UPT KPH Sikka Tangkap Penebang Kayu di Hutan Produksi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Penebangan kayu di dalam hutan produksi dan hutan lindung di wilayah kabupaten Sikka masih terus dilakukan meskipun tahun 2019 beberapa pelakunya sudah diproses hukum bahkan ada yang dipenjara.

Penebangan kayu di dalam hutan produksi dan hutan lindung untuk diperjualbelikan tersebut harusnya tidak dilakukan karena Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelolaan Hutan (UPT KPH) kabupaten Sikka gencar memberikan sosialisasi.

“Masyarakat yang desanya berbatasan dengan hutan lindung dan hutan produksi selalu kami sampaikan soal larangan penebangan kayu di dalam hutan. Namun masih saja ada yang melanggar,” kata Hery Siswadi, kepala UPT KPH kabupaten Sikka, Rabu (29/1/2020).

Hery Siswadi, kepala Unit Pelaksana Teknis, Kesatuan Pengelolaan Hutan (UPT KPH) kabupaten Sikka, provinsi NTT, saat ditemui di kantornya, Rabu (29/1/2020). Foto: Ebed de Rosary

Hery katakan, kayu jenis Mune tersebut dipotong di dalam kawasan hutan produksi Iligai di desa Hokor kecamatan Bola sebanyak 4 pohon, namun hanya 3 pohon yang dipotong untuk dijual.

Sementara saat di Polres Sikka ada beberapa kayu di dalam truk yang sama diturunkan karena kayu tersebut ditebang di lahan milik pribadi di luar kawasan hutan produksi.

“Ada kayu jenis Bei juga di dalam truk yang sama namun kayu tersebut tidak ikut disita dan diamankan sebagai barang bukti karena ditebang di luar kawasan hutan produksi Iligai,” tuturnya.

Penebangan kayu tersebut terang Hery dilakukan oleh JY dan pihaknya mendapatkan informasi dari kepala desa Hokor sehingga langsung menerjunkan polisi hutan ke lokasi kejadian, belum lama ini.

Saat didatangi, lanjutnya, pelaku sedang memuat kayu-kayu yang telah ditebang dan dipotong menjadi papan dan balok ke dalam truk sehingga petugas langsung berkoordinasi dengan Polsek Bola untuk mengamankan pelaku.

“Pelaku beserta barang bukti langsung dibawa ke Polres Sikka dan sampai sekarang masih ditahan untuk proses hukum. Petugas kami juga sudah dimintai keterangan oleh penyidik,” ujarnya.

Kayu jenis Mune yang ditahan papar Hery terdiri atas 39 lembar papan berbagai ukuran serta 58 batang balok berbagai ukuran dengan total sebanyak 1,6 kubik yang diangkut menggunakan sebuah truk.

Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM) Wim Keupung mengapresiasi langkah yang diambil UPT KPH Sikka dengan melimpahkan kasus ini ke Polres Sikka agar bisa diproses hukum dan pelaku pun bisa dipenjaran.

Wim berharap agar kasus penebangan kayu di areal hutan harus terus dipantau mengingat kawasan hutan di kabupaten Sikka baik di hutan produksi Iligai maupun hutan lindung Egon Ilimedoa dan Wukoh Lewoloro rawan.

“Hutan lindung Egon saja sudah gundul karena banyak terjadi aktivitas penebangan pohon di areal hutan lindung. Masyarakat dan aparat pemerintah desa harus memberikan informasi ke UPT KPH Sikka bila menemukan adanya penebangan pohon di hutan lindung dan hutan produksi,” pintanya.

Lihat juga...