Gagal Panen, Petani Jagung di Sikka Minta Bantuan Beras

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Dampak tanaman jagung yang mengalami gagal panen, para petani di desa Habi dan beberapa desa lainnya di kecamatan Kangae maupun kecamatan lainnya di kabupaten Sikka, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), berharap agar pemerintah memberi bantuan kepada petani.

Petani mengharapkan agar pemerintah kabupaten Sikka segera memberikan bantuan beras rawan pangan karena sudah dipastikan akibat mengalami gagal panen jagung, petani bisa terancam mengalami kelaparan karena stok pangan tidak tersedia.

“Kalau bisa pemerintah segera mendistribusikan bantuan beras rawan pangan kepada para petani jagung yang mengalami gagal panen. Stok jagung di petani sudah tidak tersedia karena hanya mengharapkan hasil panen jagung saja,” ungkap Florida Nona, petani jagung di desa Habi, kecamatan Kangae, kabupaten Sikka provinsi NTT, Jumat (21/2/2020).

Lahan jagung di desa Habi, kecamatan kangae, kabupaten Sikka, provinsi NTT yang mulai layu dan bisa dipastikan mengalami gagal panen saat disaksikan, Jumat (21/2/2020). Foto: Ebed de Rosary

Florida menyebutkan, meskipun ada bantuan benih kacang tanah dan kacang hijau namun petani juga belum tentu menanamnya karena takut setelah ditanam hujan tak kunjung turun sehingga tanaman tersebut nasibnya sama dengan jagung.

Dirinya meminta agar Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dari Dinas Pertanian serta pemerintah desa dan kecamatan segera turun dan melakukan pendataan terhadap luas lahan petani jagung yang mengalami gagal panen.

“Sampai sekarang pun PPL dari Dinas Pertanian juga belum turun untuk mendata luas lahan jagung di wilayah kami yang bisa dipastikan akan mengalami gagal panen. Meskipun mendung tapi hujan tak kunjung turun,” ujarnya.

Sementara itu, Anyela Nona Lis, ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Habi, kecamatan Kangae, mengakui, saat Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) di kecamatan, banyak warga yang mengusulkan agar segera dibagikan beras rawan pangan.

Permintaan beras rawan pangan tersebut kata Anyela, dikarenakan tanaman jagung milik sebagian besar petani di kecamatan Kangae pasti akan mengalami gagal panen karena hujan pun sudah tidak turun lagi.

“Saya saja 3 petak lahan jagung saya semuanya mengalami gagal panen karena sudah layu dan terserang hama ulat Grayak. Meskipun dibagikan tanaman kacang-kacangan namun kalau tidak ada hujan maka percuma saja,” ujarnya.

Menurut Anyella, untuk desa Habi sendiri memang sudah dianggarkan untuk membantu warga yang lanjut usia dengan beras rawan pangan namun masih menunggu penetapan APBDes Habi.

“Bisa lihat sendiri saja bagaimana kondisi tanaman jagung petani. Hampir semua tanaman jagungnya sudah tidak bisa diselamatkan meskipun hujan turun lebat karena sudah kering dan berbunga lebih awal,” tuturnya.

Pantauan Cendana News di beberapa desa seperti Watuliwung, Habi dan Langir hampir mendekati seratus persen lahan jagungnya sudah mulai layu bahkan mati akibat panas.

Bahkan jagung yang diperkirakan baru berumur sebulan saja sudah berbunga, padahal tidak ada tongkol jagungnya terutama jagung bibit lokal dan jenis Hibrida yang selama ini selalu jadi andalan petani.

Lihat juga...