Baru Tahun Ini RS St.Gabriel Kewapante Alami Peningkatan Pasien DBD

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Sebagai sebuah rumah sakit swasta yang berada di bagian timur kota Maumere, sekitar 8 kilometer dari pusat kota, RS St. Gabriel Kewapante di kecamatan Kewapante, kabupaten Sikka, provinsi Nusa Tenggara Timur, baru mengalami peningkatan pasien Demam Bedarah Dengue (DBD) tahun ini.

Meningkatnya pasien DBD membuat Bupati Sikka dua kali memperpanjang status Kejadian Luar Biasa (KLB) sejak ditetapkan akhir Januari 2020, karena DBD menyebar di hampir 21 kecamatan di kabupaten Sikka.

“Sejak saya bertugas di rumah sakit ini, baru tahun ini mengalami lonjakan pesat pasien DBD. Namun, tenaga medis kami masih cukup melayani pasien yang ada,” kata Sr. Maria Desaragosa, SSpS, Kepala Bagian Sumber Daya Manusia (SDM) RS St.Gabriel Kewapante, Jumat (21/2/2020).

Suster Osa, sapaannya, mengatakan sejak bertugas di rumah sakit swasta ini pada 2017, baru kali ini mengalami kejadian meningkatnya pasien DBD dan adanya KLB DBD yang diperpanjang, dengan anak-anak menjadi korban.

Menurutnya, rumah sakit ini memiliki laboratorium lengkap, sehingga pasien DBD bisa memeriksakan darahnya dan langsung dapat dideteksi apakah pasien memang menderita demam berdarah.

“Pemerintah sudah melakukan sosialisasi, tetapi semua itu tergantung kepada kesadaran masyarakat. Yang paling penting masyarakat harus sadar menjaga kebersihan lingkungan,” harapnya.

Sumastri warga desa/kecamatan Paga, mengaku anaknya Rafid Junaedi Abdulrahman (1,6) sebelumnya menjalani perawatan sejak Sabtu (15/2/2020) di Puskesmas Paga akibat terserang DBD.

Menurutnya, membludaknya pasien di Puskesmas Paga menyebabkan anaknya dirujuk ke rumah sakit TC Hillers Maumere. Namun karena ruang perawatan di rumah sakit tersebut sudah penuh, anaknya dirujuk ke RS St.Gabriel Kewapante.

“Anak saya baru dua hari dirawat di Puskesmas Paga, terus dirujuk ke rumah sakit ini karena RS TC Hillers juga penuh. Anak saya sudah lima hari dirawat di sini,” tuturnya.

Sumastri mengaku terpaksa menginap di Maumere, karena jarak rumahnya di Paga hingga ke RS St.Gabriel Kewapante mencapai sekira 50 kilometer, dan dirinya menjaga sang anak bergantian dengan suaminya.

Akibat anaknya dirawat, kata dia, sang suami yang berprofesi sebagai nelayan terpaksa libur melaut terlebih dahulu, agar bisa bergantian menjaga sang buah hati di rumah sakit swasta ini.

“Di tempat saya juga banyak yang terserang demam berdarah,” ungkapnya.

Disaksikan Cendana News, pasien DBD memenuhi ruang UGD dan ruang perawatan, namun tidak ada pasien yang terpaksa dirawat di lorong-lorong rumah sakit akibat penuhnya ruang perawatan.

Lihat juga...