DCML di Cilacap Rintis Produksi Gagang Sapu

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

CILACAP – Berbagai inovasi terus dilakukan Desa Cerdas Mandiri Lestari (DCML) Madura di Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap. Saat ini mereka tengah merintis pabrik yang memproduksi gagang sapu dan sudah mulai beroperasi satu minggu.

Ketua KUD Mandiri Lestari Sejahtera, Puji Heri Santoso, mengatakan, koperasi mempunyai gagasan untuk membuat pabrik gagang sapu, karena melihat limbah kayu yang tidak dimanfaatkan. Kemudian gagasan tersebut diajukan ke Yayasan Damandiri dan disetujui.

Ketua KUD Mandiri Lestari Sejahtera, Puji Heri Santoso, Selasa (4/2/2020) ditemui di kantor koperasi. Foto: Hermiana E. Effendi

“Untuk modal awal Rp 35 juta dan kita pergunakan untuk menyewa gedung serta membeli bahan baku dan membayar pekerja. Sewa gedung yang untuk pabrik Rp 450.000 per bulan,” kata Heri.

Untuk awal produksi ini, pihak koperasi baru memperkerjakan dua orang karyawan, karena mesin yang untuk membuat gagang sapu baru ada satu. Dalam satu hari, produksi gagang sapu mencapai 500 batang dan ditargetkan nantinya bisa meningkat menjadi 1.000 batang per hari.

Lokasi pabrik sapu tersebut terletak di Dusun Purwosari, Desa Madura, Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap. Bangunan seluas kurang-lebih 500 meter persegi tersebut, disewa dari perorangan.

Terkait bahan baku gagang sapu, Heri mengatakan, ia membeli kayu tahunan dari beberapa desa tetangga. Untuk kayu ukuran 1 x 1,5 meter, dibeli dengan harga Rp 450 dan setelah diolah menjadi gagang sapu, bisa dijual dengan harga Rp 900.

“Bahan baku murah, karena kita menggunakan limbah kayu yang belum dimanfaatkan, kayu log bulat biasanya hanya diambil bagian tengahnya dan kita membeli yang sisa bagian pinggirnya,” terangnya.

Selain gagang sapu, mereka juga memproduksi gagang pel. Ukuran panjang gagang sapu dan gagang pel ada tiga macam, yaitu 70 centimeter, 80 centimeter dan 90 centimeter, dengan diameter 2,1 centimeter dan 1,9 centimeter.

Menurut Heri, pasar gagang sapu ternyata sangat banyak. Bahkan pihaknya belum mampu memenuhi permintaan produksi dari beberapa pedagang sapu.

Penjualan gagang sapu ini, rencananya akan dijual ke Bandung, Madiun dan Kroya. Pedagang sapu dari tiga daerah tersebut, datang ke pabrik secara berkala untuk mengambil gagang sapu.

“Kalau permintaan, itu sampai 30.000 batang sapu dan kita belum bisa memenuhi, karena produksi kita baru 500 batang per hari. Ini baru awal, nantinya secara bertahap, akan kita tambah pekerja dan mesin, sehingga produksi bisa meningkat,” tuturnya.

Salah satu pekerja, Andi mengatakan, keberadaan pabrik gagang sapu sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Ia yang semula belum mempunyai pekerjaan, sekarang sudah mempunyai penghasilan.

“Saya jadi punya kepekerjaan, sekarang mencari kerja sulit, sehingga pabrik gagang sapu ini sangat menolong saya,” katanya.

Lihat juga...