Bahan Baku Pembuatan Genteng di Lamsel Mulai Sulit Diperoleh

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Tanah liat bahan baku pembuatan genteng mulai sulit diperoleh para pengrajin. Sarji, pengrajin genteng di Desa Tanjungsari, Kecamatan Palas, Lampung Selatan (Lamsel) menyebut tanah liat didatangkan dari wilayah lain.

Pembuatan genteng di wilayah tersebut sejak tahun 1990 berimbas bahan baku habis. Sebagian pengrajin genteng bahkan memilih menutup tempat usaha.

Sarji, pengrajin genteng di Desa Tanjung Sari Kecamatan Palas, Lampung Selatan menyiapkan stok tanah liat yang mulai sulit diperoleh di wilayah Lampung Selatan, Rabu (26/2/2020) -Foto: Henk Widi

Tanah liat sebagai bahan baku pembuatan genteng menurut Sarji diperoleh dari Kecamatan Sidomulyo dan Sragi. Penggunaan tanah liat yang masif tanpa ada sumber lahan baru berpotensi menghasilkan tanah liat. Lempung sebagai sebutan lain tanah liat memiliki kelenturan yang berbeda dengan tanah biasa. Penggunaan selama puluhan tahun berimbas sejumlah lokasi di desa tersebut tidak memiliki cadangan tanah liat.

Sumber pencarian tanah liat menurut Sarji mengandalkan pasokan dari penjual. Bahan baku tanah liat untuk membuat genteng menurut Sarji harus dibeli dengan harga Rp350ribu. Ia hanya mendapatkan satu bak kendaraan L300 yang bisa digunakan untuk membuat sekitar 5.000 genteng. Penghalusan tanah liat memakai mesin dilakukan untuk menghasilkan bahan yang halus dan mudah dibentuk.

“Tanah liat yang mulai sulit diperoleh berimbas pada kenaikan harga bahan baku sekaligus harga setelah dibuat menjadi genteng, berbeda dengan batu bata yang bisa dibuat memakai tanah biasa,” terang Sarji saat ditemui Cendana News, Rabu (26/2/2020).

Sulitnya mencari bahan baku tanah liat disiasati Sarji dengan memanfaatkan perantara. Sejumlah perantara akan mencari lahan tanah liat yang akan dibeli untuk stok. Tanah liat yang sudah dibeli bisa disimpan dalam waktu lama menggunakan tutup plastik. Tanah liat yang akan dicetak menjadi genteng dihaluskan ulang memakai mesin molen. Setelah dihaluskan tanah bisa disimpan menunggu proses pencetakan.

Selain bahan baku tanah liat untuk membuat genteng, pengrajin mulai kesulitan kayu bakar. Kayu yang dipergunakan sebagai bahan pembakaran genteng sulit kering. Sebab selama penghujan pengepul kayu bakar kekurangan pasokan. Kayu bakar menurutnya lebih mudah diperoleh saat musim kemarau. Sebab sebagian pemilik kebun memilih melakukan penebangan kayu saat kemarau.

“Saat penghujan jenis kayu bakar yang kerap diperoleh dari sengon, jati ambon yang ditebang untuk peremajaan,” tuturnya.

Jusman (kanan) melakukan proses pengangkutan genteng dari tobong di Desa Tanjung Sari Kecamatan Palas, Lampung Selatan, Rabu (26/2/2020). -Foto: Henk Widi

Kayu bakar untuk pembakaran dan tanah liat yang sulit diperoleh berimbas pengrajin menaikkan harga genteng. Pada level pengrajin sebelumnya genteng dijual dengan harga Rp850ribu. Jusman, salah satu pemilik usaha jual beli genteng menyebut harga mencapai level Rp1juta. Sebab sulitnya bahan baku tanah liat, kayu bakar ikut memengaruhi kenaikan biaya produksi.

Berkurangnya jumlah lahan disebut Jusman mengakibatkan kayu bakar sulit diperoleh. Satu mobil L300 ia menyebut kayu bakar dibeli oleh pengrajin dengan harga Rp350ribu. Satu kali proses pembakaran ia membutuhkan kayu bakar sekitar empat hingga lima kubik kayu bakar. Ranting pohon pada perkebunan jati ambon, sengon dan karet kerap jadi pilihan untuk membakar genteng.

“Musim penghujan agak lebih sulit namun pencari kayu kerap mendapatkan dari sungai yang banjir,” papar Jusman.

Kayu bakar pilihan kerap dipesan dari usaha pengetaman. Sebab proses pembelahan kayu menyisakan bagian tepi kayu atau sebetan. Pembakaran genteng memakai kayu bakar juga kerap diselingi penggunaan sekam padi.

Sekam yang diperoleh dari pabrik penggilingan padi menurutnya juga mulai sulit dicari karena memasuki masa tanam padi. Selama masa panen sekam dibeli seharga Rp3.000 perkarung dan naik menjadi Rp5.000 perkarung.

Lihat juga...