Dirut MRT: Parkiran di DKI Harus Ditambah

JAKARTA — PT MRT Jakarta menilai banyak hal yang harus dilakukan menyikapi pernyataan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi bahwa hanya 35 persen warga Jakarta yang naik transportasi umum.

“Berbagai hal harus dilakukan termasuk memperbanyak lokasi parkir (park dan ride)” kara Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar, Kamis (13/2/2020).

Dia menyebutkan bahwa untuk menyelesaikan masalah transportasi Jakarta tidak bisa hanya satu pihak saja, seperti MRT yang baru memiliki panjang trek 16 kilometer (km). “Tidak akan bisa, tapi sudah mulai dirasakan dimana tingkat kemacetan (menurut lembaga survei Tomtom) turun dari peringkat empat ke 10,” katanya.

Tapi itu belum cukup. “Yang bisa kita lakukan mempercepat pembangunan jalur MRT ke Utara dan yang terbentang Timur ke Barat, peningkatan integrasi serta perbanyak lahan parkir,” kata William.

Lokasi parkir yang harus diperbanyak, kata William, adalah yang terletak di luar pusat kota dengan memungkinkan integrasi dengan moda transportasi lainnya dengan MRT.

“Seiring dengan itu, di waktu tertentu pemerintah akan menaikkan harga parkir di dalam kota, sehingga di kawasan-kawasan luar pusat kota dikembangkan sebagai tempat parkir dengan maksud agar masyarakat berpindah ke transportasi publik,” katanya.

Saat ini, park and ride yang terakses ke Stasiun MRT (belum yang dikelola swasta) ada tiga, yakni di kawasan Stasiun Lebak Bulus, Stasiun Fatmawati dan di antara kedua stasiun itu (south quarter), dengan tarif rata-rata Rp5.000 untuk mobil, Rp2.000 untuk motor dan Rp1.000 untuk sepeda.

Untuk kapasitas, park and ride Lebak Bulus yang terletak di atas lahan Pemda dengan jarak sekitar 250 meter dari stasiun, mampu menampung1.200 motor dan 150 unit mobil.

Sementara park and ride South Quarter yang berjarak 900 meter dari Stasiun Fatmawati dan 2,4 kilometer dari Stasiun Lebak bulus ini, berkapasitas 60 mobil dan 30 motor dengan akses ke stasiun menggunakan bus pengumpan.

Adapun park and ride Fatmawati, mampu menampung 100 unit mobil dan belum ada ruang khusus untuk sepeda motor karena belum banyak pengguna sepeda motor yang menggunakan fasilitas itu.

“Namun jumlah ini kan terbatas, jadi perlu ada percepatan dan memperbanyak, saat ini sedang dicari area yang bisa dibuat, tidak harus memakai lahan pemerintah yang ada, kita juga mendorong teman-teman swasta yang punya bangunan dan lahan kosong, kami siap kerjasama untuk lahan itu dijadikan park and ride,” kata William.

Mulai Maret 2020, fase dua sepanjang 12 kilometer akan dibangun. Ada sekitar 10 stasiun yang dibangun di jalur Bundaran HI ke Ancol ini, yaitu Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, Kota Tua, Mangga Dua, Ancol dan Depo Ancol dengan perkiraan biaya sekitar Rp32 triliun lewat pendanaan dari pinjaman pemerintah Jepang. (Ant)

Lihat juga...