Tanggap Darurat Banjir Bekasi Masuki Tahap Evaluasi

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

BEKASI — Masa tanggap darurat bencana banjir di wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat memasuki tahap evaluasi. Pemerintah Kota akan memutuskan setelah rapat bersama sejumlah pihak meliputi BNPB, BMKG dan BWCC.

Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi saat ditemui ketika turun langsung di komplek Kemang IFI Jatiasih, Selasa (14/1/2020). Foto: Muhammad Amin

“Malam ini dilakukan evaluasi, apakah diperpanjang lagi atau selesai. Karena BWCC memperkirakan cuaca ekstrim akan kembali terjadi awal Februari hingga Maret 2020 ini,” ungkap Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi ditemui di Kemang IFI, Jatiasih, saat membersihkan sisa lumpur di wilayah setempat, Selasa (14/1/2020).

Dikatakan masa tanggap darurat bencana banjir Kota Bekasi, berakhir pukul 00.00 WIB hari ini. Dikhawatirkan masih terjadi bencana setelah dinyatakan selasai.

“Misalkan tanggap darurat selesai sementara BWCC masih memprediksi akan terjadi cuaca ekstrim, kan tidak elok tanggap darurat dua kali,” tandasnya keputusan selesai atau diperpanjang setelah rapat malam nanti.

Bang Pepen, sapaan akrab Wali Kota Bekasi tersebut menyampaikan bahwa evaluasi lokasi banjir sudah dilaksanakan seperti di PML, PPA, Villa Jatirasa, Pondok Gede Permai, Komplek AL Jaka Kencana, Kemang Pratama sudah dilakukan dan tersisa hanya lumpur.

Menurutnya untuk sampah sisa banjir dipastikan 90 persen sudah terangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) baik di Sumur Batu dan Bantargebang. Dia juga memberi pilihan semisalnya tanggap darurat banjir dinyatakan selesai tetapi untuk recovery seperti pembersihan lumpur sisa banjir tetap berlangsung hingga dua minggu kedepan.

Ia mengklaim, saat ini wilayah Kota Bekasi sudah melakukan berbagai persiapan dalam antisipasi hal yang tidak diinginkan di sepanjang 2020. Persiapan tersebut meliputi pemulihan tanggul melibatkan BWCC dengan dilakukan bronjong di 15 titik dari PGP sampai Kemang Pratama.

Begitupun bendung Kalimati, aksesnya, juga listriknya sedang dilakukan penghidupan pompa air. Dia menyebutkan, persiapan sampai dengan September 2020 sudah sangat siap. Bahkan Kota Bekasi saat ini miliki tiga mesin pompa yang mobile.

“Pompa tersebut bisa dimana saja menyedot air, karena DAS mulai dari PGP sampai Teluk Pucung, problemnya adalah sampah dan lumpur jika sampai meluap. Tapi lokasi lain seperti wilayah IKIP dan Nasio itu setelah banjir maka akan kering, tidak ada lumpurnya,” paparnya.

Pepen juga menegaskan, dalam masa tanggap darurat bencana banjir di Kota Bekasi, Pemerintah tidak memberikan memberi uang kepada korban dampak bencana seperti sebesar Rp 50 juta. Tetapi tegasnya Tanggap Darurat lebih kepada recovery terhadap sampah, tanggul dengan bekerjasama BWCC lumpur.

“Tanggap darurat hanya itu yang diputuskan tidak ada memberi sumbangan ganti rugi apapun kepada korban banjir. Jika hal tersebut sampai dilakukan maka akan mengganggu APBD Kota Bekasi yang baru berjalan, untuk ganti rugi korban bencana tidak ada”tukasnya.

Begitupun untuk pengungsi dia mengklaim semua sudah kembali ke rumahnya. Tetapi Pemkot Bekasi tetap menyediakan Posko pengungsi sampai Maret yang berada di tujuh titik.

“Untuk jumlah kerugian akibat bencana banjir, kita belum hitung. Tapi tentunya semua perabot rumah tangga terdampak banjir rusak, ambil kecil saja Rp3 juta per rumah, kalau ribuan rumah tentu sangat besar,”ucapnya.

Lihat juga...