Buaya Muara Bertelur Resahkan Warga Bandar Agung

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Warga Dusun Bunut Utara, Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan, dibuat resah oleh keberadaan buaya muara (Crocodylus palustris) yang ada di dekat area tambak udang dusun tersebut.

Hasim, salah satu warga yang kerap memancing di dekat jembatan kembar, mengatakan buaya tersebut sedang bertelur di gundukan rumput yang berada di dekat sungai Way Sekampung, yang diduga juga sebagai tempatnya bersarang.

Sejumlah warga yang kerap memancing ikan kakap putih, belanak, mengaku resah, karena buaya rawa berukuran sekitar dua meter tersebut berada di dekat lokasi warga biasa memancing.

Ahmad Rizal, warga Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan, memperlihatkan lokasi buaya rawa bertelur di dekat area tambak warga, Senin (24/2/2020). -Foto: Henk Widi

Lokasi reptil ukuran besar yang hidup di aliran sungai Way Sekampung tersebut bahkan berada di dekat tambak udang. Sejumlah warga, menurutnya kuatir buaya bisa memangsa ternak dan menyerang manusia.

Keberadaan buaya rawa, kata Hasim, bukan hal baru di wilayah tersebut. Sebab, wilayah bantaran sungai Way Sekampung dengan vegetasi rumput gelagah dan berbagai jenis rumput lain, menjadi habitat buaya. Keberadaan buaya tersebut segera dilaporkan ke pihak terkait, agar tidak membahayakan manusia.

“Sudah dilaporkan ke kepolisian dan warga dianjurkan tidak mengganggu, agar buaya yang sedang bertelur tidak pindah ke area tambak atau menyerang manusia,” terang Hasim, saat ditemui bersama sejumlah warga lain di Desa Bandar Agung, Senin (24/2/2020).

Lokasi buaya bertelur yang dekat dengan tanggul penangkis membuat warga juga penasaran. Sejumlah warga melihat buaya tersebut dari jarak yang jauh. Peristiwa buaya masuk ke lahan tambak udang yang dekat dengan sungai Way Sekampung, menurutnya pernah terjadi sebelumnya. Meski demikian, buaya yang tidak diganggu belum pernah menyerang manusia.

Ahmad Rizal, warga Desa Bandar Agung yang juga anggota Kampung Siaga Bencana (KSB) desa setempat, mengaku ikut memantau keberadaan buaya. Sebab, sebulan sebelumnya kawasan tersebut terendam luapan sungai Way Sekampung.

Bantaran sungai yang terendam air dan surut, menurutnya digunakan sebagai lokasi bersarang buaya rawa.

“Buaya rawa habitatnya memang berada di bantaran sungai yang sebagian kini dipakai sebagai lokasi tambak warga,” papar Ahmad Rizal.

Ahmad Rizal menyatakan telah berkoordinasi dengan pihak terkait. Anggota Bhabinkamtibmas, Babinsa dan aparat desa, menurutnya telah melihat ke lokasi. Pada saat ditemukan buaya yang sedang tidak bertelur, upaya mengusir buaya kerap dilakukan dengan umpan ayam. Namun dalam kondisi bertelur, upaya evakuasi buaya cukup sulit.

Dikonfirmasi terpisah, Suhairul, petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung seksi wilayah 3, menyebut buaya merupakan reptil agresif. Ia berharap, penanganan buaya rawa dilakukan dengan hati-hati. Sebab, kondisi buaya tersebut sedang bertelur sehingga memiliki insting menyerang lebih tinggi. Sebab, area untuk bertelur akan dijaga agar tidak ada yang mengusik.

“Meski terlihat ada satu buaya diprediksi jantan di dalam sarang, kemungkinan ada betina yang bertelur,” bebernya.

Menjaga jarak aman dan tidak mengusik buaya menjadi langkah yang tepat. Meski berada di dekat area tambak, diharapkan warga tidak mengusik keberadaan buaya yang sedang melalukan reproduksi tersebut.

Rencana evakuasi atau memindahkan buaya dari lokasi bertelur, akan sulit dilakukan jika telur belum menetas. Ia berharap, warga bisa menghindari lokasi tempat bertelur buaya tersebut. (Ant)

Lihat juga...