Empat Kasus Leptospirosis di Banyumas, Satu Meninggal Dunia

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PURWOKERTO – Selama dua bulan, Januari hingga minggu keempat bulan Februari ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banyumas menemukan 4 kasus leptospirosis. Dan dari empat penderita tersebut, satu orang meninggal dunia.

Kepala Dinkes Kabupaten Banyumas, Sadiyanto, mengatakan, berbagai upaya sudah dilakukan Dinkes Banyumas untuk melakukan pencegahan leptospirosis, termasuk menjalin kerjasama dengan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor Reservoar Penyakit Salatiga.

Kerja sama yang dilakukan tersebut diantaranya untuk penjaringan tikus dan mengetahui sejauh mana tikus sebagai faktor penular.

“Kerjasama tersebut kita lakukan di Desa Kemawi, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas yang diketahui banyak penderita leptospirosis. Selain itu, sosialisasi juga terus dilakukan agar warga menjaga kebersihan dan lingkungannya, terutama dari kotoran tikus,” kata Sadiyanto, Rabu (26/2/2020).

Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Banyumas, Dwi Mulyanto, mengatakan, empat kasus leptospirosis ini terjadi di Kecamatan Sumpiuh dua kasus, Kecamatan Ajibarang satu kasus dan Kecamatan Somagede satu kasus. Dan yang meninggal dunia adalah penderita di Kecamatan Somagede, tepatnya di Desa Kemawi.

“Tiga pasien leptospirosis lainnya, sudah membaik setelah mendapat perawatan medis, namun yang di Desa Kemawi tidak tertolong,” terangnya.

Lebih lanjut Dwi Mulyanto menjelaskan, pada tahun sebelumnya, angka penderita leptospirosis di Kabupaten Banyumas memang cukup tinggi, yaitu mencapai 150 kasus dan 4 penderita meninggal dunia.

Karenanya saat leptospirosis mulai merebak pada awal tahun ini, pihaknya langsung menghubungi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor Reservoar Penyakit Salatiga untuk dilakukan pengambilan sampel tikus di Desa Kemawi.

“Bakteri leptospira terdapat pada urine tikus dan penularannya bisa melalui kontak langsung dengan urine hewan yang terinfeksi atau melalui air, tanah, serta makanan yang terkontaminasi urine tikus. Sehingga kita meminta untuk diambil sampel guna diteliti lebih lanjut,” kata Dwi Mulyanto.

Tikus yang diambil sampelnya adalah tikus yang berkeliaran di rumah-rumah warga, serta yang ada di kebun dan lingkungan sekitarnya.

Dwi menjelaskan, penderita leptospirosis bisa dikenali dengan gejala suhu tubuh naik, serta mata kekuningan. Jika ada yang mengalami gejala tersebut, diimbau untuk segera berobat ke dokter.

Untuk mencegah penularan leptospirosis, masyarakat diminta waspada terhadap hewan yang bisa menjadi media penyebaran leptospirosis, antara lain tikus, kucing dan anjing.

Lihat juga...