Belajar Tari Kreasi Nusantara di Istana Anak TMII

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Puluhan anak-anak berkostum kaos merah marun berpadu celana hitam, terlihat gerakan tubuhnya sangat gemulai. Untaian tangan seirima dengan hentakan kaki, dan lenggok tubuh yang sedikit jonggok menjadikan gerakan tariannya begitu indah.

Sesekali tubuh mungil mereka pun berputar dengan sambil menepukkan kedua tangannya. Kemudian tubuhnya melenggok ke kiri dan ke kanan dalam iringan musik Melayu.

Mereka para penari beliau itu sedang berlatih tari Zapin di dalam gedung Graha Widya Tama Istana Anak-Anak Indonesia Taman Mini Indonesia Indah (IAAI TMII), Jakarta, Minggu (9/2/2020).

Melika Dinda Raffa, salah satunya terlihat begitu antusias belajar tari Zapin, yakni tarian khas Provinsi Riau.  Melika mengaku sudah satu tahun setengah belajar nari di Istana Anak ini. Dia juga pernah tampil di berbagai acara seperti HUT TMII, Taman Mini Menari dan lainnya.

“Saya sudah bisa tari Gantar, Tortor, Zapin dan tari Semut. Senang ya, kan sering pentas nari juga,” kata Melika kepada Cendana News ditemui usai latihan di Gedung Graha Widya Tama IAAI TMII, Jakarta, Minggu (9/2/2020).

Melika Dinda Raffa dan Irmawati saat ditemui di gedung Graha Widya Tama IAAI TMII, Jakarta, Minggu (9/2/2020). -Foto: Sri Sugiarti

Irmawati, ibunda Melika mengaku bangga karena dengan belajar menari menjadikan anaknya lebih percaya diri. Dan sebagai orangtua, dia mengaku tidak pernah memaksakan anaknya untuk ikut latihan menari.

“Latihan nari ini kemauan Malika, saya tidak pernah maksa. Alhamdulillah dia senang dan lebih penting Malika jadi lebih percaya diri,” ujar Irma kepada Cendana News.

Pelatih Tari Kreasi Nusantara Diklat IAAI TMII, Putri Maulinda Khalifatur Rahman, mengatakan, sanggar ini khusus mengajarkan ragam tarian nusantara yang lebih dikreasikan.

“Indonesia ini kaya akan ragam budaya daerah. Nah, kita latih anak-anak tarian khas daerah, tapi kita kreasikan lagi gerakannya sesuai dengan usia anak. Seperti, tari Zapin khas Melayu ini,” kata Mely demikian panggilan Putri Maulinda Khalifatur Rahman, kepada Cendana News saat ditemui usai melatih.

Menurutnya, setiap gerakan tarian Zapin ini memiliki nilai-nilai filosofis yang terkait dengan kehidupan masyarakat Riau.

Tarian ini telah menjadi lambang dari kemajuan kebudayaan  masyarakat Riau. Dan yang paling menyentuh yakni kentalnya nilai-nilai pendidikan dan religi yang dimasukkan ke dalam syair-syair yang mengiringi tarian Zapin ini.

“Dalam sejarahnya, tiap gerakan memiliki makna yang terkandung didalamnya. Gerakan tarian ini berirama dan terpola,” ujarnya.

Latihan tari kreasi nusantara terdiri dari tiga tingkatan. Tingkat pertama, para penari diajarkan tari Gantar. Ini adalah tarian khas Kalimantan Timur, yang berkisah tentang pergaulan antara muda mudi yang berasal dari Suku Dayak Benuaq dan Dayak Tanjung di Kabupaten Kutai Barat.

Tari Gantar ini memiliki kesulitan pada gerakan di kaki. “Gerakan kakinya lebih rumit, ada gerakan silang di kaki. Tapi kalau sudah bisa nari Gantar ini, akan lebih mudah untuk belajar tarian kreasi nusantara lainnya,” kata Mely.

Karena menurutnya, dengan belajar tari Gantar dalam kesulitan gerakan kaki, maka si anak juga dapat berlatih keseimbangan tubuh saat menari.

“Gimana mereka jaga keseimbangan tubuhnya, dengan satu kaki jinjit dan satu kakinya lagi napak. Jadi pola gerakan kaki dan tubuh harus seimbang,” ujarnya.

