Dasa Wisma Lestarikan Budaya Menenun di Sikka

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Budaya menenun kain tenun di kabupaten Sikka, provinsi Nusa Tenggara Timur, berbeda bila dibandingkan dengan wilayah lainnya.

Di NTT  kain tenun yang dihasilkan benangnya setelah dikerjakan di kayu persegi panjang, diikat terlebih dahulu untuk membentuk motif sesuai keinginan dengan menggunakan tali dari daun Lontar atau tuak.

Kehadiran kelompok Dasa Wisma lewat kegiatan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK)  sangat berperan besar  melestarikan budaya menenun di masyarakat.

“Hampir semua kelompok Dasa Wisma anggotanya memiliki keterampilan menenun sehingga selalu membuat tenun ikat,” kata Mathilda Bunga Ros, anggota PKK di desa Habi, kecamatan Kangae, kabupaten Sikka, Minggu (23/2/2020).

Mathilda Bunga Ros (tengah) bersama Maria Reso (kanan) dan Maria G (kiri) yang ditemui saat pameran kerajinan tangan di halaman kantor camat Kangae, kabupaten Sikka, Minggu (23/2/2020). Foto: Ebed de Rosary

Ros menyebutkan, kain tenun yang dihasilkan selain untuk dipergunakan sendiri juga untuk dijual kepada tetangga serta masyarakat umum. Setiap ada kegiatan PKK baik di desa maupun di kecamatan.

Menurut dia, kehadiran kelompok Dasa Wisma sangat berperan besar dalam menghidupkan budaya menenun di masyarakat kabupaten Sikka. Bukan hanya di desa saja tetapi perempuan di kota Maumere juga mahir menenun.

“Kalau di kota Maumere biasanya yang menenun perempuan yang sudah menikah dan tidak bekerja. Mereka biasanya berumur di atas 40 tahun sementara yang berusia di bawahnya lebih banyak bekerja di luar rumah,” tuturnya.

Laurensia Dafrice, ketua kelompok Dasa Wisma Bina Kasih, desa Kokowahir, kecamatan Kangae, menambahkan, kemampuan menenun membuat para perempuan selalu menggunakan kain tenun hasil karyanya di rumah atau ketika beraktivitas di luar rumah.

Kain tenun juga kata dia, biasa dikenakan para perempuan saat acara-acara PKK di desa maupun di kecamatan. Serta berbagai kegiatan pesta dan acara adat sehingga kebutuhan kain tenun ikat terus ada.

“Untuk belis atau hantaran sebelum menikah juga harus membawa kain tenun.T ermasuk juga ada kerabat yang meninggal dunia maka saat melayat harus membawa kain tenun untuk diberikan kepada keluarga berduka,” tuturnya.

Di kelompok Dasa Wisma, kata Sia sapannya, selain mengolah makanan lokal untuk dijual, beberapa anggota juga menenun untuk dipergunakan sendiri dan dijual kepada anggota kelompok atau masyarakat di sekitar tempat tinggal.

Ada juga yang menjual ke pasar ucapnya, ketika sedang membutuhkan uang tunai karena ada kebutuhan mendesak seperti membayar uang sekolah maupun urusan pesta atau kematian anggota keluarga.

“Kain tenun yang dibuat biasanya dari harga murah Rp.300 ribu maupun yang harganya Rp.1 juta per lembar. Mahalnya kain tenun tergantung kepada kualitasnya, motif serta pewarna yang digunakan dimana kain tenun yang dibuat dengan pewarna alam harganya bisa Rp.1,5 juta,” terangnya.

Kelompok Dasa Wisma menurut Sia, sangat penting agar bisa menggerakkan ekonomi keluarga dimana para perempuan yang sudah menikah dan tidak bekerja di luar rumah bisa berusaha di kelompok Dasa Wisma untuk mendapatkan tambahan penghasilan.

“Kain tenun juga bisa dijadikan aset yang bisa dijual bila sedang membutuhkan uang tunai. Di kantor pegadaian pun kain tenun bisa dijadikan jaminan dalam meminjam uang,” pungkasnya.

Lihat juga...