Warga Pesisir Timur Lamsel Manfaatkan Potensi Laut

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sektor usaha perikanan di wilayah pesisir timur Lampung Selatan, selama ini menjadi penopang ekonomi masyarakat. Selain membuka lahan tambak udang vaname, warga setempat juga menjadi nelayan tangkap serta perajin ikan asin.

Rinawati, salah satu warga Dusun Kuala Jaya, Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, menyebut banyak warga setempat memiliki usaha tambak udang vaname dan bandeng. Di sela usaha tambak itu, sebagian warga juga mencari ikan di perairan timur.

Memasuki bulan Januari dengan curah hujan tinggi, sebagian area tambak di wilayah Bandar Agung kerap terimbas banjir luapan sungai Way Sekampung, dan pasang air laut atau banjir rob. Potensi luapan sungai yang mengakibatkan sejumlah tambak limpas, membuat udang vaname panen dini, dan sebagian gagal panen.

Rinawati menyebut, meski di wilayah tersebut tidak hujan, sebagian banjir kiriman berasal dari bagian hulu sungai. Meski hasil usaha dari sektor budi daya tambak berkurang, sebagian warga masih bisa mendapat hasil dari sektor perikanan tangkap. Suami yang mencari ikan dengan teknik jaring sondong mendapatkan ikan selar, kepala batu, pepirik sebagai bahan ikan asin.

Samsul Anwar, Kepala Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan, di pantai Tanjung Sembilang, Selasa (14/1/2020). -Foto: Henk Widi

“Alternatif usaha kecil mengandalkan hasil laut masih bisa memberi kami sumber penghasilan, asal kreatif dan mau melihat peluang melakukan pengawetan ikan secara tradisional,” ungkap Rinawati, saat ditemui Cendana News tengah menjemur ikan asin, Selasa (14/1/2020).

Rinawati menambahkan, selama tambak tidak menghasilkan atau terkena bencana banjir, laut menjadi alternatif sumber usaha. Berbagai jenis ikan hasil tangkapan diolah menjadi ikan asin, dengan teknik pengeringan. Sejumlah warga memilih mengolah ikan sembilang, bandeng menjadi ikan asap untuk diawetkan. Hasil pengolahan ikan dijual kepada pengepul yang akan membawa ke pasar tradisional.

Selama musim gagal panen udang vaname, usaha membuat ikan asin menjadi pilihan. Selain bahan baku mudah diperoleh, proses pengolahan tidak memerlukan biaya operasional tinggi. Pengawetan ikan dengan memanfaatkan sinar matahari dan garam, membuat nilai jual ikan lebih tinggi. Sebab, sejumlah ikan memiliki harga yang lebih rendah saat dijual dalam kondisi segar.

“Jenis ikan selar, kepala batu dan ikan berdaging tipis jarang dijual dalam kondisi segar, justru laku saat dijual dalam bentuk ikan asin,” beber Rinawati.

Usaha yang ditekuni selama puluhan tahun itu juga tergantung musim. Saat angin timur dan cuaca buruk didominasi gelombang tinggi, tangkapan nelayan berkurang. Hujan yang mulai kerap turun juga berimbas proses pengeringan ikan lebih lambat. Meski demikian, teknik pengasapan masih bisa dilakukan untuk mengawetkan ikan.

Senada, Kartinah, menyebut kaum wanita di wilayah tersebut sebagian memilih usaha pembuatan ikan asin. Proses pengeringan ikan dilakukan setelah pembersihan perut, sehingga menghasilkan ikan kering yang bersih. Penjemuran memanfaatkan sinar matahari membuatnya bisa mendapatkan ikan kering selama maksimal dua hari.

“Pengeringan akan mengawetkan ikan yang sudah digarami hingga mencapai enam bulan,” ungkap Kartinah.

Sehari ia kerap bisa mengolah ikan asin sebanyak 400 kilogram, menyesuaikan hasil tangkapan suami. Sebagian bahan baku dibeli dari nelayan yang melaut dengan harga Rp10.000 dalam kondisi basah.

Jenis ikan kepala batu yang dibelah menjadi ikan asin akan dijual Rp20.000 per kilogram dalam kondisi kering. Sejumlah ikan lain jenis bandeng, betutu, sembilang yang diasap dan dikeringkan dijual Rp40.000 per kilogram.

Hasil usaha ikan asin, menurut Kartinah mendukung usaha keluarganya yang juga memiliki tambak. Masa tunggu tiga bulan untuk panen udang membuat ia bisa mendapatkan hasil dari ikan asin.

Rata-rata dari hasil menjual ikan asin berbagai jenis, ia bisa mendapat hasil jutaan rupiah. Dengan penjualan sekitar 250 kilogram saja ia bisa mengantongi Rp5 juta. Pengepul akan datang untuk membeli ikan asin dan mengecerkan ke pasar tradisional.

Asep, warga Bandar Agung yang memiliki tambak budi daya udang, menyebut warga bisa menjadi nelayan budi daya dan tangkap. Saat menunggu waktu panen udang vaname, ia bisa mencari ikan di laut. Memanfaatkan jaring sondong, ia bisa mendapat udang rebon, ikan selar, kepala batu dan berbagai ikan bahan ikan asin. Hasil tangkapan diolah menjadi ikan asin dengan teknik penjemuran oleh sang istri.

“Anugrah wilayah air payau untuk usaha budi daya tambak udang vaname dan perairan laut untuk mencari ikan laut,” bebernya.

Sektor usaha perikanan budi daya dan tangkap menjadi penopang ekonomi desa di pesisir timur Lamsel tersebut.

Samsul Anwar, kepala Desa Bandar Agung menyebut luasan tambak mencapai ratusan hektare menjadi sumber penghasilan warga. Selain itu, sebagian warga memanfaatkan potensi laut timur untuk menangkap ikan. Kreativitas dan peluang usaha bidang perikanan terus didorong oleh desa.

“Sejumlah wanita dilatih untuk mengolah ikan dan produk turunannnya, seperti kerupuk, terasi dan bahan kuliner lain,” beber Samsul Anwar.

Melalui potensi usaha kecil yang berbasis perikanan, sejumlah warga bisa mendapat penghasilan. Meski saat musim penghujan sektor usaha perikanan budi daya kerap terkendala limpasan sungai Way Sekampung dan banjir rob air laut.

Usulan untuk pembangunan tanggul penahan ombak diakuinya bisa menjadi solusi. Sebab, selain menyelamatkan kampung nelayan juga melindungi sektor budi daya udang vaname di desa yang dipimpinnya.

Lihat juga...