Imobilisasi, Penanganan Pertama Korban Gigitan Ular Berbisa

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Kasus kematian gigitan ular berbisa di Indonesia masih sangat tinggi. Adapun cara penanganan pertama yakni lakukan imobilisasi, baru kemudian dengan pengobatan medis. 

Dr. dr. Tri Maharani M.Si, ahli bidang biomedis dan imunologi, mengatakan, di Indonesia terdapat 77 jenis ular berbisa yang gigitannya dapat membahayakan manusia apabila tidak segera ditangani dengan benar dan tepat.

“Ada 77 jenis ular berbisa di Indonesia, ini angka yang sangat besar. Sedangkan Taiwan cuma 6 spesies ular berbisa. Dan kita punya banyak masalah kasus gigitan ular,” kata Tri saat menjadi pembicara pada sosialisasi penanganan gigitan ular berbisa di Sasana Adirasa Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Rabu (12/2/2020).

Menurutnya, kasus gigitan ular berbisa puluhan tahun  terjadi di Indonesia, berada dalam kesalahannya berjamaah dimana masyarakat terbius dengan suguhan mitos dan mistik.

Seperti pendapat yang menyarankan  kalau digigit ular itu disedot bisanya, diikat yang kena gigitannya. Atau dikeluarkan darahnya, diminumi obat herbal, bahkan dengan cara tradisional ditempeli batu hitam.

“Puluhan tahun kita berada dalam kesalahan berjamaah yang sama. Kita terbius film Suzanna, hal mistik dan mitos dibandingkan medis. Yang terselamatkan gigitan ular berbisa jadi kecil,” ujar Tri.

Kasus gigitan ular  di Indonesia, sepanjang 2018 tercatat 135 ribu. Sedangkan kasus kematian gigitan ular sepanjang tahun 2019 adalah sebanyak 54 orang.

“Ya banyak orang bilang kecil, belum 100 kasus kematian. Tapi di Taiwan selama 20 tahun itu ada 125 kasus gigitan ular,  dan tidak ada yang meninggal,” tukasnya.

Penanganan pertama jika digigit ular biasa menurutnya, hal terpenting yang harus dilakukan adalah imobilisasi atau mencegah bagian tubuh yang terkena gigitan untuk tidak bergerak.

Misal yang terkena gigitan ular adalah ujung jari tangan, imobilisasi dilakukan pada ujung jari hingga sendi tangan yang tak bergerak dengan menggunakan kayu, lalu diikat tali atau serebet atau jilbab.

Jika kepala yang terkena gigitan, bisa diimobilisasi dengan menempatkan sesuatu benda di leher si korban. Atau jika kaki yang terkena gigitan, lakukan imobilisasi pada ujung kaki hingga pangkal sendi yang tidak bergerak dengan menggunakan kayu dan lalu diikat.

Lebih bagus lagi saat imobilisasi, pasien dalam keadaan tertidur di tandu. Tujuannya agar otot kaki tidak bergerak.

“Kalau tidak ada kayu, bisa gunakan gedebong pisang, dan kain untuk membuat tangan atau kaki tidak bergerak. Tangan bisa digendong seperti patah tulang. Karena prinsipnya  tidak bergerak,” ujarnya.

Karena menurutnya, kontraksi  otot-otot akan membuat kelenjar getah benih mengranasikan isinya ke seluruh tubuh.  Apalagi selama ini masyarakat mempunyai pemahaman keliru kalau bisa ular itu masuk ke tubuh manusia melalui pembuluh darah.

“Yang benar itu bisa ular masuk ke tubuh kita lewat kelenjar getah bening. Sehingga kalau kita lakukan pananganan awal disedot, diikat, dikeluarin darahnya, diminumin obat herbal, itu salah,” ujarnya.

Melalui kelenjar getah bening, maka granasi bisa menyebar ke seluruh tubuh dengan jalan otot yang membuat atraksi.

“Karena kelenjar getah bening itu sebuah pembuluh yang tidak bergerak beda dengan  pembuluh darah atau alteri pena,” imbuhnya.

Untuk menghambat laju bisa karena gigitan ular berbisa semakin cepat penanganannya semakin bagus, yakni pertama dengan imobilisasi. Kemudian  korban segera dibawa ke rumah sakit untuk pengobatan medis dengan pemberian antibisa.

Dalam penanganan gigitan ular berbisa,  tidak disarankan diisap dengan mulut. Seperti ular kobra, sifatnya tidak hanya neurotoxin tapi juga haemotoxin yang dapat menyerang darah.

Karena menurutnya, jika di dalam mulut terdapat luka, misalnya gusi, ini akan berdampak lebih parah karena sama saja dengan memindahkan bisa ular ke dalam tubuh.

Karena akan berdampak lebih cepat menyerang tubuh mengingat mulut dan otak orang yang mengisap bisa ular tersebut sangat berdekatan.

“Pendapat  kalau digigit ular berbisa harus ditorehkan, diisap, diikat, dikeluarkan darahnya, itu sudah tidak direkomendasi oleh WHO (World Health Organization). Yang dianjurkan adalah imobilisasi,” pungkasnya.

Lihat juga...