Sodikun: Ribuan Anak Keluarga Miskin Sukses Berkat Beasiswa Supersemar

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

Ketua MUI Bidang Seni dan Budaya, Sodikun, saat ditemui di ruang kerjanya di kantor MUI Pusat, Jakarta, Rabu (29/1/2020). Foto: Sri Sugiarti

JAKARTA — Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Seni dan Budaya, Sodikun mengisahkan perjalanan hidupnya mendapatkan Beasiswa Supersemar hingga akhirnya meraih kesuksesan.

Sodikun berasal dari keluarga yang ekonominya pas-pasan. Saat program transmigrasi digulirkah, kedua orang tuanya yang asli Tegal, Jawa Tengah, menekadkan hati untuk transmigrasi ke Lampung Selatan. Tujuannya mengubah hidup untuk lebih baik lagi. Ia yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) ikut serta hijrah. Mereka tinggal di kaki gunung yang ada di wilayah Lampung Selatan.

Di daerah transmigrasi itu, ayah Sodikun menjadi petani kopi, sedangkan ibunya berdagang di rumahnya. Meskipun ekonominya pas-pas, tapi dunia pendidikan menjadi prioritas keluarga tersebut.

Meski jarak tempuh dari rumahnya ke sekolah sangat jauh, dan harus dengan berjalan kaki, Sodikun tak pernah merasa lelah untuk dapat mengenyam pendidikan. Apalagi kedua orangtuanya selalu memberikan semangat agar ia terus belajar dan tak putus asa dengan kehidupan yang serba kekurangan.

Dengan semangatnya yang tak pernah pudar, Sodikun pun bisa mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi. Yaitu kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Palembang.

“Saat semester satu di UIN, saya sudah tak punya biaya. Alhamdulillah perjalanan dimuluskan, saya mendapatkan beasiswa Supersemar,” kata Sodikun kepada Cendana News, Rabu (29/1/2020).

Untuk mendapatkan beasiswa Supersemar, menurutnya, tidak mudah selain harus bisa memperjuangkan Indek Prestasi Kumulatif (IPK) tetap di atas 3, persaingannya sangat ketat di setiap fakultas itu karena banyak mahasiswa yang mendaftar.

Seleksi juga dilakukan oleh tim mitigasi Yayasan Supersemar. Namun yang utama dari seleksi itu adalah syarat mutlak melihat mahasiswa dari kehidupan ekonominya.

“Di Fakultas Perbandingan Agama saja banyak mahasiswa yang daftar, saingannya ketat. Cuma saya yang dapat beasiswa Supersemar,” ujarnya.

Dia masih mengingat mendapat uang beasiswa Supersemar sebesar Rp500 ribu per bulannya. Sedangkan uang per satu semester yang harus dibayar cuma Rp40 ribu.

“Rp500 ribu itu besar sekali, bisa untuk bayar hingga lulus kuliah. Satu semester Rp40 ribu dikali 8 semester saja cuma Rp320 ribu. Jadi masih sisa banyak. Alhamdulillah beasiswa Supersemar sangat membantu saya,” ujarnya.

Sodikun tidak hanya menggunakan uang beasiswa itu untuk bayar kuliah. Tapi juga untuk membeli perlengkapan kuliah, seperti buku dan kebutuhan lainnya.

“Sisa uang beasiswa itu, saya tabung untuk kebutuhan lainnya. Jadi saya tidak merepotkan orangtua. Apalagi bapak saya kan petani, kadang panen kadang tidak,” imbuhnya.

Berkat beasiswa itu, dia mengaku bisa meraih kesuksesan. Terbukti setelah selesai kuliah Sodikun menjadi Kepala Madrasah di Palembang, disamping itu dia juga mengajar ilmu agama.

Dia juga pernah didampuk menjadi Pimpinan Pesantren di Palembang, dan beberapa jabatan lainnya.

Bahkan kata dia, saat mengajar di pesantren, dirinya mengikuti Pendidikan Kader Ulama (PKU) Pusat Majelis Ulama Indonesia (MUI) selama setahun di Jakarta.

Selama setahun itu pula, setiap bulannya semua ulama yang mengikuti PKU mendapat uang sebesar Rp 400 ribu. Uang tersebut menurutnya, diberikan oleh Presiden ke 2 RI, Jenderal Besar HM Soeharto, sebagai bentuk dukungan semangat perjuangan para kader ulama dalam mengenyam pendidik tersebut.

“Saya ikut PKU di angkatan kedua di era Pak Harto. Perlu dicatat ya, PKU itu sampai angkatan ke enam dibiayai Pak Harto, dan berhenti di era Gus Dur,” ujarnya.

Usai mengikuti pendidikan itu, karir Sodikun terus bersinar hingga ia dipilih menjadi Ketua Umum MUI Sumatera Selatan. Setelah menjabat dua tahun, ia ditarik ke MUI Pusat di Jakarta.

Semua kesuksesan itu menurutnya, berkat jasa Pak Harto, Pendiri Yayasan Supersemar yang telah memberikan beasiswa kepada dirinya untuk bisa mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.

