Baru Tiga Puskesmas di Sikka Memiliki Alat Tes DBD

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Dari sebanyak 25 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang ada di 21 kecamatan di kabupaten Sikka, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), baru terdapat 3 Puskesmas saja yang memiliki alat tes darah guna mendeteksi pasien yang terkena penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).

Di kabupaten Sikka sendiri terdapat 13 Puskesmas rawat inap, 12 Puskesmas rawat jalan serta 61 Puskesmas Pembantu (Pustu), 120 Pilklinik Desa (Polindes) dan 46 unit Pos Kesehatan Desa (Poskesdes).

“Kami berharap pemerintah bisa memperhatikan peralatan kesehatan apalagi terkait dengan alat tes darah. Ini penting mengingat kabupaten Sikka selalu terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD,” kata Alexander Agato Hasulie, ketua fraksi Nasdem, DPRD Sikka, Jumat (14/2/2020).

Alex sapaannya meminta agar pemerintah kabupaten Sikka melalui dinas Kesehatan bisa mengadakan alat tes darah ini secepatnya mengingat ada anggaran KLB untuk penanganan DBD.

Akibat ketiadaan alat tersebut katanya, banyak pasien harus dirujuk ke RS TC Hillers Maumere untuk dicek darahnya apakah pasien tersebut terserang Demam Berdarah sehingga bisa cepat ditangani.

“Harus segera dianggarkan mengingat saat ini status KLB sehingga semua Puskesmas memilikinya. Kasihan kalau Puskesmas yang jauh dari kota Maumere kalau tidak ada alat ini maka pasien dirujuk ke Maumere,” ungkapnya.

Kepala Puskesmas Kopeta di kota Maumere, Apriani Refanita, SKM membenarkan pihaknya memiliki alat tes darah secara otomatis sehingga Puskesmasnya juga menangani perawatan pasien DBD.

Apriani mengaku tidak bisa memberikan data pasien DBD di Puskesmas tersebut karena petugas yang mengurus data tersebut tidak berada di tempat dan selain itu informasi harus melalui Plt. Kepala Dinas Kesehatan.

“Semua data sudah kami sampaikan ke dinas sehingga bapak bisa tanyakan saja ke dinas. Kami tidak berani memberikan keterangan karena harus satu pintu melalui Plt. kepala dinas,” ungkapnya.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan kabupaten Sikka, Petrus Herlemus, kepada media mengakui benar bahwa hanya ada 3 Puseksmas yang memiliki alat tes darah lengkap dan otomatis seperti Puskesmas Kopeta, Beru dan Magepanda.

Pet sapaannya menyebutkan, alat tersebut memang harganya mahal dimana mencapai sekitar Rp.125 juta per unitnya dan terkait permintaan untuk pengadaan bagi Puskesmas lainnya tentu tergantung dari ketersediaan anggaran,” ujarnya.

Direktur RS TC Hillers Maumere, dr. Clara Y. Francis, membenarkan RS TC Hillers Maumere memiliki alat tes darah lengkap NS-1 yang bisa melakukan tes darah secara otomatis.

Clara menjelaskan, laboratorium darah yang dilengkapi alat tes darah ini bisa mengecek darah termasuk trombositnya untuk mengetahui apakah pasien tersebut menderita DBD ataukah tidak.

“Namanya alat tes darah lengkap dan ada pemeriksaan trombositnya sehingga bisa diketahui apakah pasien tersebut terserang demam berdarah atau tidak,” terangnya.

Sementara itu, pegiat malaria dan dokter spesialis penyakit dalam di RS TC Hillers Maumere, dr. Asep Purnama, menyayangkan masih belum adanya langkah preventif yang dilakukan untuk menangani penyakit demam berdarah ini.

dr. Asep Purnama, pegiat malaria dan dokter spesialis penyakit dalam yang bertugas di RS TC Hillers Maumere, kabupaten Sikka, provinsi NTT, saat ditemui, Jumat (14/2/2020). Foto: Ebed de Rosary

Menurut Asep selama 5 kali KLB harusnya pemerintah kabupaten Sikka sudah harus belajar bagaimana menangani penyakit yang berbasis lingkungan ini sehingga tidak terjadi KLB setiap tahunnya.

“Kita seperti pemadam kebakaran saja sehingga saat terjadi peningkatan kasus DBD dan ada korban meninggal baru semua panik dan mulai menetapkan KLB. Harusnya sebelum musim hujan tiba kita sudah harus berbenah dan membersihkan lingkungan,” tegasnya.

Lihat juga...