Corona Sebabkan Industri Umrah Kehilangan Kesempatan Untung Rp2 Triliun

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Ketua Sarikat Penyelenggara Umrah Haji Indonesia (SAPUHI) mengungkapkan bahwa Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) berpotensi gagal meraup keuntungan hingga Rp2 triliun atas kebijakan penghentian umrah oleh Saudi akibat wabah virus corona.

“Ini bukan kerugian, tapi peluang mendapat keuntungan, itu ditaksir kita bisa lost sekitar Rp2 triliun jika memang fiks penghentian ini berlangsung selama 14 hari,” ujar Syam, Jumat (28/2/2020) di Jakarta.

Syam menjelaskan bahwa angka tersebut muncul bila berkaca pada tren keberangkatan jamaah umrah dalam lima bulan terakhir, rata-rata setiap bulan PPIU memberangkatkan 110.000 jamaah.

“Jadi lima bulan kan 550.000 jamaah. Nah kalau kita bulatkan menjadi 100.000 jamaah per bulan, maka apabila 14 hari (2 minggu) dihentikan tentu akan ada 50.000 jamaah yang tidak berangkat. Lalu kita kalikan dengan harga referensi umrah dari Kemenag yaitu Rp20 juta, ini saja hasilnya sudah Rp1 triliun. Kalau ternyata penghentiannya lebih panjang, ya lebih besar juga peluang itu lepas,” paparnya.

Syam juga mengatakan bahwa hingga saat ini belum ada jamaah yang meminta keberangkatannya dibatalkan dan uangnya dikembalikan. Namun ia memperkirakan akan tetap ada jamaah yang meminta hal itu.

“Sampai saat ini belum ada, karena kan memang baru satu hari. Mereka (jamaah) masih memantau terus perkembangannya. Tapi mungkin akan ada satu dua orang yang tidak mau di-reschedule karena masalah waktu, pekerjaan dan sebagainya. Tapi itu minimal. Mayoritas saya yakin tetap mau dijadwal ulang,” tandas Syam.

Lebih lanjut Presiden Direktur Patuna Travel ini juga mengatakan bahwa pemerintah Indonesia tidak memberikan insentif apa pun bagi para pelaku industri umrah.

“Pemerintah hanya mengimbau agar semua stakeholder tidak mengambil keuntungan apa pun dari kasus ini,” sambung Syam.

Lihat juga...