Dermaga Rusak di Pulau Rimau Balak, Butuh Perbaikan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Kondisi dermaga sandar perahu di pulau Rimau Balak, Lampung Selatan (Lamsel) mengalami kerusakan.

Sukirdi, kepala Sekolah SDN 5 Sumur, Desa Sumur, Kecamatan Ketapang menyebut dermaga mengalami kerusakan pada bagian tiang cor penopang. Beberapa tiang penopang roboh berimbas papan kayu penahan tidak bisa digunakan.

Sukirdi, Kepala Sekolah SDN 5 Sumur Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, saat ditemui Cendana News, Sabtu (22/2/2020) – Foto: Henk Widi

Dermaga yang dibangun dengan panjang kurang lebih 20 meter lebar 1,5 meter itu masih dipakai sebagai lokasi tambat perahu. Fasilitas dermaga menurut Sukirdi memiliki fungsi yang banyak bagi warga pulau.

Sebab distribusi barang hasil pertanian kerap memakai dermaga yang langsung menghadap pulau Sumatera itu. Dermaga juga menjadi akses bagi orangtua yang mengantar anak untuk bersekolah.

Kerusakan dermaga menurut Sukirdi telah berlangsung sejak dua tahun terakhir. Secara swadaya masyarakat membuat dermaga darurat memakai tiang pancang kayu, bambu diantara pohon mangrove.

Keberadaan pohon mangrove menurut Sukirdi cukup membantu sebagai lokasi tambat perahu. Sebab selain menuju dermaga Keramat, perahu juga bisa menuju ke dermaga Muara Piluk di Bakauheni.

“Bagi aktivitas pendidikan dermaga sangat vital karena menjadi lokasi sandar guru pengajar yang sebagian berasal dari desa di daratan Sumatera pulang pergi memakai kapal motor,” terang Sukirdi saat dikonfirmasi Cendana News, Sabtu (22/2/2020).

Sukirdi menyebut dari sekitar 40 siswa di SDN 5 Sumur sebagian harus memakai perahu. Ia telah mengusulkan infrastruktur dermaga kepada pihak terkait agar aktivitas berjalan lancar.

Sumbangan dari pihak terkait untuk mendukung kegiatan para siswa disebut Sukirdi pernah diberikan. Bantuan berupa kapal motor untuk guru dan siswa berasal dari Dinas Pendidikan Lamsel.

Usulan kepada dinas terkait menurutnya telah disampaikan agar infrastruktur pendukung diberikan. Beruntung tambahan lokal belajar sebanyak dua ruang menjadi tiga ruang cukup membantu sekolah.

Sebab sebelumnya siswa sebanyak 40 orang sebagian harus belajar pada ruangan yang disekat. Tambahan ruang belajar menurutnya didukung juga fasilitas perpustakaan dan buku.

“Bantuan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar sudah ada tapi kami tidak punya fasilitas toilet dan dermaga rusak,” keluh Sukirdi.

Ia juga menyebut usulan melalui kegiatan Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrembang) telah disampaikan. Melalui pembangunan dermaga yang lebih representatif diharapkan kegiatan pendidikan akan berjalan lancar.

Sebab selama ini perbaikan dilakukan oleh warga secara swadaya. Perbaikan swadaya dilakukan agar mobilitas warga pulau berjalan lancar.

Hasan, salah satu warga sekaligus orangtua siswa SDN 5 Sumur menyebut fasilitas dermaga sangat vital. Sebab keberadaan dermaga dimanfaatkan warga untuk mengakses wilayah lain yang sulit dijangkau melalui akses darat.

Hasan (jongkok) di atas perahu kayu bermesin menjemput sang anak yang bersekolah di SDN 5 Sumur, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, Sabtu (22/2/2020) – Foto: Henk Widi

Perjalanan dengan perahu menurutnya bisa ditempuh hanya dalam waktu 15 menit ke sisi pulau sebelah timur.

“Tanpa dermaga tambat perjalanan melalui darat bisa mencapai setengah jam lebih dan kondisi jalan berlumpur,” beber Hasan.

Saat kondisi cuaca buruk ia menyebut tidak mengantar jemput sang anak. Perjalanan darat hanya dilakukan saat kondisi cuaca perairan sedang bersahabat.

Perbaikan dermaga sandar menurutnya akan mempermudah akses bagi warga. Sebagian warga yang memiliki perahu memilih mengantarkan sang anak menggunakan perahu sekaligus berbelanja ke pulau Sumatera.

Lihat juga...