Warga Lamsel Lestarikan Hutan Mangrove Lewat Kearifan Lokal

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

LAMPUNG — Puluhan hektare hutan mangrove jenis api api atau Avicennia marina yang membentang pesisir timur Lampung Selatan (Lamsel) menjadi aset Desa Sumber Nadi, Kecamatan Ketapang. Pelestarian dilakukan lewat kearifan lokal yang diperkuat dengan peraturan desa (Perdes) yang memuat larangan dan sanksi penebangan pohon.

I Ketut Sinda Atmita, Kepala Desa Sumber Nadi Kecamatan Ketapang Lampung Selatan saat ditemui, Rabu (22/1/2020). Foto: Henk Widi

I Ketut Sinda Atmita kepala desa setempat menyebutkan, sebagai desa adat yang kental dengan nuansa masyarakat Hindu Bali, keharmonisan dengan alam menjadi hal yang vital. Nilai historis kawasan hutan mangrove tidak lepas dari anugerah sang Pencipta.

“Kearifan lokal masyarakat desa kami telah ada kesepakatan yang mengikat adanya larangan menebang pohon api api, jika terbukti maka harus bertanggungjawab dengan sanksi yang telah ditentukan dalam peraturan desa,” terang I Ketut Sinda Atmita saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (22/1/2020)

Kearifan lokal masyarakat tersebut menurutnya telah dijaga selama puluhan tahun. Sebab jutaan pohon di hutan mangrove api api tumbuh secara alami melalui proses yang panjang.

Lokasi tumbuh sebagai lahan basah pasang surut air laut menjadi sabuk hijau (green belt) melindungi desa di pesisir timur tersebut. Saat angin kencang, gelombang tinggi kawasan lahan tambak, lahan pertanian dan perkampungan akan terjaga.

Vegetasi pohon api api memiliki kerapatan yang tinggi rata rata berjarak 2 meter antar pohon. Ketinggian yang merata, 8 hingga 10 meter menjadikan hutan api api sekaligus menjadi penyumbang oksigen bagi warga.

“Hutan api api juga menyerap kotoran dari air laut yang masuk ke daratan dengan perakaran napas yang ada, sehingga air bagus untuk budidaya udang,” bebernya.

Dominan pohon api api yang dilestarikan memiliki usia lebih dari 20 tahun. Sebab suksesi alami pada kawasan tersebut berlangsung sejak tahun 1980 silam. Berkat upaya penyelamatan oleh warga, larangan memanfaatkan kawasan tersebut dilakukan dengan menjadikan hutan api api sebagai aset desa.

“Pemerintah desa juga telah membentuk kawasan hutan api api sebagai destinasi ekowisata agar pemanfaatan lebih maksimal,” ungkap I Ketut Sinda Atmita.

Pengembangan kawasan ekowisata diakuinya diintegrasikan dengan inovasi desa membentuk kampung bonsai. Sekitar 315 kepala keluarga di desa tersebut yang sebagian merupakan seniman bonsai melestarikan sejumlah tanaman langka.

Melalui upaya pelestarian tanaman langka jenis sentigi (Pemphis acidula) komunitas bonsai ikut mengkampanyekan kelestarian alam. Sebab peran masyarakat sangat penting ikut menjaga lingkungan.

I Made Suwarno,Sekretaris Desa Sumber Nadi menyebut kearifan lokal jadi benteng melindungi pohon api api. Sebab meski denda hanya sebesar Rp50.000 bagi penebang pohon di hutan tersebut, namun dampaknya akan sangat besar.

Pelarangan diakuinya cukup fleksibel karena jika ada masyarakat yang sangat membutuhkan kayu tetap harus meminta izin kepada pihak desa. Izin juga hanya diberikan dalam kondisi mendesak dan dipilih kayu yang sudah kering.

“Jenis kayu api api memiliki masa tumbuh yang lama bahkan dominan tumbuh secara alami jadi sangat dilarang ditebangi,” beber I Made Suwarno.

Peranan masyarakat menurutnya sangat penting menjaga hutan desa. Meski sebagian warga berprofesi sebagai nelayan budidaya tambak, nelayan tangkap, pelarangan merusak ekosistem api api tetap diterapkan.

Selain digunakan untuk penelitian, ekowisata, keberadaan satwa jenis burung bisa menjadi destinasi birth watching atau pengamatan burung. Akses masuk menuju kawasan tersebut melalui Jalan Pure Segara di dekat Jalan Lintas Pantai Timur juga cukup mudah.

Lihat juga...