DBD di Sikka 768 Kasus, 6 Anak Meninggal Dunia

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Penyakit berbasis lingkungan Demam Berdarah Dengue (DBD) di kabupaten Sikka,provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) meningkat drastis selama tahun 2020 sejak bulan Januari dan membuat Puskesmas dan 3 rumah sakit di daerah ini dipenuhi pasien DBD.

Meskipun status Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD sudah diperpanjang selama 2 kali sejak ditetapkan akhir Januari 2020 lalu, namun kasus DBD terus meningkat hingga merenggut korban jiwa anak-anak sebanyak 6 orang.

“Benar pasien DBD yang meninggal dunia sebanyak 6 orang. Hingga kemarin jumlah pasien sudah mencapai 768 orang,” sebut Pelaksana Tugas (Plt) kepala dinas Kesehatan kabupaten Sikka, Petrus Herlemus, Jumat (21/2/2020).

Dikatakan Pet, sapaannya, korban yang meninggal terakhir bernama Livia Putri berusia 4 tahun berasal dari Dihit Nanga dan oleh orang tuanya dibawa untuk menjalani perawatan medis di RS Sta. Elisabeth Lela.

Namun RS Sta. Elisabeth Lela, kata dia, langsung merujuk pasien tersebut ke RS TC Hillers Maumere. Setelah tiba di ruangan UGD balita tersebut tidak respon saat dicek kesehatannya dan dinyatakan telah meninggal dunia.

“Rumah sakit Sta. Elisabeth Lela langsung merujuk pasien tersebut ke RS TC Hillers Maumere karena ditemukan tanda-tanda bahaya. Namun pasien rupanya telah meninggal saat dalam perjalanan dari Lela ke Maumere,” terangnya.

Balita tersebut sebelumnya mengalami sakit dan oleh orang tuanya, kata Pet, dibawa berobat ke dukun padahal anak tersebut terserang DBD. Saat dibawa ke RS Sta. Elisabeth Lela kondisi anaknya sudah shock sehingga terlambat mendapat penanganan medis.

Praktisi malaria yang juga dokter spesialis penyakit dalam di RS TC Hillers Maumere, dr. Asep Purnama mengatakan, penanganan DBD kata kuncinya terletak pada penanganan vektor. Yakni nyamuk dan jentik Aedes Aegypti secara serentak, bukan sporadis sebab tidak akan efektif.

dr. Asep Purnama, dokter spesialis penyakit dalam saat ditemui di RS TC Hillers Maumere, kabupaten Sikka, provinsi NTT, Jumat (21/2/2020). Foto: Ebed de Rosary

Menurut Asep sapaannya, cara efektif dilakukan dengan gerakan memantau jentik dimana setiap rumah melakukannya sendiri-sendiri di lingkungan rumahnya serta membersihkan lingkungan sekitarnya.

“Cara efektif dilakukan hanya dengan memantau jentik baik di rumah-rumah maupun di lingkungan sekitar tempat tinggal kita. Gerakan 4 M Plus harus dilakukan secara total sebab fogging hanya memberantas nyamuk dewasa saja,” terangnya.

Nyamuk Aedes Aegypti kata Asep, bukan hanya berkembang biak di rumah tetapi sudah mulai ada di tempat-tempat umum seperti sekolah, tempat ibadah dan tempat-tempat umum lainnya sehingga harus ada gerakan kebersihan secara total.

Data yang diperoleh dari RS TC Hillers Maumere menyebutkan, jumlah pasien yang ditangani rumah sakit ini hingga tanggal 20 Februari 2020 sudah mencapai 588 kasus, dimana bulan Januari sebanyak 282 kasus dan Februari sejumlah 306 kasus.

Jumlah pasien bulan Januari terdiri dari anak-anak 171 pasien, sementara dewasa sebanyak 111 orang sedangkan bulan Februari hingga tanggal 20 jumlah anak-anak yang dirawat 225 orang dan dewasa 81 orang.

Untuk diketahui, DBD sebelumnya telah menyebabkan 5 orang anak di kabupaten Sikka meninggal dunia meskipun coba dilakukan penanganan medis namun kondisi pasien sudah tidak bisa tertolong.

Pasien demam berdarah yang meninggal di RS TC Hillers Maumere yakni Elisabeth Maria, balita berusia 1,7 tahun meninggal Selasa (7/1/2020), sementara Yohanes Yuliano Putra Bang umur 2,7 tahun, Selasa (21/1/2020).

Selain itu, Adrianus A. Tani Wangge berusia 6 bulan yang meninggal Rabu (5/2/2020) dan Rifalno Susanto Yulfrus usia 4 tahun asal desa Nitakloang kecamatan Nita yang meninggal, Jumat (14/2/2/2020) malam.

Sementara seorang pasien lainnya bernama Feradensia Akulia Trifena, 12 tahun, yang meninggal Selasa (4/2/2020) dirawat di RS Sta. Elisabeth Lela kecamatan Lela.

Lihat juga...