“Saya bisa menjadi Ketua MUI itu juga berkat kepedulian dan kecintaan Pak Harto kepada para kader ulama Indonesia,” tukas pria kelahiran Tegal 1960, ini.

Menurutnya, kepedulian dan kecintaan Pak Harto terhadap dunia pendidikan sangat luar biasa. Dengan program beasiswa Supersemar, Beliau telah berjuang mengangkat martabat anak bangsa.

Terbukti banyak anak dari keluarga miskin yang sukses dengan jabatan di berbagai perusahaan dan juga lembaga pemerintahan. “Tidak hanya saya, bahkan mungkin ribuan di seluruh Indonesia, anak keluarga miskin sukses berkat beasiswa Supersemar dari Pak Harto,” ujar ayah tiga anak, ini.

Dia menyebut, kepedulian pada dunia pendidikan, itu sebenarnya Pak Harto telah melaksanakan apa yang dicita-citakan dari semangat bangsa amanat Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Dari pespektif agama, Pak Harto selalu membangun hubungan yang baik dengan Pondok Pesantren. Dampak positif dari kebijakan Pak Harto, menurutnya, kurang lebih 60 Pondok Pesanter telah dibangun di Sumatera Selatan.

Pembangunan masjid juga bertebaran di seluruh Indonesia. “999 masjid telah dibangun Pak Harto, itu kan luar biasa. Belum lama ini, saya ceramah di Nusa Tenggara Barat (NTB) dihadiri Kapolsek. Itu saya dakwah di masjid yang bangun Pak Harto,” ucap kakek tiga cucu, ini.

Dalam pembangun fundamental ekonomi, pemikiran Pak Harto juga tidak diragukan. Misalnya, kata Sodikun, melalui program transmigrasi dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat, ini sudah terbukti.

Menurutnya, Pak Harto dalam kepemimpinannya selalu memikirkan nasib bangsa dan negara. Pak Harto juga telah berjuang menyatukan ulama dan umarah dalam sebuah instutisi MUI.

“Jadi kalau kita jujur dengan mengunakan rasio dan hati yang bersih. Kita harus menempatkan almarhum Pak Harto ini sebagai Mujahid. Yakni seorang pejuang di bidang pendidikan, agama, ekonomi, dan pemerataan di pedesaan dengan transmigrasinya,” tegasnya.

Kembali dia menegaskan, bahwa Pak Harto selalu memikirkan kesejahteraan rakyat dan mengangkat martabat anak bangsa. Pak Harto selalu patuh untuk menjalankan ajaran agama dalam kehidupannya.

Ini dibuktikan, Beliau dalam mendidik putra putrinya tidak lepas dari tuntutan ilmu agama yang diterapkan. Pengajian di rumah bersama keluarga kerap dijalankan, sebagai cerminan hati hubungan mulia pada Allah SWT, pencipta alam semesta.

“Pak Harto bukan hanya Bapak Pembangunan, tapi Beliau adalah seorang mujahid. Saya ini bukan basa-basi, memang Pak Harto itu majahid, Beliau menjadikan orang susah tetap pengenyam pendidikan,” tukasnya.

Dalam dunia keislaman, perjuangan Pak Harto yang tidak bisa dilupakan adalah ide cerdasnya membentuk MUI.

“MUI, itu berkat ide cerdas Pak Harto. Itu sejarah yang tak bisa dibantahkan, mendirikan institusi MUI untuk menyatukan ulama dan umarah. Itu perjuangan mulia Pak Harto,” ujar Sodikun.

Menurutnya, belum ada Presiden yang setelah Beliau memiliki pemikiran cemerlang dengan kebijakan sangat fundamental untuk membangun bangsa dan mensejahterakan rakyat.

“Maaf saja, belum ada ya presiden setelah Beliau yang memiliki kepedulian orang susah diberi beasiswa untuk pendidikan. Yang sangat fundamental pemikirannya, baik di dunia pendidikan, ekonomi dan dalam keislaman,” imbuhnya.

Kalau kemudian orang menilai kekurangan Beliau dalam memimpin bangsa, itu menurutnya, sah-sahnya saja. Karena pada dasarnya, manusia itu tidak sempurna. Kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT.

“Jadi saya bukan apa-apa ya. Kalau ada kekurangannya, tapi ya lebih banyak kelebihannya Pak Harto itu. Mereka-mereka yang membenci itu, siapa kira-kira kalau mau jujur. Bagi saya, Pak Harto itu seorang mujahid yang meninggalnya sahid,” ungkapnya.

Pada kesempatan ini, Sodikun mengungkap kenangan bersama Pak Harto. Seperti, saat menyantap makanan khas Jawa.

“Saya kan dulu masih sekertaris MUI, pernah diundang ke istana, ya foto bersama Beliau dan menikmati makanan khas Jawa. Beliau sangat santun, sosok seorang pemimpin yang tidak senang dengan pencitraan,” tutupnya.

Lihat juga...