BNNP Jateng Kembali Bongkar Sindikat Peredaran Narkoba

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jateng, kembali membongkar sindikat peredaran narkoba, dengan pengendali dari dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kedungpane Semarang.

Dari hasil pengungkapan tersebut, Tim Pemberantasan Narkoba BNNP Jateng, menyita barang bukti jenis sabu seberat 126,21 gram dan ekstasi 42 butir.

“Tim juga mengamankan tiga tersangka, yakni JD, 30 tahun, sebagai pengantar narkoba, kemudian ALF, 27 tahun, sebagai penerima narkoba dan Harry Kurniawan, sebagai warga binaan Lapas Kedungpane, sebagai pengendali,” papar Kepala BNNP Jateng, Brigjen Benny Gunawan di kantor lembaga tersebut, Jalan Madukoro Semarang, Selasa (25/2/2020).

Kepala BNNP Jateng, Brigjen Benny Gunawan, memaparkan kasus peredaran narkoba yang dikendalikan dari Lapas Kedungpane, di kantor lembaga tersebut, Jalan Madukoro Semarang, Selasa (25/2/2020). -Foto: Arixc Ardana

Dijelaskan, pada 31 Januari 2020 lalu, pihaknya menerima informasi dari masyarakat, akan ada transaksi narkotika di wilayah Pedurungan Semarang.

Menindaklanjuti informasi tersebut, tim berhasil mengidentifikasi beberala orang yang dicurigai akan melakukan transaksi narkotika.

“Tim melakukan penangkapan terhadap JD dan ALF yang sedang transaksi di Jalan Sendang Utara, Pedurungan, Kota Semarang. Modusnya, tersangka JD menyerahkan bungkusan berisi narkotika kepada tersangka ALF, yang menunggu di atas motor,” lanjut Benny.

Tim kemudian melakukan pengembangan dan penggeledahan di tempat kos ALF di Kelurahan Jatingaleh Gg Puskesmas Semarang, serta rumah tersangka di Kelurahan Srondol Kulon Banyumanik Semarang.

Dari hasil penangkapan itu diamankan 9 paket sabu dengan total 126,21 gram dan 42 butir ekstasi. Dari penelusuran diketahui tersangka ALF, diperintah seseorang di Lapas Kedungpane untuk mengambil barang haram tersebut.

“Diketahui dia disuruh mengambil sabu oleh warga binaan Lapas Semarang bernama Harry Kurniawan alias Keling. Ditemukan 1 buah handphone yang digunakan Harry untuk berkomunikasi,” jelas Benny.

Untuk diketahui Benny merupakan napi yang sedang menjalani masa hukuman 12 tahun penjara terkait kasus serupa.

“Dalam pengungkapan ini, kita juga bekerjasama dengan Lapas Kedungpane. Saat ini para tersangka dijerat pasal 132 ayat (1) jo pasal 114 ayat (2) Subsider  pasal 132 ayat (1) jo pasal 112 ayat (2) Uu no.35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman maksimal hukuman mati,” tegas Benny.

Sementara, Kepala Keamanan Lapas Kedungpane, Suparno mengatakan pihaknya akan lebih memperketat pengawasan.

“Selama ini, upaya pencegahan terus dilakukan. Termasuk penggeledahan rutin sel sudah dilakukan, untuk mencari barang- barang yang dilarang seperti telepon genggam dan lainnya. Kita berharap kasus seperti ini tidak terulang kembali,” tegasnya.

Lihat juga...