Inilah Heboh Perlakuan Kasar Siswa Seminari di Maumere

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Sejumlah siswa kelas VII SMP Seminari Bunda Segala Bangsa Maumere, kabupaten Sikka, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (19/2/2020) dipaksa makan kotoran manusia atau feses dan membuat heboh dunia pendidikan.

Kejadian yang dilakukan oleh dua siswa kelas XII SMA Seminari Bunda Segala Bangsa yang juga berada dalam kompleks yang sama, mendapat tanggapan beragam termasuk orang tua murid.

“Saya tanyakan anak saya tentang kejadiannya. Anak saya mengatakan saat kotoran manusia yang ditaruh di sendok tersebut disodorkan dia lompat dan mau lari sehingga kena di bibir,” terang Stefanus, orang tua murid kelas VII SMP Seminari Bunda Segala Bangsa Maumere, kabupaten Sikka, provinsi NTT, Rabu (26/2/2020).

Stefanus katakan, anaknya bernama Mario Panda berceritera saat disodorkan feses di sendok, dia merasa jijik dan malu serta langsung lari sehingga kotoran tersebut hanya kena di bibir saja.

Kemarin Selasa (25/2/2020) malam, dirinya pun menelpon saudaranya yang anaknya juga bersekolah di tempat ini dan saudaranya pun mengatakan anaknya juga mengalami hal yang sama dan hanya kena di bibir saja.

“Bapak asrama di sekolah ini kurang melakukan kontrol. Saya akan menanyakan anak saya apakah masih mau bersekolah di tempat ini atau tidak dan semua keputusan itu tergantung kepadanya,” tuturnya.

Stefanus mengakui, hari ini Rabu (26/2/2020) dirinya juga tidak sempat bertemu dengan sang anak sehingga belum bisa menanyakan apa keinginannya tersebut, apakah masih mau bersekolah di sekolah ini.

Dia menegaskan, sikap para orang tua murid sesuai dengan rapat kemarin, Selasa (26/2/2020) antara orangtua murid dengan pihak sekolah telah memutuskan bahwa kedua pelaku dikeluarkan dari sekolah.

“Kalau tidak dikeluarkan dari sekolah maka kami para orang tua murid yang anaknya menjadi korban akan mengambil sikap. Kami akan bertemu dan membahas langkah selanjutnya bila keputusan berubah,” tegasnya.

Pimpinan Seminari Bunda Segala Bangsa, RM. Deodatus Du’u, yang ditanya Cendana News mengatakan, tidak benar para siswa dipaksa makan feses tetapi yang benar kakak kelas mengambil sendok dan meletakkan feses di sendok.

Pimpinan Seminari Bunda Segala Bangsa Maumere, kabupaten Sikka, provinsi NTT, RM. Deodatus Du’u yang ditemui di sekolahnya, Rabu (26/2/2020). Foto: Ebed de Rosary

Siswa kelas XII ini pun kata Deodatus, mengancam siapa yang tidak mengakui kotoran ini miliknya maka akan disentuh dengan kotoran manusia tersebut.

“Kalau dimasukkan ke dalam mulut, itu tidak benar. Ini menurut pengakuan anak murid dan bapak asrama yang telah mengecek kepada anak tersebut,” tuturnya.

Deodatus menjelaskan kronologi kejadian dimana menurutnya, saat kakak kelas yang bertugas membersihkan lemari sedang bertugas, dirinya menemukan di salah satu lemari milik siswa bernama Delon ada kotoran manusia.

Feses tersebut terangnya, disimpan di dalam kantong plastik dan saat ditanyakan anak tersebut langsung lari sehingga tidak sempat dikonfirmasi dan Delon ini merupakan siswa kelas VII.

“Tidak benar seperti dikatakan jumlah muridnya sebanyak 77 orang yang dipaksa makan kotoran manusia tersebut. Tidak benar anak-anak sempat muntah ketika dipaksa makan kotoran manusia,” bantahnya.

Deodatus menambahkan, kejadian tersebut berlangsung sekitar pukul 14.20 WITA hingga pukul 15.00 WITA dan setelah kejadian tersebut semua murid berolahraga di lingkungan sekolah.

Sementara itu, buntut dari kejadian ini membuat pelaku dikenai sanksi.

Siswi kelas XII tersebut akhirnya dirumahkan untuk sementara waktu oleh pihak sekolah namun dirinya tetap bisa mengikuti try out dan Ujian Nasional mengingat waktu pelaksanaan ujian sudah dekat.

“Siswa tersebut tetap ikut try out atau ujian nasional tapi untuk sementara dirumahkan karena itu permintaan dari orang tua wali murid dan bagian dari pembinaan,” tegas pimpinan Seminari Bunda Segala Bangsa Maumere, kabupaten Sikka, provinsi NTT, Deodatus Du’u.

Deodatus kepada Cendana News menegaskan bahwa perbuatan yang dilakukan kakak kelas terhadap adik kelasnya itu tidak dibenarkan, dan sangat tidak berperikemanusiaan serta tidak ada aturan di sekolah ini untuk melakukan hal seperti itu.

Kedua anak yang melakukan kejadian tersebut jelasnya, untuk sementara dirumahkan sejak hari ini, Rabu (26/2/2020) dimana seharusnya kemarin, Selasa (25/2/2020) tetapi orang tuanya belum datang menjemput sehingga baru tadi anak tersebut dijemput orang tuanya.

Jumlah murid SMP di Seminari Bunda Segala Bangsa, terang Deodatus, sebanyak 217 siswa SMP sementara siswa SMA sebanyak 215 orang di awal tahun pelajaran. Tetapi sekarang karena ada yang mengundurkan diri maka jumlahnya sekitar 300 siswa lebih.

Sementara itu, Sirilus, salah seorang orang tua murid kelas VII mengaku, anaknya memang mengakui benar ada kejadian mengenai siswa kelas XII yang meletakkan feses di sendok dan menempelkan ke mulut para murid kelas VII.

Lihat juga...