Tim Yayasan Ibu Tien Soeharto Kunjungi Pengungsi di Lebak

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LEBAK – Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDGRK) sebagai yayasan yang dikembangkan Siti Hartinah Soeharto atau dikenal pula dengan sebutan Ibu Tien Soeharto bersama Purna Pasukan Utama Kirab Remaja Nasional mengunjungi langsung lokasi pengungsian korban terdampak banjir di Depo Pendidikan Latihan Pertempuran (Dodiklatpur) Kabupaten Lebak.

Mereka melihat langsung dapur posko pengungsian setelah berdiskusi dengan ratusan pengungsi korban banjir bandang. Kunjungan tersebut untuk melihat secara dekat kondisi warga di lokasi pengungsian.

“Kita melihat langsung kondisi dapur umum. Cukup layak, tapi kami menyarankan tim Tagana bisa menambah menu makan khusus untuk anak,” ujar Erna, salah satu Pasukan Utama Kirab Remaja Nasional, Jumat (10/1/2020).

YDGRK Siti Hartinah Soeharto bersama anggota Kirab Remaja di Posko Dodiklatpur Siliwangi III Banten, ikut menyalurkan bantuan seperti pakaian bekas dan beberapa makanan untuk korban pengungsi di posko setempat.

Kepala Dapur dari Tagana di Posko Dodiklatpur Pengungsian, Ndang Haryadi, menyampaikan untuk kebutuhan logistik makan sudah terpenuhi setiap hari baik untuk pengungsi, petugas TNI dan tim sendiri.

Ndang Haryadi, Kepala Dapur Umum dari Tagana di posko pengungsian Dodiklatpur. Sehari dia memasak untuk tiga kali makan mencapai 3.350, Jumat (10/1/2020). – Foto: Muhammad Amin

“Saat ini di Posko Pengungsian Dodiklatpur TNI AD, jumlahnya mencapai 700 orang dari berbagai wilayah. Sehari saya masak mencapai 3.350,” papar Ndang kepada Cendana News.

Menurutnya untuk menu setiap hari bervariasi disesuaikan dengan logistik yang ada. Namun demikian dia menyebut makanan paling favorit pengungsi adalah nasi goreng dan makanan sejenis mie instan.

Lokasi dapur umum di Dodiklatpur TNI AD, cukup memadai. Pengungsi terlihat lebih leluasa karena memiliki tempat yang luas dan bersih.

“Enak di sini, lebih luas tempatnya. Ada arena bermain untuk anak dan sarana lainnya memadai, terutama makanan selalu terpenuhi,” ujar Badrun, salah seorang pengungsi yang ikut membawa anak dan istrinya.

Pantauan Cendana News di Lebak Banten, Jumat (10/1/2020) hujan dengan intensitas sedang masih mengguyur wilayah setempat. Seharian cuaca di Lebak tidak terlihat matahari. Bahkan hujan dengan intensitas kecil juga terus terjadi, tanpa reda.

Terlihat beberapa pengungsi juga sudah mulai jenuh berada di pengungsian, hanya berdiam tanpa ada aktivitas. Bahkan salah seorang pengungsi yang sudah lima harian lebih mengaku mulai bosan, bukan karena soal makanan dan lainnya.

“Bosan saja Pak, di sini hanya diam, kami biasa setiap hari kerja. Bukan soal makanan dan lainnya. Tapi harus bagaimana desa hancur karena longsor dan banjir bandang,” ujarnya.

Lihat juga...