Tokoh Masyarakat: Banyumas Sulit Bebas dari Banjir

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

BANYUMAS — Kabupaten Banyumas tidak mungkin bisa lepas dari banjir saat musim hujan tiba, terlebih untuk wilayah perkotaan. Hal tersebut disebabkan terus bertambahnya hunian serta ketidakpedulian masyarakat terhadap sungai.

Ketua Paguyuban Masyarakat Serayu, Eddy Wahono, Rabu (29/1/2020) di Rawalo, Banyumas. (FOTO : Hermiana E.Effendi)

“Sampai saat ini sungai-sungai di Kota Purwokerto masih menjadi tempat pembuangan sampah rumah tangga. Selain itu, bangunan baik perumahan maupun hotel dan sebagainya, semakin banyak pula yang melanggar garis sepadan sungai,” kata Ketua Paguyuban Masyarakat Serayu, Eddy Wahono, Rabu (29/1/2020).

Lebih lanjut Eddy Wahono memaparkan, kondisi Sungai Jurik misalnya, berada di jantung Kota Purwokerto, tepatnya di Kecamatan Purwokerto Utara tersebut banyak bertebaran sampah serta pelanggaran garis sepadan sungai oleh bangunan-bangunan rumah penduduk.

Kemudian Sungai Deng di Kecamatan Purwokerto Timur yang juga dipenuhi dengan sampah rumah tangga dan bangunan yang melanggar, serta Sungai Kali Bener yang paling parah. Mulai perkotaan sampai dengan Kalibagor, dipenuhi dengan bangunan rumah yang melanggar garis sepadan sungai.

“Tak hanya di kota saja, bahkan di kawasan atas Baturaden, yaitu Sungai Belot juga sudah banyak bangunan-bangunan yang membuat sungai semakin menyempit,” terangnya.

Eddy Wahono menegaskan, Banyumas tidak mungkin akan terbebas dari banjir, jika aturan terkait larangan membuang sampah ke sungai dan ketentuan garis sepadan sungai tidak ditegakkan.

Membawa aspirasi masyarakat di sepanjang Sungai Serayu, Eddy meminta agar Pemkab Banyumas segera membentuk tim untuk menegakkan aturan seputar sungai.

Menurutnya, dalam aturan Kementrian PUPR nomor 28 tahun 2015 sudah jelas disebutkan tentang ketentuan garis sepadan sungai. Aturan tersebut dibuat untuk menjaga fungsi sungai dan menghindarkan kontak langsung hunian masyarakat dengan sungai.

“Bentuk tim untuk menegakkan aturan, berlakukan sanksi tegas bagi yang melanggar, maka minimal sungai akan terjaga, tidak terjadi lagi penyempitan sungai,” tegasnya.

Disinggung tentang wilayah pinggiran Banyumas yang menjadi langganan banjir, seperti Kemranjen dan Sumpiuh, menurut Eddy, sampai sekarang belum terjadi banjir yang besar dan lama, karena curah hujan memang belum intens.

“Sampai sekarang belum ada banjir yang sampai heboh seperti tahun-tahun sebelumnya, itu karena curah hujan tidak sebanyak tahun lalu dan kita diuntungkan dengan hal tersebut. Namun, lihat saja kemarin hujan seharian, sudah terjadi genangan air dimana-mana,” tuturnya.

Eddy Wahono mencontohkan, di Desa Karanggedang, Kecamatan Sumpiuh pada 2000 tidak pernah terjadi banjir. Namun, mulai 2007 ke sini, banjir menggenangi desa tersebut, seiring banyaknya hunian baru. Begitu pula di daerah Mujur, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap, setelah muncul bangunan perumahan dan pom bensin, masyarakat di daerah Mujur Wetan mulai menuai banjir.

Dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas, pada minggu kedua bulan Januari ini, sudah terjadi banjir pada sembilan kecamatan di Banyumas.

Sekretaris BPBD Banyumas, Ariono Poerwanto mengatakan, banjir terjadi akibat luapan air sungai, sehingga tidak berlangsung lama dan saat hujan reda, banjir juga mulai surut.

Wilayah yang terkena banjir antara lain Kecamatan Tambak, Sumpiuh, Kemranjen, Kalibagor, Banyumas, Sokaraja, Rawalo, Jatilawang dan wilayah Kota Purwokerto.

Lihat juga...