Daur Ulang Plastik Cara Desa Pasuruan Tekan Sampah

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

LAMPUNG — Mengatasi permasalahan sampah di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel) yang memiliki pasar tradisional, membuat pemerintah desa setempat menerapkan proses pemilahan organik dan nonorganik. Langkah tersebut langsung ditangani oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes).

Sumali, Kepala Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan saat ditemui Cendana News, Rabu (26/2/2020). Foto: Henk Widi

Sumali, Kepala Desa setempat menyebutkan,  pemilahan sampah memiliki banyak tujuan, di antaranya mencegah dari penyebaran penyakit hingga nilai tambah secara ekonomi bagi masyarakat.

“Siklus sampah yang bisa diurai, di daur ulang telah dikelola oleh masyarakat sesuai dengan manfaat yang bisa diterapkan, seperti plastik bisa menjadi hasil kerajinan, sampah organik menjadi pupuk melalui komposter,” terang Sumali saat ditemui Cendana News di kantor desa Pasuruan, Rabu (26/2/2020).

Saat ini puluhan komposter terbuat dari drum plastik telah menghasilkan pupuk cair dan padat. Jenis pupuk organik cair (POC) yang diperoleh menurutnya diterapkan pada tanaman sayuran, tanaman obat keluarga (Toga) di depan balai desa setempat.

Sejumlah botol bekas air minum yang dibuang bisa dimanfaatkan sebagai pot untuk menanam sayuran, bunga sekaligus menjaga lingkungan kantor desa tetap hijau. Hasil tanaman obat bahkan dimanfaatkan untuk membuat jamu.

Pemilahan yang dilakukan pada lokasi khusus sekaligus menjadi bank sampah menjadi cara mengedukasi masyarakat.

“Edukasi kepada masyarakat penting dilakukan agar sampah dibuang pada tempatnya, dipilah sesuai manfaatnya,” beber Sumali.

Pengolahan sampah plastik dari pasar Pasuruan dilakukan oleh anggota PKK. Kelompok Kerja (Pokja) Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K). Hasilnya sejumlah produk bermanfaat seperti celemek, tas belanja, aksesoris dihasilkan.

Yulita, salah satu anggota PKK Pokja UP2K menyebutkan, daur ulang sampah plastik telah lama dilakukan. Berbagai kemasan plastik tersebut diubah menjadi tas belanja, celemek dan peralatan yang masih bisa dimanfaatkan dalam kehidupan sehari hari.

“Tas belanja, celemek banyak diminati oleh sejumlah ibu rumah tangga dengan harga puluhan ribu tapi awet,” tutur Yulita.

Multimanfaat yang bisa didaur ulang (Recycle) membuat warga tidak sembarangan membuang sampah. Selain menjaga kebersihan lingkungan, bisa menjadi barang bernilai jual. Melalui keberadaan bank sampah warga diedukasi untuk mengumpulkan sampah yang bisa didaur ulang dan bisa menghasilkan uang.

Lihat juga...