BBPOM: Waspadai Dampak Buruk dari Pemutih Kulit

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

Direktur Pengawasan Obat Tradisional dan Suplemen Kesehatan Badan POM RI, Martin Suhendri, yang diwawancarai awak media di Padang, Jumat (28/2/2020). Foto: M. Noli Hendra

PADANG — Penjualan obat pemutih kulit lagi marak dijual di berbagai situs belanja online dan juga media sosial. Karena ingin tampil putih, banyak masyarakat tergiur untuk mengubah kulitnya, dari warna gelap menjadi putih dengan cara yang sangat sederhana.

Balai Badan Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) menyatakan banyak dampak buruk bagi kesehatan apabila menggunakan obat pemutih kulit tersebut. Mulai dari kanker kulit, hingga menimbulkan dampak yang lebih berbahaya dalam jangka panjang yakni di atas usia 50 tahun.

Direktur Pengawasan Obat Tradisional dan Suplemen Kesehatan Badan POM RI, Martin Suhendri mengatakan, penggunaan obat pemutih kulit memiliki dampak yang buruk bagi yang menggunakannya.

Ia menyebutkan, masyarakat perlu tahu bahwa bahan yang digunakan dalam pemutih kulit itu memiliki bahan yang berisiko, yakni menggunakan merkuri (air raksa).

Zat jenis merkuri atau air raksa adalah logam yang pada kondisi normal berbentuk cairan warna abu-abu, yang tidak berbau dan tidak larut dalam air dan alkohol, tapi larut dalam asam nitrat, asam sulfur panas, dan lipid.

Artinya, merkuri adalah bahan aktif yang berdampak dalam pengelupasan epidermis kulit. Dalam jangka panjang, penggunaannya dapat menyebabkan rusaknya fungsi ginjal, sistem saraf, dan timbul masalah psikologis. Parahnya lagi, bagi ibu hamil yang menggunakannya akan berdampak kepada kelainan fungsi otak pada janin dari ibu pengguna pemutih berbahan merkuri tersebut.

“Ciri-ciri yang terlihat dampak dari penggunaan obat pemutih kulit itu, yakni munculnya terakumulasi setelah usia di atas 50 tahun. Di bagian wajah wanita yang menggunakannya akan terlihat flek flek hitam, hal itu sebenarnya adalah kemungkinan terjadi kanker kulit,” katanya di Padang, Jumat (28/2/2020).

Ia menyebutkan meski banyak perempuan beranggapan ada flek-flek hitam di wajah itu soal permasalahan masa datang bulan. Sebenarnya hal bisa dikatakan anggapan yang salah, karena sebenarnya itu tanda-tanda terjadi kanker kulit.

Namun yang perlu diingat bagi kaum wanita, tidak semua flek-flek hitam di wajah dipastikan terkena kanker kulit. Ciri-ciri itu ditunjukkan bagi wanita yang semasa mudanya menggunakan pemutih kulit.

“Kita di BBPOM telah meminta kepada masyarakat, jika ada menemukan iklan-iklan soal pemutih kulit itu, harap lapor ke BBPOM, dan kita bisa meminta pihak terkait untuk menarik iklannya, dan produknya bakal kita lakukan uji lebih lanjut,” tegasnya.

Begitu juga bagi masyarakat Sumatera Barat, jika ada yang menemukan orang yang menjual di tepi jalan, yang menawarkan obat yang dioleskan ke kulit, dengan alasan obat itu bisa memutihkan kulit, harap datangi atau hubungi BBPOM.

“Masyarakat jangan takut, laporkan saja ke BBPOM, dan bakal kita temui orangnya. Tapi kita belum bisa melakukan penindakan, namun yang dilakukan ialah pembinaan bagi yang orang menjualnya. Apabila yang bersangkutan masih bandel, barulah ditindak secara hukum,” sebutnya.

Menurut Martin, terkait penggunaan obat pemutih kulit itu, selain dampak terhadap kesehatan. Ada yang perlu dipahami bahwa apapun warna kulit yang dimiliki adalah pemberian dari Sang Pencipta, maka lebih baik syukuri dan dirawat saja.

“Bersyukur atas apa yang dimiliki adalah cara yang terbaik, mengubah dari apa yang kita dengan cara bisa merugikan diri itu, banyak buruknya, bukan banyak baiknya,” jelasnya.

Lihat juga...