Dinas Berdayakan 10 Penenun di Sentra Jata Kapa Sikka

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM kabupaten Sikka, provinis Nusa Tenggara Timur, memberdayakan para penenun dan penjahit untuk memanfaatkan sentra tenun ikat Jata Kapa. Sebanyak 7 penenun dan 3 orang penjahit dalam sebulan diberi insentif Rp1 juta, mengingat pekerjaan baru dilaksanakan dan ke depann upah akan ditingkatkan, bila sudah berpoduksi normal.

“Kami memiliki 28 mesin dengan rincian, pelubang kancing 2, bordir manual 3, komputer 2, mesin jahit 5 serta mesin obras dan neci 6 buah. Juga ada mesin motif 5 dan mesin jahit kaus, sepatu dan tas sejumlah 5 unit,” sebut Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perdagangan, Kopreasi dan UKM kabupaten Sikka, Tadeus Pega, Selasa (25/2/2020).

Dijelaskan Tadeus, semua peralatan tenun, mesin serta bangunan merupalan bantuan dari Kementerian Perindustrian RI tahun anggaran 2016, yang pengelolaannya dilakukan pemerintah kabupaten Sikka.

Kepala Bidang Perindustrian Dinas Pergangangan,Koperasi dan UKM kabupaten Sikka, provinsi NTT, Tadeus Pega, saat ditemui di sentra Jata Kapa, Selasa (25/2/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Diakui, dalam melakukan kegiatan pihaknya masih mengalami kesulitan Sumber Daya Manusia (SDM), penjahit masih terbatas sehingga butuh pelatihan keterampilan menjahit.

“Dalam minggu ini sedang proses untuk menghasilkan 3 lembar kain tenun ikat. Kami rencanakan tempat ini akan dijadikan konveksi busana tenun ikat,” jelasnya.

Untuk mengembangkan sentra tenun ikat Jata Kapa, kata Tadeus, pihaknya masih membutuhkan penambahan anggaran, yang disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.

Dirinya berharap, agar dana tersebut bisa dianggarkan tahun-tahun mendatang, agar ke depan dapat meningkatkan produksi di bidang tenun dan dari hasil tenun ini akan diolah menjadi busana dan sovenir.

“Dari hasil tenun ini kita akan mencoba menjadikan salah satu sumber pendapatan daerah. Hingga saat ini, sudah dihasilkan busana dan sovenir 115 buah,” terangnya.

Busana dan sovenir yang dihasilkan berupa baju kemeja tenun ikat 10 lembar, blus 10, tas jinjing 15, domepet 5 serta bandana 35. Juga gelang 10 buah, ikat rambut 10, gantungan kunci 10 dan sarung kotak tisu 10 buah yang dikerjakan oleh 3 orang penjahit.

Maria Tereja, ketua kelompok Mawarani di Wairklau, kota Maumere, mengatakan, pihaknya diminta untuk bekerja di sentra tenun ikat Jata Kapa, sehari 6 jam bekerja.

Tereja mengaku sebelum bergabung di sentra tenun ikat Jata Kapa, anggota kelompoknya biasa menenun di rumah masing-masing, sehingga sebulan hanya hasilkan selembar kain tenun saja.

“Kalau di tempat ini kita kerja 6 jam, dan secara bersama-sama dan membagi setiap proses kerjanya. Dalam seminggu bisa menghasilkan selembar kain tenun ikat menggunakan pewarna kimia,” tuturnya.

Tereja menyebutkan, kain tenun ikat yang dihasilkan masih menggunakan pewarna kimiawi, karena bahan pewarna benang secara alami sulit ditemukan, separti Tarum dan Mengkudu yang harus diambil dari wilayah lain di pulau Flores.

Lihat juga...