Sosialisasi Penanganan Ular Berbahaya Sangat Dibutuhkan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Hingga saat ini, masih banyak masyarakat maupun relawan kebencanaan, yang tidak memiliki keterampilan maupun pengetahuan dalam menangani serangan hewan liar seperti misalnya ular.

Padahal kemampuan tersebut sangat dibutuhkan untuk mengurangi risiko jatuhnya korban manusia akibat serangan ular.

Terlebih di musim penghujan seperti sekarang ini, banyak ditemukan kasus temuan ular berbahaya yang masuk ke rumah-rumah warga ataupun kawasan pemukiman di berbagai daerah di Indonesia. Karena itulah sosialisasi terkait hal tersebut diperlukan agar informasi menyangkut penanganan ular yang tepat dapat tersebar di masyarakat.

Sebagai upaya memberikan pemahaman kepada para relawan maupun masyarakat, Forum Penanggulangan Risiko Bencana (FPRB) Bandung Bondowoso Prambanan Sleman, menggelar acara sosialisasi sekaligus pelatihan penanganan ular berbahaya bertempat di kantor Kecamatan Prambanan Sabtu (18/1/2020) sore.

Melibatkan komunitas Prambanan Reptil Zone, FPRB Bandung Bondowoso, mengajak para relawan untuk mengetahui berbagai macam jenis ular, risiko bahaya yang dapat ditimbulkan, hingga cara-cara penanganannya. Sebanyak 35 orang lebih dari berbagai desa nampak mengikuti kegiatan ini dengan seksama.

“Kita menggelar kegiatan pelatihan penanganan ular ini karena masih ada teman-teman relawan yang belum mengetahui. Di sini mereka diajarkan bagaimana mengenali jenis-jenis ular berbahaya hingga cara penanganannya. Dengan begitu diharapkan mereka siap apabila ada kasus temuan ular di kawasan Prambanan,” ujar Ketua FPRB Bandung Bondowoso, Ignatius Parwoto, Sabtu.

Ketua FPRB Bandung Bondowoso, Ignatius Parwoto, dalam kegiatan sosialisasi dan pelatihan penanganan ular yang digelar Forum Penanggulangan Risiko Bencana (FPRB) Bandung Bondowoso Prambanan Sleman Sabtu (18/1/2020). Foto: Jatmika H Kusmargana

Parwoto mengatakan wilayah kecamatan Prambanan sendiri merupakan wilayah yang berisiko terhadap serangan ular. Pasalnya secara geografis, wilayah Prambanan memiliki banyak perbukitan dengan sejumlah vegetasi lebat di dalamnya. Sehingga potensi munculnya kasus temuan ular berbahaya cukup besar.

“Apalagi di masa pergantian musim seperti sekarang ini. Dimana merupakan musim ular berkembang biak. Jika mereka terusik bukan tidak mungkin akan masuk ke wilayah pemukiman. Sehingga setiap relawan harus siap,” katanya.

Salah seorang relawan, Riswanti, mengaku senang dengan adanya kegiatan pelatihan semacam ini. Ia mengaku mendapat banyak ilmu baru khususnya bagaimana menangani ular. Baik itu jenis ular tidak berbisa maupun ular berbisa yang berbahaya.

“Selama ini kan jika kita menemui ular pasti kita bunuh. Padahal itu sebenarnya tidak boleh. Karena itulah kegiatan semacam ini sangat dibutuhkan. Sehingga kita bisa mengamankan ular berbahaya tanpa harus membunuhnya,” ungkapnya.

Lihat juga...