Bubur Kampiun Khas Sumbar Paduan Empat Jenis Kuliner

Editor: Koko Triarko

PADANG – Masyarakat di Sumatra Barat, sudah tidak asing dengan menu bubur kampiun. Bubur yang disajikan dengan mencampurkan empat jenis bubur ini, membeirkan sensai rasa manis dan gurih, dengan teksur yang lembut. Bubur kampiun dibuat dengan mencampurkan empat jenis kuliner tradisional yakni kolak pisang, bubur putih, bubur ketan hitam, dan kolak kacang hijau.

Pedagang sarapan pagi di Pantai Padang, Beti, mengatakan, resep bubur kampiun sebenarnya tidak sulit, karena pada dasarnya hanya tinggal mencampurkan beberapa jenis bubur, seperti campuran dari kolak pisang, kolak kacang hijau, bubur putih, dan bubur ketan hitam.

Beti menjelaskan, untuk menjual bubur kampiun itu, ia harus memasang empat wajan sekaligus dengan rasa yang berbeda. Seperti untuk kolak pisang, dimasak dengan rasa khusus kolak pisang. Soal bumbunya, sama saja dengan bumbu kolak pisang pada umumnya, yaitu gula merah, garam dan daun pandan.

Beti tengah menyajikan bubur kampiun yang dijualnya di kawasan Pantai Padang, Sumatra Barat, Sabtu (29/2/2020)/ Foto: M. Noli Hendra

“Setelah semua bahan tersebut tercampur, baru masukkan potongan pisang lalu aduk hingga pisang masak, kemudian angkat dan sisihkan,” jelasnya, Sabtu (29/2/2020).

Setelah benar-benar telah masak dengan menampakkan warna agak kecoklatan, selanjutnya memasak bahan campuran untuk buburnya, yaitu bubur putih. Prosesnya terlebih dahulu santan hingga mendidih dengan campuran garam dan daun pandan. Setelah itu masukkan larutan tepung beras, dan aduk terus hingga matang.

“Tandanya sudah matang adalah bubur menjadi kental, angkat, dan pindahkan ke tempat yang lebih mudah untuk disajikan,” jelasnya.

Begitu juga untuk bubur ketan hitam, membuatnya tidak terlalu rumit, hanya perlu merebus beras dalam kondisi sangat basah. Tapi beras direbus, proses awalnya beras ketan hitam harus direndam kurang lebih tiga jam, agar benar-benar lembut saat dimasak dan dijadikan bubur.

“Bentuknya tidak cair seperti bubur putih. Tapi tampian bubur ketan hitam ini lebih basah dari nasi. Soal rasa, ada rasa manisnya, karena ditaburi sedikit gula merah,” ujarnya.

Dari keempat bubur itu selesai dibuat, saatnya melahirkan cita rasa bubur kampiun. Untuk langkah ini, tidak terlau rumit atau perlu keahlian khusus.

Beti menyebutkan, penyajian kuliner bubur kampiun ini, sesuai porsi yang diiginkan. Misalnya, ingin menggunakan wadah cembung, maka takaran yang cocok untuk porsi sarapan pagi, ambil satu sendok nasi bubur ketan hitam, dua sendok nasi bubur putih, selanjutnya disesuaikan saja campuran dari kolak pisang dan kolak kacang hijaunya.

“Jika ingin rasa lebih lezat, bisa tambahkan roti tawar, setelah itu ditambah lagi kuah dari kolak pisangnya. Agar mendapatkan rasa yang menyatu dari empat rasa bubur itu, aduk terlebih dahulu sebelum diseduh dan santap,” ucapnya.

Terkait sejarahnya sehingga lahir nama bubur kampiun, Beti mengaku tidak tahu pasti. Intinya, bubur kampiun merupakan bubur yang dinikamti oleh masyarakat di Sumatra Barat dari berbagai kalangan, dengan harga yang terjangkau.

Di Kota Padang, harga bubur kampiun bervariasi, mulai dari Rp5.000 hingga Rp10.000 per porsi. Makin banyak campuran buburnya dan makin besar pula wadah yang digunakan, harganya akan lebih mahal.

“Bubur kampiun adalah salah satu sarapan pagi yang paling laris. Rasa manis yang dipadukan dari empat bubur itu, membuat orang yang menikmatinya dapat menjalani hari-hari lebih semangat,” sebutnya.

Salah seorang warga Kota Padang, Ronal, mengatakan, berbicara soal kuliner di Ranah Minang, tidak perlu diragukan lagi. Termasuk bubur kampiun itu, yang memang banyak yang menyukainya.

“Saya sudah rutin sarapan bubur kampiun ini. Anak-anak saya juga suka. Karena di dalam satu porsi itu kita mendapatkan empat rasa, bisa dapat rasa kolak, dan bubur-bubur lainnya,” jelasnya.

Ronal mengaku hampir sepanjang jalan pusat kota atau pun di tempat keramaian, ada pedagang kaki lima yang menjual bubur kampiun tersebut. Soal harga tergantung kondisi porsi yang disediakan si penjual.

“Bubur kampuin itu manisnya tidak membuat selera jadi bosan. Coba bayangkan, kolak pisang dicampur dengan bubur putih, wah sungguh lezat,” ungkapnya.

Lihat juga...