Aksi Pelaku Siswa Seminari BSB Maumere Dilakukan di Asrama

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Perlakuan siswa kelas XII SMA Seminari Bunda Segala Bangsa (BSB) Maumere, kabupaten Sikka, provinsi NTT, yang meletakkan feses di sendok dan menempelkan ke bibir dan lidah siswa kelas VII SMP Seminari BSB dilakukan di asrama.

Aksi tersebut dilakukan di asrama pada hari Rabu (19/2/2020) bukan di dalam ruangan kelas seperti yang disampaikan pihak sekolah kepada kepala dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) kabupaten Sikka.

“Kasus ini terjadi di luar jam sekolah dan terjadi di asrama siswa SMP,” tegas Mayella da Cunha, Pelaksana Tugas (Plt) kepala dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) kabupaten Sikka, provinsi NTT, Rabu (26/2/2020).

Mayella da Cunha, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Sikka Provinsi NTT, saat ditemui, Rabu (26/2/2020). Foto: Ebed de Rosary

Dikatakan Yell sapaannya, dirinya sudah bertemu kepala sekolah Bunda Segala Bangsa karena sekolah ini berada di bawah kewenangan dinas PKO kabupaten Sikka sehingga dirinya meminta kronologi kasus yang sudah beredar luas di media.

Dirinya menjelaskan, seperti biasanya saat jam pelajaran berlangsung maka semua kamar terkunci karena siswa harus mengikuti jam belajar di kelas masing-masing. Ketika dikunci tidak diketahui bahwa di dalam asrama ada siswa kelas VII yang sakit.

“Saat siswa tersebut hendak buang air besar pintunya terkunci sehingga dalam kondisi terdesak dia membuang air besar di kantong plastik dan diletakkan di dalam lemari,” terangnya.

Seperti dijelaskan kepala sekolah, sebut Yell, ketika kamar asrama dibuka dan dicium aroma tidak baik maka sebanyak 77 siswa dikumpulkan dan ditanyai siapa yang melakukan hal ini.

Dia katakan, tidak ada kejadian sampai siswa direcoki dan disuruh makan feses tapi karena berdesak-desakan sendok berisi feses tersebut ada yang sempat mengenai mulut para siswa.

“Sebagai bagian dari kewenangan dinas PKO, maka kami melakukan pembinaan,” ungkapnya.

Sistem pembinaan yang diseminari diistilahkan Sosius teah ditiadakan. Sebab sebenarnya sistem senioritas tidak ada di sekolah ini. Tetapi karena kekurangan pembina maka pihak sekolah meminta siswa kelas XII melakukan pengawasan saja dan tidak ada kewenangan lebih.

“Karena pelakunya siswa kelas XII SMA dan SMA menjadi kewenangan provinsi, maka kita akan melakukan koordinasi dengan dinas Pendidikan provinsi NTT. Saya juga akan memberikan laporan tertulis ke Kementerian Pendidikan dan Kemenko PMK,” ungkapnya.

Ketua DPRD Sikka, Donatus David, mengatakan, pihak DPRD Sikka saat bertemu dengan pihak sekolah memberi solusi agar pihak sekolah harus terbuka dalam kaitan dengan pembinaan-pembinaan di sekolah.

Selain itu kata David, koordinasi antara pemerintah dan pihak lainnya harus berjalan serta pihak sekolah diminta untuk jangan sendiri saja. Terkait ada kasus tersebut pihak sekolah menyampaikan perlakuan tersebut dilakukan kakak kelas terhadap adik kelasnya.

“Kita mengakui persoalan terjadi tetapi di luar kontrol lembaga. Kami berharap agar kedua siswa tersebut jangan dihilangkan hak-haknya karena mereka beberapa bulan lagi mengikuti Ujian Nasional (UN),” jelasnya.

Lihat juga...