H(ART)BOUR Festival Tampilkan Kompilasi Film Pendek

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Gelaran H(ART)BOUR Festival 2020 menyajikan pemutaran film kompilasi film pendek. Sebuah film berjudul Lahir di Darat, Besar di Laut karya Steven Vicky Sumbodo menjadi pembuka saat diputar pada lantai atas Terminal Eksekutif Anjungan Agung, Bakauheni, Lampung Selatan.

Olopolo atau Ikesh, seniman dan juga desainer pameran menyebut pemutaran film pendek merupakan rangkaian Memory Harbour yang digelar PT ASDP Indonesia Ferry (Persero).

Olopolo atau Ikesh, salah satu seniman pencipta karya Ginkgo Jellyfish Mushroom sekaligus desainer pameran acara H(ART)BOUR Festival saat ditemui Cendana News di Terminal Eksekutif Anjungan Agung Bakauheni, Lampung Selatan, Senin (17/2/2020) – Foto: Henk Widi

Pemutaran kompilasi film pendek Vidsee merupakan sajian untuk penonton yang ingin menikmati hiburan di lantai atas terminal eksekutif Anjungan Agung, Bakauheni.

Sejumlah film yang durasinya mulai dari 5 menit hingga 27 menit bisa dinikmati oleh penumpang kapal eksekutif yang akan naik kapal sembari menunggu jadwal berlayar. Hiburan film pendek juga bisa dinikmati masyarakat di sekitar Bakauheni yang ingin menikmati hiburan.

Pembuka kompilasi film pendek Viddsee karya Steven Vicky Sumbodo memiliki durasi 18 menit. Film tersebut mengisahkan Raiman kapten kapal nelayan Sami Asih.

Pada film digambarkan cuaca Indonesia yang tidak pasti membuat bisnis perikanan menjadi sesuatu yang berisiko. Raiman tidak dapat bekerja di darat karena tidak terlalu lama hidup di laut.

Film dokumenter kompilasi film pendek ‘Viddsee’ karya Steven Vicky Sumbodo berjudul ‘Lahir di Darat Besar di Laut’ yang diputar di terminal eksekutif Anjungan Agung Bakauheni, Lampung Selatan, Senin (17/2/2020) – Foto: Henk Widi

Film pendek itu menggambarkan suka duka nelayan di perairan laut Jawa. Raiman dan banyak nelayan lain dari Indramayu bekerja keras di lautan seolah-olah mereka lupa daratan.

Nelayan yang kini bekerja di Muara Angke Jakarta itu menjadi kisah kehidupan nelayan yang mendapat hasil tangkapan tidak menentu. Selain film itu sejumlah karya film pendek bisa dinikmati.

“Pemutaran kompilasi film pendek sudah berlangsung sejak tiga hari lalu dan malam ini merupakan malam terakhir penonton bisa menonton sebanyak enam film di lantai atas terminal eksekutif Anjungan Agung Bakauheni,” terang Ikesh saat dikonfirmasi Cendana News, Senim malam (17/2/2020).

Selain film berjudul Lahir di Darat dan Besar di Laut sejumlah film pendek lain juga diputar. Film berdurasi 12 menit berjudul Kadal (Laut) asal Singapura karya Parthiban Mayalagan, film Errorist Of Seasons karya Rein Maychaelson berdurasi 27 menit, dua film animasi yakni Film The Blanket karya Puttsarapon Tamphanon asal Thailand berdurasi 12 menit, film Molly asal Singapura karya Muhammad Arfandi dan kawan-kawannya berdurasi 5 menit.

Kompilasi film pendek Viddsee ditutup dengan karya Tengku Iskhandar asal Indonesia berdurasi 23 menit. Film Indonesia tersebut mengisahkan sebuah keluarga melakukan perjalanan dan berbagai percakapan di dalam mobil mewarnai perjalanan mereka. Penonton bisa menikmati Harbour Cinema tersebut sembari duduk di kursi hasil karya seni Csutoras dan Liando.

Ikesh menyebut pemutaran film pendek menjadi bagian dari H(ART)BOUR Festival yang dimulai sejak 21 Desember 2019  akan berakhir 21 Februari 2020 mendatang.

Namun Ikesh menyebut sejumlah karya seniman masih bisa dinikmati di Terminal Eksekutif Anjungan Agung Bakauheni dan Terminal Eksekutif Sosoro,Merak. Sejumlah karya menurutnya bahkan akan dipajang sebagai hiasan di terminal eksekutif.

“Sejumlah karya seni yang masih bisa dinikmati berupa mural, lukisan sehingga pengunjung dan masyarakat yang belum menikmati bisa melihat,” ungkap Ikesh.

Ikesh atau Olopolo sendiri merupakan seniman lulusan Universitas Negeri Jakarta jurusan seni rupa. Salah satu karya yang dipajang di Terminal Eksekutif Anjungan Agung Bakauheni adalah Ginkgo Jellyfish Mushroom. Salah satu karya unik yang ada di dalam ruangan bertirai hitam itu menyajikan lukisan ubur-ubur warna warni yang menyala.

Ikesh menyebut karya media campuran berukuran 4 m x 2 m tersebut bisa dinikmati sebelum penumpang naik kapal. Karya seninya berupa ubur-ubur atau jellyfish berenang di lautan manapun dengan bentuk unik yang dianggap indah oleh banyak orang. Dipersonifikasikan sebagai sebuah keluarga jellyfish sudah ada dari sejak dulu.

“Aku adalah makhluk purba nenek moyangku mengarungi bumi semenjak kamu belum ada, aku adalah Jellyfish memoriku sudah ada dari jaman purba,” terang Ikesh.

Ikesh menyebut ubur-ubur tidak sendiri karena ada ginkgo dan mushroom yang juga sudah hidup di bumi semenjak para manusia belum hadir. Memori ginkgo dam mushroom adalah memori ratusan generasi sebelumnya.

Selain karya Ikesh sejumlah karya yang bisa ditemui di Bakauheni adalah mural karya Ruth Marbun berjudul Jangan Repot Repot, mural karya Serrum berjudul Gerbang Peradaban,Facing The Future Karya Wild Drawing (WD), Cetak Kanvas Ilustrasi kalender ASDP 2020 karya Yosia Raduck dan Piil Pesenggiri karya Ziggy.

Syaifullail Maslul, Humas PT ASDP Indonesia Ferry cabang Bakauheni menyebut H(ART)BOUR Festival diminati. Sebab sejumlah masyarakat melihat sejumlah karya dan memanfaatkan media sosial untuk mengunggah foto di setiap karya.

Adanya hiburan karya seni disebutnya bahkan ditambah sajian film pendek yang berakhir (17/2) malam. Meski demikian sejumlah karya seni akan bisa dinikmati hingga (21/2) mendatang.

Lihat juga...