerjakan,” jelas Subiakto.

Kedepan, Damandiri bertekad membangun koperasi yang tidak saja menaungi satu desa, tapi menaungi lebih banyak desa menjadi kawasan desa. Bahkan harapan menciptakan koperasi betaraf nasional pun tetap ada.

“Desa itu hanya titik masuk. Sekarang kita berpikir tentang membangun kawasan desa. Supaya lebih banyak lagi masyarakat yang mendapatkan kelayakan ekonomi,” pungkas Subiakto.

Lihat juga...