Pelatih Tari Kreasi Nusantara Diklat IAAI TMII, Putri Maulinda Khalifatur Rahman, saat ditemui di gedung Graha Widya Tama IAAI TMII, Jakarta, Minggu (9/2/2020). -Foto: Sri Sugiarti

Namun demikian, kata dia lagi, jika si anak masih merasa gerakan tari Gantar ini masih rumit meskipun sudah dikreasikan. Maka, gerakan tarian itu akan lebih dipermudah lagi.

Sehingga jelas dia, tari kreasi nusantara ini dibuat sesuai usia anak, misalnya siswi TK. Kalau mereka mampu menari dengan gerakan kreasi seusiaanak SD, maka akan diajarkan pada mereka. Tetapi apabila tidak sanggup maka gerakan kreasi tarinya akan dirubah lagi dengan tidak menghilangkan nilai tradisi tarian tersebut.

“Kita tanya dulu, gerakan ini bisa nggak, susah nggak. Kalau mereka tidak bisa ikutin, kita rubah lagi gerakannya. Misalnya, gerakan kakinya terlalu rumit, kita olah lagi lebih mudah,” paparnya.

Adapun tingkat kedua, adalah belajar tari Tortor, berasal dari Batak Toba, Sumatera Utara. Tarian ini merupakan tarian sakral untuk upacara tertentu.

Dinamakan tari Tortor karena berasal dari suara gerakan kaki ketika menari berbunyi Tor-Tor.

“Kesulitan gerakan tari ini pada kaki dan tangan. Tari Tortor ini gerakannya kita lebih kreasikan lagi,” ujarnya.

Sedangkan tingkat tiga adalah belajar tari Zapin yang gerakannya lebih dikreasikan untuk mempermudah mereka menari.

Latihan tari kreasi nusantara di Istana Anak ini digelar setiap hari Minggu pukul 10.00-12.00 WIB. Adapun hasil latihan akan diujikan setiap setahun sekali sebagai penilaian layak tidak mereka naik tingkat. “Ujian setahun sekali tiap bulan April pas HUT TMII,” ucap Mely.

Namun demikian dia menjelaskan, sebelum berlatih menari, anak didiknya terlebih dulu berlatih pemanasan gerakan tubuh untuk mempermudah keseimbangan tubuh saat mereka menari.

“Dalam pemanasan ini, kita ajarkan gerak kodok, angin dan air itu seperti apa. Tujuannya untuk perkuat kuda-kuda, keseimbangan tubuh, dan pernapasan,” ujarnya.

Mely mengaku bangga bisa mengajar nari di Istana Anak. Apalagi anak-anak sangat antusias berlatih menari dengan sangat menjiwai. Mereka berasal dari berbagai daerah tapi bersatu dalam tujuan yang sama ingin melestarikan  budaya nusantara.

“Belajar tari kreasi nusantara ini kan tujuan untuk membangun kreativitas anak, dan berpikir lebih kreatif.Saya harapkan mereka bisa lebih cinta budaya daerahnya, dan ikut melestarikan,” ungkapnya.

Apalagi kata dia, selain tiga tari yang diajarkan di atas. Mereka juga diajarkan tari nusantara lainnya, seperti tari kreasi Betawi, tari Semut khas Jawa Timur, yari Kipas khas Makasar, Tari Piring dari Sumatera Barat, dan tarian daerah lainnya.

“Sanggar tari Istana Anak ini wahana edukasi budaya sesuai yang diamanahkan pendiri TMII, yaitu Ibu Tien Soeharto. Kita harus mengenalkan budaya bangsa pada anak usia dini,” ujarnya.

Dengan belajar tari kreasi nusantara, Mely berharap anak didiknya yang berjumlah 32 orang ini dapat mengetahui ragam tarian nusantara dari setiap provinsi dengan ciri khasnya.

Dalam pembangan kreativitas menarinya, mereka juga sering tampil di berbagai acara yang digelar TMII, seperti Taman Mini Menari dan perayaan HUT TMII.

Mereka juga kerap tampil di luar TMII dalam gelaran seni budaya. “Belum lama ini, anak-anak tampil menari di Festival Candi Kembar di Yogyakarta. Mereka menari Zapin, saya sangat bangga sekali. Dan pastinya anak-anak dan orangtuanya juga bangga ya,” pungkasnya.

Lihat juga...