BATAN Miliki Kompetensi Pemindahan Bahan Nuklir

Editor: Makmun Hidayat

TANGSEL — Ketatnya protokol pemindahan bahan nuklir dinyatakan Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir (PTBBN) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN)  sebagai upaya dari pemegang kepentingan untuk mencegah dan menghindari risiko paparan radiasi maupun tindak kriminal. Dan protokol ini tidak hanya dilakukan oleh Indonesia tapi juga di seluruh dunia. 

Kepala Bidang Keselamatan Kerja dan Akuntansi Bahan Nuklir (BKKABN) PTBBN BATAN Agus Sunarto menyebutkan transportasi bahan nuklir merupakan suatu tindak memindahkan bahan nuklir dari satu tempat ke tempat lainnya dengan tujuan pengolahan.

“Pemindahan ini bisa dilakukan melalui darat, udara maupun laut. Lewat mana pun, intinya pemindahan tersebut, harus mengikuti protokol yang sudah diatur oleh IAEA. Kenapa harus mengikuti protokol? Ya untuk mengendalikan potensi risiko,” kata Agus saat ditemui di Gedung 20 Kawasan Nuklir Puspiptek Serpong, Kamis (13/2/2020).

Bahan nuklir sendiri, dijelaskan olehnya, adalah suatu bahan yang dapat menghasilkan pembelahan berantai.

“Berdasarkan kategori IAEA, ada lima. Yaitu Uranium alam (N), Uranium Deplesi (D), Uranium Diperkaya, Plutonium dan Thorium,” urainya.

Saat melakukan pemindahan, IAEA mewajibkan untuk memenuhi tiga aspek. Yaitu Safety, Security dan Safeguards atau bisa disebut 3S.

“Kalau di BATAN, yang pernah dilakukan hanya pemindahan melalui darat. Dari PSTN Bandung ke PTBBN di Serpong ini, untuk bahan Uranium Alam dan Uranium Diperkaya,” kata Agus lebih lanjut.

Aspek Safety menurutnya adalah pada sektor pengemasan dan pengecekan paparan radiasi.  “Bahan nuklir itu harus dikemas secara aman, tidak mudah terguling, kokoh, kuat dan tentunya mampu melindungi bahan nuklir yang ada di dalamnya,” ujarnya.

Dan Petugas Proteksi Radiasi (PPR) akan memastikan bahwa shielding yang digunakan mampu menghilangkan paparan radiasi dari bahan nuklir tersebut.

“PPR ini akan mengecek kungkungan. Harus sesuai dengan peraturan Bapeten No. 58 tahun 2015 terkait Keselamatan Radiasi dan Pengamanan Pengangkutan Zat Radioaktif,” urainya.

Ia menambahkan bahwa tujuan aspek safety ini adalah untuk melindungi pekerja yang mengangkut, bahan yang diangkut dan lingkungan sekitar.  Aspek security meliputi semua kegiatan teknis dalam masa pemindahan barang.

“Biasanya ini terkait dengan perencana rute jalan,  waktu pemberangkatan maupun keterlibatan pihak keamanan di luar Batan. Tindakan security ini akan menghindari proses pemindahan dari tindak pencurian dan sabotase,” ungkap Agus.

Aspek terakhir, yaitu safeguards merupakan suatu upaya penerapan peraturan IAEA untuk memastikan bahwa bahan nuklir tersebut tidak dijadikan komponen senjata atau peledak nuklir.

“Jadi ini merupakan sarana. Dan Indonesia sudah terikat dengan perjanjian Non Proliferation Treaty. Kalau tidak salah sekitar tahun 1980an kita menandatanganinya. Safeguards ini meliputi akuntansi, kendali, pengukungan, pengawasan dan verifikasi,” paparnya.

Dengan protokol ini, Agus menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu merasa khawatir terkait proses transportasi bahan nuklir yang dilakukan BATAN.

“Walaupun saat ini BATAN baru memindahkan melalui jalur darat, tapi BATAN memiliki kemampuan dan kompetensi untuk melakukan pemindahan melalui jalur udara maupun laut. Karena semuanya sudah ada protokolnya dan kita tinggal mengikuti, dengan pengawasan BAPETEN dan IAEA,” pungkasnya.

Lihat juga...