Wisata Tunggal ASEAN Untungkan Indonesia

JAKARTA – Pesona Asia Tenggara sebagai salah satu tujuan wisata dunia tidak pernah pudar. Tidak hanya kaya akan keindahan alamnya, warisan budaya yang ada di kawasan itu juga menjadi daya tarik bagi para pelancong. Potensi itulah yang dilihat Perhimpunan Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN) sebagai satu kekuatan baru, untuk bisa meningkatkan sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi kawasan.

Ajang ASEAN Tourism Forum 2020 yang digelar di Brunei Darussalam, pada 12-16 Januari 2020, menjadi kesempatan bagi pembuat kebijakan untuk mewujudkan visi menjadikan ASEAN sebagai tujuan wisata tunggal itu.

Dalam kegiatan yang mengambil tema “ASEAN-Together Towards a New Generation of Travel”, perwakilan 10 negara ASEAN beserta rekanan, yakni Cina, Jepang, Korea Selatan dan India, hadir untuk mengkaji program kerja dan merumuskan hal-hal yang perlu dilakukan di masa mendatang.

Para menteri pariwisata mencatat 47 dari 73 aktivitas (sekitar 64,4 persen) Rencana Strategis Pariwisata ASEAN (ASEAN Tourism Strategic Plan/ATSP) telah berhasil diterapkan.

Ke depan, para pemimpin negara diharapkan dapat mengimplementasikan program strategis di bawah ATSP, guna mendorong daya saing ASEAN sebagai tujuan wisata tunggal, selain memastikan pariwisata di kawasan itu berjalan inklusif dan berkelanjutan.

Dalam ASEAN Tourism Ministers Meeting yang digelar dalam rangkaian ATF 2020, para menteri mencatat progres dari implementasi tujuh pilar untuk memastikan daya saing ASEAN sebagai tujuan wisata tunggal.

Ketujuh pilar itu, yakni intensify promotion and marketing (mengintensifkan promosi dan pemasaran); diversify tourism product (diversifikasi produk wisata); attract tourism investment (menarik investasi pariwisata); raise capacity and capability of human capital (meningkatkan kapasitas dan kapabilitas sumber daya manusia); implement and expand ASEAN tourism standards for facilities, services and destination (menerapkan dan memperluas standar pariwisata ASEAN untuk fasilitas, layanan dan tujuan); implement and expand connectivity and destination infrastructure (menerapkan dan memperluas konektivitas dan infrastruktur destinasi wisata); serta enhance travel fasilitation (meningkatkan fasilitasi wisata).

Dato Seri Setia Haji Ali bin Apong, Ketua Dewan Pengarah ASEAN Tourism Forum 2020, menuturkan sepanjang 2019, ASEAN telah kedatangan 133,1 juta wisatawan internasional, naik 7 persen dibandingkan 2018, di mana 36,7 persen, atau mayoritasnya, merupakan wisman intra-ASEAN.

Berdasarkan angka-angka tersebut, peran ASEAN sebagai kontributor wisman bagi pariwisata di kawasan dinilai cukup signifikan.

Antisipasi Era Digital

Guna menghadapi era digital, para menteri pariwisata mendukung inisiatif untuk memasukan “digital tourism” sebagai salah satu aktivitas utama yang harus diimplementasikan tahun ini.

Strategi digital tourism diharapkan dapat mendukung pengalaman wisatawan dalam mengakses informasi dan layanan mengenai wisata di ASEAN.

Sebagai langkah awal, ASEAN resmi meluncurkan situs pariwisata terintegrasi di laman visitseasia.travel. Peluncuran situs baru itu dilakukan oleh Putra Mahkota Brunei Darussalam dan Senior Minister at the Prime Minister’s Office, Haji Al-Muhtadeen Billah ibni Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Waddaullah.

“Sekarang karena kita mulai online, ASEAN Tourism Website diharapkan menjadi sumber online terpercaya menangkap minat Asia Tenggara sebagai kawasan untuk menikmati budaya dan cara hidup alami untuk memenuhi permintaan yang meningkat,” kata Dato Seri Setia Haji Ali bin Apong.

Situs baru itu diklaim akan menjadi platform satu pintu bagi pariwisata ASEAN. Situs itu juga diharapkan dapat mendorong kawasan Asia Tenggara sebagai tujuan wisata pilihan bagi wisatawan, untuk merasakan pengalaman budaya dan hidup otentik ala orang ASEAN, mempererat hubungan antarmanusia serta memperdalam pemahaman lintas budaya.

Untungkan Indonesia

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Angela Tanoesoedibjo, yang turut hadir dan menghadiri rangkaian kegiatan ATF 2020 mendukung inisiatif pengembangan ASEAN sebagai destinasi wisata tunggal.

Menurut dia, kampanye menjadikan ASEAN sebagai destinasi wisata tunggal akan menguntungkan Indonesia dalam tiga hal.

Pertama, dapat mempromosikan destinasi Indonesia bersama dengan destinasi dari negara ASEAN lainnya.

“Karena kita mengetahui, negara ASEAN memiliki karakteristik dan keunikan masing-masing, hal tersebut merupakan potensi kekuatan sebagai destinasi wisata tunggal yang kaya dan unik,” katanya.

Ke dua, kampanye ASEAN sebagai destinasi wisata tunggal juga dinilai akan memudahkan wisatawan mancanegara yang berkunjung di Asia Tenggara, untuk berpindah dari satu destinasi ke destinasi lainnya.

Ke tiga, kampanye tersebut juga dinilai akan meningkatkan hubungan diplomasi yang erat antara negara-negara di regional Asia Tenggara.

Angela juga menilai pentingnya menarik wisatawan mancanegara (wisman) ASEAN untuk datang dan berwisata ke Indonesia.

“Potensi negara-negara ASEAN untuk berkunjung ke Indonesia cukup besar, namun yang lebih besar adalah menarik kunjungan wisman yang sudah ada di negara-negara tetangga, agar turut berwisata ke Indonesia,” katanya.

Menurut Angela, potensi wisman dari ASEAN cukup besar dan harus menjadi perhatian. Pasalnya, berdasarkan data yang ada, jumlah kunjungan wisman yang berasal dari Asia Tenggara hingga November 2019 mencapai 5 juta wisman, atau sekitar 33,7 persen dari total wisman yang datang.

“Ini menunjukkan pentingnya ASEAN bagi Indonesia,” imbuhnya.

Indonesia saat ini tengah menyiapkan lima destinasi wisata super prioritas untuk menggenjot kunjungan wisatawan dan devisa dari sektor pariwisata. Kelimanya, yakni Borobudur, Labuan Bajo, Mandalika, Danau Toba dan Likupang.
Untuk mempromosikan lima ‘Bali’ baru itu, khususnya ke ASEAN, strategi digital tourism, yakni pemasaran melalui pendekatan teknologi digital termasuk memanfaatkan big data.
“Promosi akan ditingkatkan berdasarkan strategi long haul dan short haul. ASEAN yang termasuk dalam kategori short haul, promosinya akan ditingkatkan melalui digital tourism,” katanya.

Selain digital tourism, pemerintah juga akan tetap melakukan metode pemasaran konvensional di negara-negara tujuan wisman, dan mendukung industri potensial di Tanah Air untuk mengadakan pameran di luar negeri, agar meningkatkan transaksi penjualan paket wisata.

“Kita juga akan membuat paket-paket wisata ke Destinasi Super Prioritas yang akan didukung dengan kemudahan interconnectivity melalui infrastruktur dan transportasi yang memadai,” katanya.

Lihat juga...